-->

Berita, Artikel, Cerpen, Cerita Rakyat, Horor, Budaya Papua, Religi, Book Bacaan, Biografi

Motivasi Menulis

JALAN YANG LICIN

Foto/Ditome M

Kejadian ini saya alami sendiri pada Tanggal 30 September 2024. Saat ingin pulang ke Uwapa, kampung Topo Kabupaten Nabire Provinsi Papua Tengah.

Di dalam rumah kost kami duduk ber-empat, aku yang tengah santai bermain game Slot online di hapeku. Kakak penyewa kosan yang lagi serius dengan hapenya, ia duduk tepat di sebelahku. Kedua orang adik yang lagi menonton video, sembari sandar di din-ding rumah kosan.

Aku masih saja serius dengan henponeku. Tak lama kemudian aku melihat keluar, ke halaman depan kosan itu, ternyata sudah gelap. Saldo di game slot sudah tinggal Sembilan belas ribuh. Tak lama kemudian runkat.

Aku mencabut carjer hape ku, dan menyisinya di dalam noken. Aku langsung berpamitan,” kema sa jalan dulu, ooo iyo kosa, balas ke tiga pria itu. Aku berjalan keluar dari kosan itu, ketika sampai di depan.

Aku mencari-cari di mana kunci motorku. Ternyata kunci motor ada di dalam noken. Aku keluarkan kunci motorku dan membuka kontak. Ketika aku mengbunyikan motor ku, aku langsung keluar dari pagar kosan. Sampai di jalan raya.

Ada yang memanggil namaku sekilas, aku langsung memelankan motor dan ternyata ia adalah suami kakak ku, pria itu mendekat dan berkata,” ipar ada rokok ka.? aku langsung keluarkan sebungkus rokok dari dalam noken dan memberikan, kepadanya.

ipar ini tinggal satu batang,,? Tidak papa isap saja, balas ku. Ipar sa jalan dulu takut sebentar hujan besar lagi,…! ok siap ipar hati-hati di jalan. Aku langsung menancap gas. Di bawah hujan gerimis, jalan aspal yang sudah basa. Genangan air yang terisi di setiap lekukan aspal yang tidak rata.

Kiri-kanan jalan yang di tumbuhi pepohonan rindang, di bawahnya terdapat pemukiman warga. Tak lama aku melaju akhirnya aku sampai di perempatan jalan, Jalan jayanti dan sp, Yaro dan jalan menuju Papua barat.

Aku mengambil arah jalan menuju Distrik Uwapa. Ketika sampai di dekat hotel jepara dua, aku melihat ada dua orang teman yang lagi santai duduk tepat di depan kios. Aku langsung memelankan motorku dan bertanya,” baru kamu dua bikin apa, kita jalan sudah,,? Kita ada tunggu anak-anak yang dari belakang ini, balas sala satu teman ku.

Aku mematikan motorku dan duduk bersama kedua temanku itu. Kami duduk di depan kios sembari serius dengan henpone, kami masing-masing.

Hujan gerimis pun mulai mengecil,” kita jalan sudah ka,? kataku, sambil menatap kedua temanku, ok kita jalan sudah dari pada tunggu-tunggu dong, tidak tau ini. Kapan dong mau datang, lanjutku.

Sebut saja nama kedua temanku, Yon Pe dan Akan M. Kedua temanku itu hanya berkedara satu motor. Motor milik kawanku Yon pe, Kawasaki ninja. Temanku Akan M berkata,” sa ikut ko saja, soalnya motor sebelah ini terlalu tinggi, susa untuk saya naik?, Motor milikku adalah Bead Streep makanya temanku, memilih ikut bersamaku.

Kami berdua yang melaju lebih dulu, di bawah hujan gerimis. Di kiri kanan jalan terdapat rawa, ada pula bangunan ruko yang berdiri di sampaing jalan, tepat di atas rawah.

Pada saat ruko-ruko itu di bangun banyak memakan bahan timbunan. Timbunan tersebut bisa sampai dengan puluhan ret, agar bisa dapat menahan bangunan dari arus air pada saat hujan. Irigasi yang tidak mampun menampung debit air , kini air-air selokan merembes keluar dan berhamburan ke jalan serta menutupi badan jalan, sampai dengan enam pulu meter panjangnya. Untuk kedalamannya sekitar satu setenga meter.

