-->

Berita, Artikel, Cerpen, Cerita Rakyat, Horor, Budaya Papua, Religi, Book Bacaan, Biografi

Motivasi Menulis

Kohei Daba Tuhannya Suku Mee

 

Foto : Budaya Mee

Alkisah, di daerah pedalaman Nabire Provinsi Papua Tengah, tepatnya daerah Makewapa, atau Bomomani, hiduplah satu keluarga yang miskin.

 Mereka tidak memiliki makanan dan harta benda. Keluarga itu bernama Kibiuwo. Keluarga Kibiuwo terdiri atas lima orang, yaitu Ibu Kibiuwo, nama pertama Neneidaba, anak kedua Noku, dan anak ketiga Yegaku.

 Anak pertama dan kedua adalah laki-laki, sedangkan yang ketiga adalah anak perempuan. Nama ayahnya tidak pernah disebut sampai sekarang (masih dirahasiakan).

 Mereka tidak memiliki nuta (ubi jalar), nomo (talas), ugubo (sayur hitam), mege dan dedege (mata uang adat suku Mee), ekina (ternak babi), dan tidak ada harta benda lainnya. Saat itu, makanan yang ada hanyalah nuta (ubi jalar) jenis kadaka dan ugubo (sayur hitam). Saat itu, musim kelaparan dan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Tanaman nuta (ubi jalar), nomo (talas), boho (sayur gedi), eto (tebu) dan lainnya terbatas.

 Keluarga Kibiuwo duduk dalam rumah dan berbincang-bincang tentang bagaimana mengatasi kelaparan yang menimpa mereka. Tiba-tiba, Ibu Kibiuwo merasa ingin buang air kecil. Ia segera berlari ke belakang rumah dan secara tiba-tiba melepaskan air kemihnya. Dilihatnya, air kemih itu berwarna merah. Ternyata ia melepaskan air kemih dalam bentuk darah, tepat di atas rerumputan yang rendah.

 Dengan perasaan takut dan heran, Ibu Kibiuwo masuk ke rumah tanpa bersuara dan berkomentar. Ia terus bertanya-tanya dan merenungkan dalam hatinya, mengapa air kemihnya berdarah? Ia benar-benar bingung karena selama hidupnya belum pernah terjadi hal seperti itu. Baru pertama kali terjadi seperti itu.

 Mereka melanjutkan perbincangan untuk mencari cara dalam mengatasi kelaparan yang sedang dan akan menimpa keluarga mereka. Ibu Kibiuwo tidak menceritakan kejadian yang menimpa dirinya ketika buang air kecil di luar. Tiba-tiba perbincangan mereka terputus oleh suara tangisan bayi.

 Suara tangisan itu semakin keras, seakan meminta bantuan orang. Mendengar tangisan bayi itu, mereka segera berdiri dan keluar dari rumah untuk mencari tahu dari arah mana bayi itu menangis. Mereka berdiri di halaman rumah dan memperhatikan sekelilingnya.

Suara tangisan semakin mendekat, tetapi mereka tidak menemukan ibu yang menggendongnya atau ibu yang sedang melahirkan di sekitar rumah mereka. Mereka terus memantau di sekitar rumah untuk mencari perempuan yang duduk menyusui atau berdiri menggendong dan membujuknya. Tidak ada ibu yang melewati sekitar rumah mereka. Mereka terus melakukan pencarian. Tangisan terus menerus terdengar.

Dengan rasa ingin tahu, mereka pergi lebih jauh ke belakang, dan tangisan anak semakin keras dan semakin dekat. Tangisan bayi mengarah ke tempat di mana Kibiuwo membuang air kemih berdarah. Akhirnya, mereka menemukan seorang bayi lemah terbaring tepat di tempat Kibiuwo membuang air kemih. Mereka melihat bahwa air kemih yang berdarah itu sudah tidak ada lagi.

Melihat bayi yang tak berdaya itu, keluarga Kibiuwo merasa kasihan. Ibu Kibouwo mengambil bayi itu dan membawanya masuk ke dalam rumah, karena ia teringat kejadian yang menimpanya tadi. Ia merawat anak itu dengan senang hati, meskipun dalam keadaan sangat lapar. Bayi itu lahir dari keluarga yang miskin dan kesulitan makanan. Ibu Kibiuwo bertanya-tanya apakah anak ini lahir dari air kemihnya atau tidak.

Untuk memastikan hal itu, ia meminta anak-anaknya untuk pergi bertanya kepada warga setempat di sekeliling mereka. Warga sekitar heran mendengar cerita itu. Mereka justru bertanya siapa yang meletakkan bayi itu di dekat rumah keluarga miskin tersebut. Terutama karena di daerah itu tidak ada ibu hamil.