Dengan perlahan kami bertiga melewati arus air tersebut. Ketika memasuki complex Suku Moni, kami memelankan motor. Takut menabrak sesuatu di jalan.

Ketika sampai di jembatan Wadio yang ke tiga, kami berhenti untuk memasang rokok. Kami pun melanjutkan perjalanan, menaiki tanjakan Wadio. Hujan gerimis yang samakin deras mengenai tubuh kami, aspal yang basa, embung yang keluar dari aspal membuat kabut hingga jalan dan kolam tidak terlihat dengan jelas.

Firasatku tidak enak, seakan ada yang berkata, jalan pelan-pelan. Kami bertiga pun jalan dengan santai. Hujan gerimis pun belum usai. Tidak jauh dari situ terdapat rumah dan kebun pemilik rumah itu.

Di depan sana terdapat tikunggan yang agak tajam. Di tikungan itu juga ada sorang pendeta yang perna kecelakaan dan meninggal dunia.

Ketika kami sampai di tikungan itu, ban belakang motor yang kami dua kenakan hampir saja terpeleset. Di dalam benakku muncul pertanyaan, ban yang botak ka, atau jalan yang licin ini.

Ketika sampai di pemancar aku melihat ke belakang ternya teman kami Yon Pen belum juga terlihat cahanya lampu motornya. Kami berdua memelankan motor dan memasang rokor sambil menungguh teman kami berdua Yon.

Baca Juga    : 24-desember

Tak lama kami berdua menungguYon pet pun  tiba. ,” tadi saya punya ban motor terpleset. Ban depan menghadapat ke Nabire, sedangkan ban belakang menghadap ke Topo, ucap teman kami Yon pet,” mungkin ban motor yang botak ka, tadi kita dua juga hampir saja jatu, sambil berucap aku turun dari motor dan memastikan kondisi banku. Ternyata ban motor baik-baik saja.

Yon pet berkata,”  ini sa punya motor ban belakang yang kempes,,? Ooo iyo, mungkin pengaruh ban itu.

Hujan gerimis terus berguyur membasahi dedaunan pohon rindang yang tumbuh di kiri kanan jalan. Kami bertiga melewati lereng gunung yang mendapat banyak julukan, Ekobai, Pintu Gerban atau Perbatasan suku Mee di gunung dengan, Buna di pantei. Di dalam pembagian tuju suku wilaya di Papua, Nabire Pantei masuk di Saileri, sedangkan Nabire gunung termasuk dalam Meepago.

Kata Ekobai sendiri berasar dari bahasa Mee, yang artinya” potong dia” Tikam dia”. Saya akan menjelaskan sedikit tentang sejarah kelam. Dulu wilayah Distrik Uwapa. Ekobai sampai dengan kali Bumi ini menjadi tanah rampasan oleh, orang gunung dan pantai.

Sampai saat ini, orang pantai masi mengangap perbatasan pantai dengan gunung jatu tepat di Kali Bumi. Tetapi Suku Mee berangap, perbatasan jatu tepat di gunung Ekobai.

Sesuai kesepakatan yang terjadi pada saat itu tahun 1985. Yang di saksikan oleh orang tua kepala suku Mee di gunung dan kepala Suku besar di pantai, ada beberapa masyarakat serta pemerintah. Menyaksikan kalau, untuk perbatasan, jatuh tepat di gunung Ekobai, untuk penanda sendiri batu pilar, di tanam tepat di bawah pohon beringin, yang sampai saat ini kita bisa lihat disamping jalan. Kalau dari Topo pehon beringin berada di sebelah kiri jalan, apa bila dari Nabire pohon beringin berada di sebela kanan.

Dengan perlahan kami melewati di bawah kaki gunung Ekobai. Ketika menaiki tanjakan Ekobai, ada sebuah mobil Hailux yang melintang di tenga jalan, saya hanya berfikir ini pasti mobil yang ingin kembali ke Nabire. Ketika sampai di gunung Ekobai bau solar mulai tercium, dari dalam aspal. Ternyata ada orang yang sengaja menumpahkan solar di aspal. Kerena terlalu licin kami bertiga dengan berhati-hati, kami pun sampai di tempat rata dimana batu piral itu di tanam, di bawah pohon beringin.

Kami bertiga dengan perlahan terus melaju, ketika sampai di turunan kali papaya. Turunan kali papaya sendiri turunan-nya agak curam.