Baca Juga         : Anak-Dari-Seekor-Biyawak

Warga sekitar malah berdatangan ke rumah Ibu Kibiuwo untuk melihat bayi itu. Dengan begitu, Ibu Kibiuwo merasa yakin bahwa bayi itu berasal dari air kemihnya. Ia merasa bayi itu pembawa berkah bagi keluarganya. Namun, suaminya yang tidak disebutkan namanya itu merasa bahwa bayi itu adalah ayayoka yang berarti anak bayangan atau anak roh. Alasannya adalah karena anak itu tidak memiliki ayah dan ibu yang jelas. Lagi pula, Ibu Kibiuwo merahasiakan air kemihnya yang berdarah tersebut.

Suaminya berencana untuk membunuh bayi itu, tetapi Ibu Kibiuwo melarang keras untuk membunuh. Suaminya tetap ngotot untuk membunuh bayi lemah itu. Dia mengatakan bahwa ayayoka dapat membawa malapetaka bagi keluarga. Melihat niat suaminya, Ibu Kibiuwo memeluk dan terus membelai bayi tersebut. Melihat kasih sayang istrinya yang ditunjukkan melalui pelukan dan belaian, ia membatalkan niatnya untuk membunuh bayi itu.

Suaminya menganggap anak itu sebagai anaknya. Ia menamai anak itu sesuai pikirannya, yaitu “Ayayoka”. Hingga usia bayi itu enam bulan dia masih belum makan dan minum. Setiap kali Ibu Kibiuwo memberi makanan dan minuman ke dalam mulut bayi itu selalu dimuntahkan. Namun bayi itu sehat dan baik. Tidak pernah menangis untuk meminta makanan dan minuman. Ketiga anaknya (Neneidaba, Noku, dan Yegaku) melihat bayi itu sebagai adik mereka. Mereka sangat menyayanginya.

 Hari berlalu tahun berganti, anak itu tetap sehat dan baik. Melihat tubuhnya yang agak kecil, baik, sehat, dan berenergi, ayahnya memberi nama baru baginya, yaitu Koheidaba. Kohei (daba) berarti anak berbadan agak kecil, baik, tetapi sehat dan berenergi. Kohei menjadi nama yang dibanggakan ayahnya termasuk keluarga yang sederhana itu.

 Memasuki usia tujuh bulan, anak itu mulai menghasilkan melalui anusnya. Ia mengeluarkan makanan, harta, serta ternak. Semua makanan dan ternak yang dikeluarkannya masih dalam keadaan mentah dan hidup. Ia mengeluarkan ubi mentah, talas mentah, apu (jenis ubi jalar yang batangnya terikat pada pohon di sekitarnya), sayur hitam mentah, sayur lilin mentah, sayur gedi mentah, berbagai jenis tebu, berbagai jenis pisang, buah-buahan termasuk buah merah mentah dan sebagainya. Tujuan Kohei agar semuanya dapat diperbanyak.

 Berupa harta misalnya: mege (kulit kerang yang digunakan sebagai mata uang suku Mee); dedege (sejenis kulit kerang kecil berwarna putih untuk perhiasan leher), manik-manik biru tua yang digunakan sebagai perhiasan leher dan lain-lain.

 Sementara berupa ternak seperti: ekina (babi) yang masih hidup sebanyak dua ekor. Dua ekor babi itu pun berkembang dengan cepat, karena banyak makanan. Keluarga Kibiuwo menjadi keluarga yang sejahtera di daerah itu. Keluarga Kibiuwo tidak mengalami kelaparan lagi, kelahiran Kohei menjadi rezeki bagi kehidupan mereka. Setelah keluarga Kibiuwo sejahtera, penyebaran berita itu ke seluruh daerah. Melihat keluarga Kibiuwo yang sejahtera berkat kehadiran Kohei, muncul berbagai pendapat dalam masyarakat di daerah itu.

Ada yang bilang, Kohei hadir sebagai penyelamat dari krisis ekonomi; ada yang berpendapat Kohei sebagai pengumpul makanan, harta, dan hewan; ada juga yang percaya Kohei adalah perampas, pengumpul dan pembawa pergi kekayaan suku Mee, dan ada juga yang bilang Kohei hanya memperkayakan keluarganya sendiri oleh sebab itu dia harus diusir.

 Masyarakat daerah itu berpikir bahwa keluarga termiskin di daerah itu semakin kaya. Kecemburuan semakin meningkat. Masyarakat diam-diam sepakat untuk membunuh Kohei. Di saat yang sama, Ayah dan Ibu Kibiuwo mati secara bersamaan. Kohei menghibur ketiga saudaranya untuk tidak bersedih atas kepergian orang tua mereka. Namun mereka terus meratapi orang tua mereka. “Akan tiba hari yang indah ketika tidak ada orang kaya dan orang miskin. Semua orang akan hidup damai tanpa kekurangan apapun. Semua orang akan ditolong. Jangan tangisi mereka. Mereka akan hidup. ” Begitulah kata-kata Kohei menghibur.

 Sejak kepergian ayah dan ibunya, Kohei mengurus semua hal keluarga. Dia juga mengajari mereka tentang kehidupan yang indah tanpa permusuhan, tentang keadilan, tentang hak atas tanah dan lain-lain sambil bekerja untuk menciptakan makanan dan harta bagi mereka. Ketiga anak itu berkecukupan dan setara dengan masyarakat sekitarnya. Kesetaraan yang tiba-tiba berkat Kohei tidak diterima oleh masyarakat setempat. Mereka (masyarakat sekitarnya) terus membenci kehadiran Kohei.

 Kelompok masyarakat tertentu yang cemburu pada usaha Kohei mulai menyebarkan isu yang tidak benar. Mereka bilang, “Kita akan jadi miskin, tiga saudara ini akan menguasai kita. Mereka yang dulunya miskin kini mulai kaya. Dia (Kohei) hanya peduli pada keluarganya. ” Mereka menyebarkan isu itu ke seluruh masyarakat Mee.

 Mengamati isu yang berkembang itu, Kohei merasa perlu mengambil sebuah buku yang berisi seluruh adat istiadat, kebaikan dan kesempurnaan. Suatu hari dia mengutus Noneidaba dan Noku untuk pergi mengambil “gamakai mana kapoleise/ gamakai mana kapoleise” (sebuah buku tentang kehidupan, kebaikan dan kesempurnaan) yang ditulis Kohei. Hanya dia yang tahu tempat penyimpanan buku tersebut. Tidak ada orang yang mengetahuinya. Masyarakat sekitar tahu bahwa Noneidaba dan Noku sedang bepergian keluar dari daerah itu. Mereka tidak tahu untuk apa kedua pemuda itu pergi. Kesempatan itu benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat daerah itu untuk menyerang Kohei. Namun, dia berhasil melarikan diri ke arah Gunung Odiyai. Pengejaran berlanjut dari gunung ke gunung, terus berlari melewati kampung satu ke kampung lainnya, sungai-sungai besar di se beragi, bukit-bukit ditaklukkan.

 Pada suatu saat jumlah orang yang mengejarnya semakin banyak, dia semakin lelah. Panah yang ekor babi itu baik-baik, karena kamu akan diadili sesuai dengan perbuatanmu. ”

tertancap di lambungnya semakin membuat dia tidak bisa melarikan diri. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Kohei berkata:

 “Sesungguhnya saya memberi kalian makanan dan kekayaan, namun kamu tidak mengerti bahkan membunuhku. Karena itu sekarang kamu berusaha sendiri dengan susah payah. Rawatlah dua

 Akhirnya Kohei menghembuskan nafas terakhirnya. Ketika, Noneidaba dan Noku pulang membawa “gamakai mana kapoleise/ gamakai mana kapoleise” dari kejauhan terdengar tangisan adik Yegaku. Mereka berdua berlari masuk ke dalam rumah dan mendekati adiknya, ada apa dia meratap. “Adik…, itu adik… telah dikejar dan dibunuh semua orang di daerah ini. Dia sudah meninggal”, katanya sambil menangis. Mereka berdua masih bertanya-tanya mengapa adik mereka dibunuh. Sementara “gamakai mana kapoleise/ gamakai mana” masih belum diserahkan kepada Kohei untuk menjelaskan isi buku.

 Yegaku masih menangis. Ketika, dia ingin menjelaskan lebih lanjut tentang proses penyerangan dan pembunuhan, rumah mereka justru dikelilingi. Masyarakat sekitar sudah siap dengan panah untuk menyerang mereka berdua. Melihat kepungan itu, Noneidaba melarikan diri ke arah barat lalu berhasil melarikan diri ke dalam sebuah gua batu dan menghilang di situ.

 Pada saat yang sama, Noku melarikan diri ke arah timur. Namun sial, dia tertembak panah dan tidak bisa melarikan diri. Noku masih hidup tetapi dia menyerahkan diri untuk dibunuh sambil memegang erat-erat “gamakai mana kapoleise/ gamakai mana” di depannya. Dia membelakangi masyarakat (saat itu “gamakai mana kapoleise/ gamakai mana” ada di depan dia) dan pasrah untuk ditembak di punggungnya. Saat panah tertancap di punggungnya, Noku sempat berteriak dan mengatakan, “bunita manaido maa, peumanaido maa kiha dakati”.

dokegau ikepa kouha” (saya tinggalkan semua kegelapan dan kejahatan padamu). Lalu Noku berteriak histeris masuk ke dalam sebuah goa dengan membawa “lahmakai mana kapoleihe /lahmakai mana” lalu tembus ke daerah lain (dunia Barat).