Tidak jauh dari situ aku melihat ada mobil haliux yang stop di tanjakan, ketika mendekat aku melihat ternyata ia adalah Tidei dan pemilik mobil.” Eee kawan bagaimana mobil rusak ka,,,? Tidak tau ini saya coba tancap gas mobil tapi tidak mau naik, balasnya.

Pria itu turun dari mobil dan melihat kedua ban mobilnya,” tidak tau mungkin ban yang tidak mau putar ka,,,? Kawan jalan juga licin jadi ada yang segaja kasih tumpah solar jadi, cobo kawan pasang dobol baru naik, sabil berjalan naik di atas mobil pria itu berkat,,? Kawan coba lihat ban mobil putar ka tidak.

Aku melihat temanku Yon P yang jatu dengan motor di bawah sana dan ada dua mobil yang naik dari bawah hampir saja pria itu terlindas oleh mobil. Akan M yang lari pergi membantu yon untuk mengankat motornya.

Mobil haliux tersebut akhirnya sampai di gunung papaya. Dengan bantuan kedua kakiku aku meluncur pelang-pelang, menuruni tanjakan curam. Ketika sampai di tikungan, aku memarkirkan motorku ke aspal lama di samping jalan.

Ada lampu mobil yang terlihat dari bawah. Adoo dong jangan balap boleh, terfikir dalam benakku.

Mobil tersebut setelah mendekat kami bertiga berteriak,” jalan pelan pelan pelan, jalan licin, ada yang seganja kasih tumpah olih, teriak kami bertiga di dalam kegelapan malam.

Mobil hailux satu pintu melintang pas tepat di tikungan, banyak sekali orang yang melompat dari mobil tersebut, karena takut mobil tersebut masuk di jurang. Kalau dari kota Nabire menuju Distrik Uwapa jurang tersebut berada tepat di sebelah kiri. Jurang tersebut cukup jauh kedalaman-nya.

Banyak sekali Suku Dani yang di angkut oleh mobil tersebut. Menginggat peristiwa yang sudah terjadi di kampung Topo, pecah peperanggan antara Suku Dani dan Suku Mee, kerena sengketa tanah, aku memanggil sahabatku, Yon dan Akan untuk jalan lebih dulu.

Dengan bantua dua kaki kami berdua menuruni jalan aspal yang curam ketika sampai di tempat rata, kami berdua melihat keatas yon belum juga datang. Sembari membakar rokok kami berdua melihat ada lampu motor yang menyalah, kami berdua sudah bisa menebak kalau yang datang itu yon.

Teman ku Akan bergegas jalan kaki menaiki tanjakan untuk membantu Yon. Sampai di tengah tanjakan Akan menahan besih tempat duduk sedangkan Yon menurunkan kedua kakinya dan menuruni tanjakan tersebut dan sampai. Kita jalan, kataku sambil membunyikan motorku, teman ku Akan pun bergegas naik.

Dengan santai kami bertiga terus berkendara hingga sampai di bawah kaki gunung Topo Dini. Kami bertiga menaiki tanjakan tersebut, Yon sendiri sudah sampai di mata gunung sedangkan saya hampir saja mengapai puncak. Motorku sudah tidak mempuh untuk menancap, kerena jalan yang licin, apa bila aku paksakan, otomatis aku akan jatu.

Aku dan Akan mendorong motor hingga sampai di mata gunung Topo Dimi.

Sedikit pesan dari cerita ini.

Ini sedikit penyampain kepada pengendara motor maupun mobil yang sering turun naik. Apa bila hujan di jalan, jangan coba-coba untuk laju dengan kecepatan tinggi. Sebab ada orang yang ingin segaja mencelakakan kami, kuhsusnya OAP.

Saya mengajak kita OAP untuk saling membantu dan mengigatkan satu sama lain, itu yang utama. Kita sudah tinggal sendikit, mari tong baku jaga. Jangan sampai orang Papua tinggal cerita.

 

Oleh    : Ditome M

24 DESEMBER

Foto Ditome M

Di suatu perkampungan hidup seorang janda miskin yang tidak mempunyai siapa-siapa, ia hidup hanya sebatang kara.

Persiapa demi persiapa untuk bulan Desember, orang-orang di kampung itu turun naik, kota. Wanita tua itu iya hanya melihat, menyaksikan kesibukan mereka.