 Semua orang yang mengejar dan membunuh Kohei dan Noku kembali ke rumah Kohei dan Noku. Di situ mereka memotong babi satu ekor dari dua ekor babi yang keluar dari anus-nya Kohei. Sementara, satu ekor babi berubah menjadi sebuah gunung dan kini dikenal dengan, “Gunung Duwanita”.

 Selanjutnya, mereka memotong kepala Kohei dan kulit perut babi, lalu menutup lubang gua bagian timur. Kemudian kepala babi dan perut Kohei menutup bagian barat. Sementara dagingnya mereka pesta bersama. Setelah semuanya berakhir, mereka pulang ke rumah masing-masing dengan teriakan kegembiraan (huuwaita), bergembira sambil berteriak-teriak.

 Segala rahasia Kohei tersirat dan tertulis dalam buku “lamakai mana kapoleise/lamakai mana”. Saat ini sedang dicari oleh sekelompok suku Mee yang menamakan dirinya, tota mana (kebiasaan turun temurun).


Oleh            : Ditome M

Anak Dari Seekor Biyawak

Foto Ditome M

Alkisah, di suatu daerah hiduplah seorang janda miskin, sebut saja namanya Mesina. Wanita itu tidak memilki siapa-siapa ia hidup hanya sebatang kara.

Di sekitar situ banyak sekali penduduk yang berdagang, jualan kayu, ikan, ubi jalar dan lainya. Pada suatu hari janda miskin itu pergi mencari kayu bakar di hutan untuk di jual ke pasar.

Ketika wanita itu tiba di hutan, langit mulai gelap gulita, sedikit lagi akan turun hujan. Wanita itu berlindung di bawah bandar kayu besar, butiran hujan pun turun, membasahi pepohonan di sekitar situ.

 

Di tengah hujan yang begitu besar, datang se-ekor biyawak berlindung di bawah bandar kayu itu juga, biyawak dan Mesina tidak terlalu jauh.

Wanita tua itu sangat ketakutan melihat biyawak yang semakin lama semakin mendekat padanya, wanita tua itu pisang tak menyadarkan diri.

 

Mesina tersadar ia sudah berada di dalam rumahnya, dalam hati, wanita tua itu bertanya-tanya,” bagaimana, saya bisa ada di rumah, pada hal saya tadi berada di tengah hutan, aa-aaa mungkin setelah saya pingsan pasti biyawak itu yang mengantar saya pulang, terlintas dalam pikirannya.

Satu bulan sudah setelah kejadian itu. Wanita tua itu telat datang bulan, dalam hati wanita tua itu bertanya-tanya apa kaa, saya ini hamil, tetapi tidak mungkin, soalnya saya belum berhubungan badan dengan siapa siapa.

 

Mesina pada bulan kedua belum juga datang bulan. Wanita itu berfikir, oooo ini pasti saya hamil. Delapan bulan sudah Mesina hamil besar.

Ketika memasuki bulan ke sembilan, mesina pun melahirkan, saat melahirkan tak ada satupun orang yang membantunya.

 Baca Juga        : telah-ingkari-janji

Ketika Mesina melihat apa yang telah ia lahirkan, ooo ternyata anak biyawak. Mesina membungkus anak biyawak itu dengan kain dan menaruhnya di atas tempat tidur. Mesina banyak berfikir, apa kaa biyawak ini saya harus buang atau tidak. Akhirnya Mesina memutuskan untuk memelihara anak biyawak itu, sampai besar.

 

Mesina banyak berfikir bagaimana saya bisa mendapatkan anak biyawak, Mesina teringat dengan kejadian di hutan pada saat mencari kayu bakar.

 

Biyawak itu ia merawatnya hingga telah memasuki umur tuju tahun. Biyawak itu berkata,” mama saya mau masuk sekolah, tidak bisa anak pasti kamu tidak akan di terima, soalnya kamu itu adalah biyawak, bukan manusia, balas ibunya.

Tidak mama saya pasti di terima, tolong mama antarkan saa ke sekolah, karena ke inginan biyawak untuk masuk sekolah, ibunya pun meng iya kan.

 

Hari itu Mesina dan biyawak tersebut pergi ke pasar untuk belanja pakian seragam SD. Dalam perjalanan ke pasar banyak sekali orang yang mengertawahkan anak biyawak tersebut,” sayang hiraukan perkataan mereka, kita jalan saja, kata ibunya.

Ketika sampai di pasar, Mesina membeli pakian SD buku pensil dan lainya. Ketika sampai di rumah Mesina banyak berfikir bagaimana keadaan anak saya ini, setelah saya mendaftarkan-nya di sekolah nanti. Jangan pikirkan saya mama, soalnya saya akan baik-baik saja, balas biyawak itu.

 

Pagi itu Mesina pergi ke sekolah untuk mendaftarkan nya. Ketika sampai di depan sekolah banyak sekali siswa siswi yang menatap ibu dan biyawak itu. Banyak sekali yang perhatikan kita mama kata biyawak itu,” hiraukan saja, balas ibunya.

Ketika sampai di dalam ruang kantor guru-guru itu bertanya,” mau daftarkan siapa,” saya mau daftarkan anak saya, biyawak ini, guru-guru di kantor itu tertawa, apa biyawak ini mau sekolah disini. Ibu itu membalas, anak saya ini bisa membaca dan menulis.

Biyawak itu di tes oleh guru-guru disitu. Panitian penerimaan siswa baru berkata,” anak ibu kami terima, besok sudah bisa sekolah. Mesina dan biyawak itu kembali kerumah, dengan gembira.

 

Keesokan paginya biyawak itu pergi ke sekolah. Ia tidak melewati jalan besar. Biyawak itu lewat selokan.

Naik kelas dua biyawak itu mendapat rengking satu, naik kelas tiga dapat rengking satu, sampai pada kelas enam biyawak itu mendapat lulusan terbaik.

 

SMP pun sama biyawak itu mendapat lulusan terbaik peringkat pertama. Kelas tiga biyawak itu mendapat lulusan terbaik.

 

SMA pun sama naik kelas sampai ujian akhir biyawak itu mendapat yang terbaik. Ketika mendaftar kuliah biyawak itu sudah besar.

Setelah empat tahun berlalu biyawak itu telah selesai dari jurusan HI dengan nilai yang sangat memuaskan.

 

Sore itu datang seorang petugas kerajaan menganterkan surat undang untuk ulan tahun raja. Pagi itu Mesina dan biyawak itu bersiap siap.

Acara di kerajaan itu sangat ramai dengan ribuan orang yang memenuhi ruangan itu. Mesina dan biyawak itu di panggil oleh raja untuk perkenalkan kepada keluarga kerajaan.

 

Mesina bercerita kepada raja,” bapak saya ingin meminta anak bapak untuk menjadikannya menantu ku, ooo boleh-boleh saja. Anak-anak saya ada dua belas orang semuanya cewek, saya akan menyuruh mereka untuk siapa yang bersedia menjadi menantu ibu, balas raja itu.

Anak raja, pertama masuk ke dalam ruangan, ayahnya bertanya apa kaa, kamu ingin menikah dengan biyawak ini, saya menolak lamaran ibu ini balas anak raja itu, ketiga pun menolak, seterusnya, sampai pada anak terakhir dari raja itu.

 

Raja bertanya apa kaa kamu akan menikah dengan biyawak ini, iya ayah saya terima lamaran-nya balas cewek itu.

Kamu sudah sah menjadi istri biyawak ini, sekarang juga kamu kemas barang-barang dan pergi mengikuti Mesina dan biyawak ini kerumah mereka.

Mereka bertiga pulang sampai di rumah. Ke esokan paginya biyawak itu pergi mandi di belakang rumah.

 

Mesina dan Wanita itu kaget oleh kedatangan seorang pria mudah dan gagah perkasa berdiri di depan pintu rumah.

Mesina bertanya ini dengan siapa. Saya biyawak itu balas pria tersebut. Mesina sangat bangga dengan perubahan wujud si peria itu. Biyawak dan wanita tersebut akhirnya di karuniai tiga orang anak.



    Oleh                : Ditome M

Telah Ingkari Janji

Ditome M

Alkisa, di suatu perkampungan hiduplah janda dan duda, sebut saja nama mereka, Yan dan Yolina. Kedua janda, duda itu sudah mempunyai anak. Yolina mempunyai anak perempuan sedangkan Yan mempunyai anak laki-laki. Anak janda,duda itu sudah di jodokan oleh Yan dan Yolina sejak mereka masih kecil. Hubungan baik antara janda duda itu sangat baik dan sangat erat, seakan kedua anak itu sudah hidup bersama-sama, atau dengan kata lain kawain.

Sudah dari kecil Yan dan Yolina sudah memyampaikan kepada anak anaknya, masing-masing kalau kalian berdua sudah kami jodohkan.

Bulan juni pendaftaran SD pun di buka. Ayah pilei dan ayah Makalei mendaftarkan ke duanya masuk SD kelas satu. Pilei dan Makalei duduk di meja yang sama. Kedua pasangan kekasih itu tak perna terlambat untuk datang ke sekolah. Ulangan sekolah pun tiba. Setelah mengikuti ulangan, ternyata Pilei mendapat rengkin satu dan Makalei mendapat rengkin dua.

Naik kelas dua Makalei mendapat rengkin satu sedangkan Pilei mendapat rengkin dua. Kedua pasangan itu bersaing sampai kelas enam. Ibu Makalei dan Pilei meninggal dunia kerena umur mereka yang sudah cukup tua. Makalei berkata kepada Pilei,” kamu harus melamjutkan sekolah saya akan berhenti untuk mencari uang, dengan cara jualan di pasar.