Wanita tua itu hanya berharap berkat atau uluran tangan orang, yang ber belas kasiang kepadanya.

Tanggal 20 Desember, tetangganya datang menggunakan mobil hailux, menurunkan beras veksin, garam dan bahan persiapan lainya.

Wanita tua itu iya hanya melirik tetangganya. Yang memasukkan barang-barang kedalam rumah. Wanita tua itu duduk di pojok rumah sembari memperhatikan mereka dalam diam.

Tak ada satupun orang di kampung itu yang menanyakan tentang persiapan-persiapan wanita tua itu, untuk bulan Desember.

Tak ada satupun orang yang datang menyayakan keadaan wanita tersebut.

Wanita tua itu iya hanya terpaku, mengingat, " apa bila ada keluarga ku di kampung ini, pastinya mereka perduli, kapada ku.

Baca Juga : arti kehadiran

Wanita tua itu terdiam, air matanya menetes keluar dari pupil mata. Bibirnya yang berjuntai, gemetar, wajahnya sudah keriputan sembari mengangkat tangan, menguzap air mata yang terus menetes dari matanya. Isak tangis wanita tua itu. Bertanda sudah tidak ada lagi orang baik di kampung ini.

Sore itu wanita tersebut telah menyiapkan daun alang-alang dan kayu busuk yang berada di samping rumahnya. Persiapan tersebut, entah lah tujuan wanita tua itu.

24 Desember malam wanita tua itu duduk di sudut rumahnya dan terpaku memandang ke langit. Bintang, bulan yang bersinar terang. Orang-orang di kampung itu sudah tertidur lelap. Mengingat besok, adalah hari besar agama Kristiani, dimana harus memberikan korban sembelihan kepada sang Kalik, pencipta jagat.

Pagipun tiba, banyak yang membunuh babi dan di perjual belikan kepada orang-orang di kampung itu. Wanita tersebut duduk di pojok rumahnya dimana iya sering duduk. Orang-orang yang lalu lalang di depan rumahnya sembari memikul babi di pundak mereka. Mereka yang lalu lalang tersebut, sudah melihat wanita tua itu. Wanita tersebut sudah dari tadi duduk di tempat yang sama, tetapi mereka hanya menghiraukan nya.

Tak lama wanita tua itu duduk, rumah tetangga dan rumah-rumah di sekitar situ, asap sudah menepul keluar. Harapan uluran tangan orang pun usai, wanita tua itu berdiri sambil menguzap air mata dengan jemarinya, masuk kedalam rumah.

Wanita tersebut meraih alang-alang dan menyalahkan serta menaru kayu busuk di atas tumpukan alang-alang yang lagi menyalah itu, dari bakarab tersebut agar bisa mengeluarkan asap yang banyak.

Tujuan wanita tua itu, dengan keluar nya asap yang banyak dari dalam rumahnya, agar mereka yang melihat, mengiranya lagi memasak sesuatu.

Siapapun yang tidak mempunyai belas kasihan kepada orang lain, tentunya tidak mengenal Tuhan Allah.

Oleh                            : Ditome M

ARTI KEHADIRAN

Ditome M

Ada seorang pria bernama Boti Tibo, yang akrab disapa BT oleh keluarganya. Dia memiliki wajah tampan, sikap baik, dan rendah hati. Karena ketampanannya, banyak wanita yang terpesona padanya. Selama masa kuliah, dia dikenal sebagai orang yang maksmal dalam belajar dan memiliki kecerdasan tinggi. Sayangnya, Boti sedikit pemalu, yang terkadang membuatnya kurang percaya diri.

Di kota yang sama, terdapat seorang wanita cantik bernama Junitha. Dia dikenal sebagai sosok yang ramah, sabar, dan juga sederhana. Junitha aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap orang lain. Selain itu, dia sangat menyukai bunga, dan rumahnya dipenuhi dengan koleksi bunga yang mengesankan. Dari depan sampai belakang, halaman rumahnya dihiasi banyak bunga, termasuk di dalam rumahnya.

Junitha Betler adalah teman kuliah Boti. Mereka sudah berkenalan sejak masa kuliah, belajar di universitas yang sama dan mengambil jurusan yang serupa. Kini, setelah lulus tiga tahun lalu, mereka keduanya telah memasuki dunia kerja. Junitha bekerja di sebuah bank swasta, sedangkan Boti menjabat sebagai CEO di perusahaan makanan kaleng.

Saat kuliah, Junitha menjadi sosok yang ditaksir banyak pria, termasuk Boti. Dia selalu menjadi pusat perhatian para lelaki di kampus. Namun, Junitha pintar menjaga jarak dan menempatkan dirinya dengan baik. Baginya, persahabatan lebih penting. Dia merasa lebih mudah menemukan teman ketimbang musuh.

Suatu ketika, BT merasa malu untuk mengungkapkan perasaannya kepada Junitha, sehingga setiap pagi, dia mengirimkan sebatang mawar merah untuk Junitha melalui seorang penjual bunga. Saat itu, keduanya masih lajang.

Atas saran BT, penjual bunga secara rutin mengantarkan mawar merah dan meletakkannya di depan pintu Junitha setiap pagi. Setiap kali, pengirimnya tidak dicantumkan nama Boti, hanya alamat sang penjual. Boti sengaja melakukan ini agar Junitha merasa penasaran.

Selama seminggu, Junitha mendapatkan bunga mawar merah setiap pagi. Dia tidak mengetahui dari mana asal bunga-bunga tersebut. Setiap kali bunga itu diletakkan di depan pintunya, rasa ingin tahunya semakin meningkat, dan dia mulai bertanya-tanya dalam hati siapa yang selalu memberinya mawar merah.

Karena rasa kepenasaran yang besar, ia pun menemui penjual bunga tersebut.

“Hey, apakah Anda yang mengantarkan bunga mawar merah ini untukku?”

“Ya, Nona, saya hanya mengantarkan bunga itu untuk Anda. ”.

“Siapakah yang selalu memberiku bunga mawar merah?” dia bertanya dengan rasa ingin tahu yang mendalam.

Baca Juga : Jalan Yang Licin

“Pak Boti yang meminta saya untuk memberikan bunga mawar kepada Nona. Dia tinggal di sana,” katanya sambil menunjuk ke arah tempat tinggal Boti.

“Ooww, berarti dia yang setiap pagi memberiku bunga mawar,” pikirnya dalam hati.

“Ya, saya mengenal dia. Dia adalah sahabat lama saya waktu kuliah. Saya akan pergi menemuinya dan menanyakan hal ini,” ujar penjual bunga.

Dia segera pergi menemui Boti. Saat itu, Boti sedang mencuci mobil kesayangannya di depan rumah.

Melihat Junitha datang sambil memegang bunga mawar di tangan kanan, Boti tampak bingung dan sedikit gugup. Dia berusaha menyambutnya terlebih dahulu agar bisa tenang.

“Hey Junitha, selamat pagi! Baru kali ini saya lihat kamu lewat sini,” sapa Boti.

“Iya Bot, saya hanya lewat untuk menanyakan sesuatu. ”

Wah, hatinya semakin berdebar.

“Apakah kamu yang selalu mengirim bunga mawar untukku?” tanya Junitha.

“Ya, itu benar. Aku yang mengirim bunga mawar merah untukmu setiap pagi. Aku selalu menyuruh penjual bunga untuk mengantarkannya kepadamu,” jawab Boti dengan rasa malu.

“Mengapa kamu selalu memberiku bunga mawar merah?” tanya Junitha lagi.

“Karena aku suka padamu!” jawab Boti dengan spontan.

Lanjut Boti dengan serius, “Junitha, aku sudah menyukaimu sejak kita kuliah. Aku ingin mendekatimu, tetapi rasa maluku menghalangi. Aku merasa tidak percaya diri berbicara denganmu atau bahkan bertemu. Selalu tegang dan takut. Namun, di balik semua itu, perasaanku padamu sangat kuat!”

“Jika kamu menyukaiku, tidak adakah cara lain? Kenapa membuatku penasaran dengan bunga-bunga itu?”

“Bagiku, itu adalah cara terbaik untuk mendapatkan hatimu. Aku sengaja tidak menuliskan namaku di setiap bunga mawar itu, agar rasa ingin tahumu bisa menunjukkan bahwa aku yang mengirimnya. Inilah perasaanku padamu. Mau kah kamu menjadi pacarku?” Katanya dengan harapan yang menguatkan keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya.