Apa bila kami berdua sekolah bersama-sama, siapa yang akan membiayaai. Ujian sekolah pun tiba. Pilei mengikuti ujian. Ternyata hasil yang keluar, Pilei mendapat lulusan terbaik nomor satu di daerah itu. Sedangkan makalei mendapat juara dua.

Pilei berkata,” saya akan melanjutkan sekolah kepada Makalei. Hari itu Pilei dan Makalei pergi untuk mendaftarkan SMP.

Semasa SMP Makalei yang biaya studinya Pilei. Ulangan SMP kelas satu Pilei mendapat rengkin satu, dua pun sama hingga, ujian sekolah pun pilei mendapat lulusan terbaik di daerah itu.

Seusai mendengar hasil lulsan SMP, Makalei dan Pilei duduk di dalam Labe Owaa (rumah adat suku Mee), Makalei bekata,” sekarang saya mau kita tinggal besama, di rumahku atau di rumah mu…? Pilei pun membalas dengan cepat,” tidak kita tinggal terpisah, itu lebih baik. Tanpa membahas panjang lebar Makalei pun mengiyakan perkataan Pilei.

Pilei melanjutkan sekolah SMA. Ulangan pun tibah, ketika mendengar hasil Pilei naik kelas dua, Pilei mendapat rengkin satu. Naik kelas tiga pun pilei mendapat juara satu kelas. Kepala sekolah dan guru-guru di sekolah itu selalu bercerita tantang kepintaran Pilei. Ujian sekolah pun tibah.

Pilei mengikuti ujian pada hari itu. Dalam pikiran pria itu,” saya pasti bisa mengejar cita-cita menjadi seorang maliner, hanya itu yang selalu memotivasi nya untuk terus belajar agar mendapat nilai yang terbaik. Ketika mendengar hasil Pilei mendapat lulusan terbaik di daerah itu. Kepala sekolah mengutus Pilei melanjutkan sekolah di Amerika melalui jalur behasiswa.

Hari itu Makalei dan Pilei menuju bandara. Pilei dan Makalei menangis di sepanjang perjalanan, dalam pikiran keduanya hanya ada,” sebenta lagi kita akan berpisa untuk beberapa tahun.

Ketika sampai di bandara Pilei dan Makalei masih saja terus menangis. Pilei berkata,” setelah saya kembali dari Amerika kita akan menikah, saya minta supaya kau menunggu, kedatangan saya kembali.

Pesawat terbang lending di bandara, Pilei berjalan menuju pesawat itu. Makalei merebakan badanya dan menangis histeris, melihat kepergian orang yang dia cintai.

Baca Juga : mama-punya-kampung-kecil

Makalei pulang sampai di Labe Owaa (rumah adat suku Mee). Makalei selama satu minggu tak perna keluar rumah, kesedihannya pun belum juga usai.

Satu tahun berlalu setelah kepergian Pilei. Banyak orang bercerita, kalau akan di adakan pertandingan bola Voli di daerah itu. Bayak orang berdatangan dari luar kampung, untuk mengikuti pertandingan bola voli. Hari itu Makalei sangat bosan di rumah. Makalei pergi hendak menonton pertandingan bola voli.

Ketika sampai disana Makalei melihat ada seorang lelaki yang melompat tinggi dan memukul bola voli, jatu tepat di bawah net. Pukulan pria itu tak ada yang mempu menghadangnya. Setiap hari Makalei selalu aktif dalam menonton pertandingan voli itu. Makelei semakin tertarik dengan lelaki yang jago bermain voli tersebut. Seusai bermain voli Makalei bertanya kepada pria jago itu,” nama kamu siapa, lelaki itupun membalas,” saya Kuleine.

Tanpa tunggu lama Makalei langsung masuk rumah dengan Kuleine. Makalei sudah melupakan janji Pilei. Makalei tertarik dengan cara Kuleine bermain voli.

Makalei sudah melupakan Pilei. Satu tahun sudah Makalei dan Kuleine bersama, sore itu Makalei berkata,” sepertinya saya hamil, kata wanita itu,” ooo bagus balas, Kuleine. Makalei berfikir tak ada sedikitpun rasa bahagian yang keluar dari mulut Kuleine.

Daerah itu datang kabar, kalau seorang maliner akan datang dari Amerika. Pada suatu hari tibah orang-orang dari kampong itu berramai-ramai untuk pergi menuju bandara untuk menunggu kedatangan maliner tersebut.

Hari itu Makalei sangat gelisa, pikirannya menjadi dua cabang, pergi tidak, pergi tidak,pergi tidak, akhirnya Makalei memutuskan untuk pergi melihat siapa yang akan datang.

Makalei berkata kepada suaminya,” saya akan pergi ke bandara, tolong jaga anak kita. Wanita itu berjalan kaki sampai di bandara.

Tak lama kemudia, pesawat besar lending di bandara itu, pesawat tersebut berwarna loreng. Pintu pesawat itupun terbuka, Makalei melihat siapa yang akan turun, tidak lain ia adalah Pilei. Orang-orang yang di lapangan itu datang untuk berjabak tangan kepada Pilei.

Ketika melihat Pilei berdiri di pintu keluar pesawat, Makalei teringat janji. Makalei masih berdiri di ujung lapangan itu.

Pilei berjabak tangan sampai di ujung, Makalei mendekat kepada Pilei dengan air mata di pipihnya, aroma anak menyesui sudah melekat di badang wanita itu,” saya minta supaya kamu menjauh dari saya, ternyata kau sudah melupakan janji yang dulu kita ikat bersama, tak ada balasan apa pun, Makalei hanya menangis menyesali apa yang telah terjadi.

Pilei,” tujuan saya kesini untuk membawa kamu ke Amerika tetapi kamu sudah dengan orang lain. Maliner itu berjalan pergi menuju pesawat loreng dan pergi, Makalei merebah kan badannya dan menanggis histeris. Menyesali perbuatan-nya sendiri.



Oleh                : Ditome M 

Mama Punya Kampung Kecil

Ditome M

Ke jadian ini terjadi di kampung Ukali Distik Dipa Kab Nabire, Provinsi Papua.

Alkisah, Di suatu perkampungan hiduplah empat orang bapak sebut saja nama ke empat bapak itu, Wisai Wude, yang sering di juluki sebagai setan laki-laki, Laku, Timou dan Pudu suma.

Ke empat bapak ini Labe Owaa (Rumah Adat Suku Mee) mereka tidak berjauhan. Siang itu ke empat bapak itu tidak melakukan apa-apa, mereka hanya berdiam di dalam Labe Owaa (Rumah Adat Suku Mee).

Ke empat bapak itu bercerita betapa hebatnya tanah ibu mereka. Mereka saling ber aduh mulut, tetapi dalam aduh bahasa Wisai Wude yang menang, ke tiga bapak itu tidak terima,” Wisai Wude kalau ko tidak pergi ambil anak setan yang di dalam tebing batu itu, ko punya, mama punya kampung kecil.

Kebiasaan suku Mee, apa bila sudah di sangkut pautkan dengan tanah mama, nyawa pun akan di korbankan demi menjaga tanah mama di kucilkan oleh orang lain.

Wisai Wude melangkah keluar rumah kemudia berkata,” kemu tiga tunggu di sini, jangan ada yang lari,” mari bawa datang kita tidak takut, balas seorang bapak dari dalam Labe Owaa (Rumah Adat Suku Mee) itu.

Baca Juga    : hidup-kembali

Tebing batu itu tidak jauh dari Labe Owaa (Rumah Adat Suku Mee) itu, ketika sampai di tempat itu, Wisai Wude masuk menghilang di dalam batu itu. Wisai Wude Melihat anak setan berada di atas batu besar sedangkan ibu dan ayahnnya sedang membakar jari-jari manusia, di balik batu besar itu.

Dengan perlahan bapak itu melangkah menuju anak setan tersebut, ketika mendekat Wisai Wude langsung membawa dan pergi keluar tebing batu itu.

Ketika sampai di luar bapak itu berjalan menuju ke-tiga temannya, sambil melemparkan anak setan itu masuk Labe Owaa (Rumah Adat Suku Mee) Wisai Wude berkata,” sebentar dia punya mama datang jadi kamu tiga tunggu saja.

Wisai Wude berjalan sembunyi di belakang rumah untuk melihat reaksi ke tiga temannya itu, tak lama kemudia suara teriakan dari dalam batu itu menggema di kampung itu, ke tiga bapak itu berfikir,” ooo ini pasti ibunya, ada yang bersembunyi di sudut rumah ada pula yang sembunyi di atas kido (tempat taru kayu bakar di dalam Labe Owaa).

Teriakan ke dua terdengar di luar tebing batu itu,” Eee Wisai Wude sa punya anak koo bawa kee mana. Teriakan ke tiga, di depan Labe Owaa (Rumah Adat Suku Mee),” Wisai Wude ko bawa sa punya anak keman, Wisai Wude mendengar tak ada suara yang keluar dari Labe Owaa (Rumah Adat Suku Mee) itu.

Wisai Wude berjalan ke dalam rumah untuk memberikan anak setan yang lagi terbaring di dalam Labe Owaa (Rumah Adat Suku Mee) itu, wanita setan itu menatap Wisai Wude dengan sangat ganas.

Tetapi setan itu tak bisa apa-apakan Wisai Wude kerena bapak ini juga di takuti oleh setan-setan yang ada di daerah itu.

Ketika sampai di dalam rumah itu Wisai Wude melempar anak setan itu keluar rumah sambil berkata,” eee ko punya anak ada ini, wanita setan itu langsung menangkapnya dan berjalan pergi ke dalam tebing batu itu.

 

 

Oleh                : Ditome M

 

Hidup Kembali Dari Liang Kubur

Ditome M

Alkisah, di suatu perkampungan hiduplah dua orang bapak yang sangat akrab. Sebut saja nama kedua bapak itu, Ideibai dan Wilei.

Pagi itu Ideibai dan Wilei pergi ke kebun, ketika sampai di mata jalan turun kebun, Ideibai berkata,” kalau kamu pulang lebih dulu, pata rangting kayu dan menarunya disini, apa bila saya pulang lebih dulah saya akan menaru rangting kayu disini. Kebiasan masyarakat Mee, apa bila ke hilangan jalan, sebagai penanda iya lah, ranting kayu yang di patah dengan tangan, itu sebagai penanda atau jalan pulang.

Ketika sore tiba kedua bapak itu bertemu di mata jalan. Ke dua bapak itu berjalan pulang ke rumah, ketika sampai di bukit,  ada seorang wanita yang berdiri di samping jalan mengunakan koba koba.

Wilei melihat wanita itu sedangkan Ideibai tidak melihatnya, dalam pemikiran Wilei, pasti Ideibai juga melihat wanita itu berdiri.

Ketika sampai di ujung kampung Wilei bertanya kepada Ideibai,” Eee  koo sudah lihat perempuan yang berdiri di jalan tadi kaa, sa belum lihat, di sebelah mana ka, tadi perempuan itu berdiri, balas Ideibai. Aaa sa cuma bercanda saja, balas Wilei.

Ketika sampai di kampung kedua bapak itu pulang ke rumah masing-masing. Wilei menaru semua barang bawannya di dalam Lebe Owaa (Rumah Adat Suku Mee) dan langsung duduk di samping tungku api.

Wilei malam itu mengigil, dalam pikiranya, aaa ini pasti sa masuk angin. Istrinya memberikan makanan kepada Wilei,” sayang ini, ko makan dulu, tetapi Wilei hanya menggelengkan kepalanya saja.

Setelah pagi tiba istri Wilei ingin memberikan ubi bakar. Istrinya melihat ternyat Wilei belum juga bangun dari tidurnya, tangan istri Wilei menggoncangan kan tubuh Wilei tetapi Wilei tidak juga bergerak, ketika wanita itu menaru tangan di hidung suamunya, ternyata Wilei sudah meninggal dunia.

Wanita itu manangis histeris hingga warga kampung berdatangan untuk melihat, tangisan wanita tua tersebut.

Baca Juga    Jadi-Santapan-Ular

Banyak orang yang berkumpul di rumah itu. Banyak orang yang menangisi, melihat keadaan Wilei yang sudah tidak bernyawa,” ooo bapa Wilei dia meninggal dunia, banyak orang bercerita.

Malam itu banyak sekali orang di rumah dukah, Ideibai ia terus menangis kepergian sahabatnya, kesedihan Ideibai belum juga terhenti, banyak orang yang berdatangan untuk meminta Ideibai agar berhenti menangis

Malam itu berlalu, ketika pagi tiba orang-orang di rumah duka itu bersiap untuk pergi memakamkan bapak Wilei.

Orang-orang itu membawa Wilei di atas para-para kayu buah dan sampai di bawah pohon beringin besar. Mereka mengangkat mayat Wilei sampai di cabang pohon beringin untuk di makamkan, disitu.

Semua orang berkumpul di bawah kayu itu untuk berdoa, sebagai sahabat Ideibai masih saja berdiri memegan anak panah di tangannya, di tenga orang-orang berdoa, bunyi lompatan terdengar di telinga semua orang yang berkerumun itu.

Semua orang membuka mata dan melihat ternyata Wilei berdiri di tenga-tengan mereka, semua orang lari ketakutan, hanya Ideibai yang berdiri menarik busur mengarah Wilei dan berkata,” koo sudah mati too, mati sudah, sambil ketakutan, Wilei mengankat dua tangan Wilei berkata,” sa belum mati balas Wilei.

Dengan perlahan Idebai mendekata Wilei, untuk memastika apaka Wilei berupa arwah atau manusia, ketika menyetunya, ternyata Wilei masih hidup.

Hari itu Idebai dan Wilei berjalan kaki, sampai di kampong,orang-orang di kampung itu ketakutan melihat kedatangan Wilei.

Dua hari kemudia Wilei meninggal kembali. Idebai dan orang di kampung itu kembali menguburnya di atas pohon beringin, bekas kuburannya sendiri.

 

Oleh                : Ditome M


Back To Top