Selama kuliah, Junitha pernah menyukainya karena ketampanan dan kepintaran Boti. Namun, baginya itu cuma hal biasa. Menyukai seseorang adalah hal normal bagi manusia. Tapi kali ini berbeda; Boti mengguncang kepercayaannya hingga Junitha jatuh hati padanya.

“Dari sekian banyak pria, baru kali ini aku menemukan seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta karena rasa ingin tahuku tentang semua bunga-bunga itu. Rasa ingin tahuku telah meluluhkan hatiku. Sekarang, cara kamu telah membuat aku benar-benar suka padamu. Aku ingin kamu hadir dalam hidupku, temani aku selalu. ”

Sejak saat itu, sampai mereka menjadi satu keluarga, Junitha selalu menerima setangkai mawar merah setiap hari. Setiap pagi, bunga tersebut diletakkan di depan pintu rumah. Ketika suaminya bertugas di luar kota, bunga tetap dikirim kepada Junitha. Saat suaminya sakit, bunga juga diantarkan. Setiap pagi, penjual bunga mengantarkan setangkai mawar merah untuk Junitha. Dia yakin bahwa bunga-bunga itu adalah pemberian Boti, suaminya.

Pada suatu waktu, suaminya meninggal dunia. Junitha merasa kehidupannya akan kehilangan keindahan karena suaminya telah tiada. Namun, tetap saja, sekuntum mawar merah tiba di rumahnya. Keesokan harinya pun demikian. Hari-hari berikutnya juga tidak berbeda. Hal ini membuat Junitha penasaran dan hatinya dipenuhi ketidaktenangan.

Suatu ketika, karena rasa ingin tahunya, ia kembali mengunjungi penjual bunga untuk menanyakan asal bunga mawar itu. Kemudian, ia menemui penjual tersebut.

“Hei, suami saya sudah meninggal satu minggu yang lalu, mengapa kau masih terus mengirimkan bunga untukku? Apa mungkin kau salah alamat?”

“Maaf Nyonya, menurut Tuan Boti, pengiriman bunga mawar akan berhenti jika Nyonya wafat. Ia berkata, ini adalah tanda kehadirannya dalam hidup Nyonya,” jawab penjual bunga.

Setelah mendengar perkataan itu, Junitha pun menangis. Dengan air mata yang mengalir, ia berbalik dan pulang. Dalam perjalanan, kenangan manis masa lalu kembali muncul, dan sendu setiap pagi ketika bunga tiba membuatnya semakin bersedih. Kenangan indah itu membuatnya tidak bisa menahan air mata yang membasahi pipinya.

Dia menyadari bahwa suaminya telah mengajarkan tentang arti kehadiran dalam hidup. Dia merasa menyesal, karena saat bersama suaminya, ia sering kali tidak hadir sepenuhnya. Junitha memahami bahwa kehadiran bunga membawa makna yang sangat penting dalam hidupnya.

Bagi Boti, bunga itu merupakan simbol kebahagiaan karena telah memiliki wanita yang dicintainya. Dia berkomitmen untuk mencintai Junitha hingga akhir hayatnya. Baginya, yang paling penting adalah kehadiran untuk Junitha, walaupun itu hanya melalui sebuah bunga, tetap memberikan makna mendalam dalam hidup bersama. Bunga adalah lambang dari kehadirannya.

 

Oleh                : Natalis Tebai

JALAN YANG LICIN

Ditome M

Kejadian ini saya alami sendiri pada Tanggal 30 September 2024. Saat ingin pulang ke Uwapa, kampung Topo Kabupaten Nabire Provinsi Papua Tengah.

Di dalam rumah kost kami duduk ber-empat, aku yang tenggah santai bermain geme Slot di hapeku. Kakak penyewa kosan yang lagi serius dengan hapenya, ia duduk tepat di sebelahku. Kedua orang adik yang lagi menonton video, sambil sandar di ding-ding.

Aku masih saja serius dengan hapeku. Tak lama kemudian aku melihat keluar, ke halaman depan kosan itu, ternyata sudah gelap. Saldo ku sudah tinggal Sembilan belas ribuh. Akhirnya saldo pun habis.

Aku mencabut carjer hape ku, dan menyisinya di dalam noken. Aku langsung berpamitan,” kema sa jalan dulu, ooo iyo kosa, balas ke tiga pria itu. Aku berjalan keluar dari kosan itu, ketika sampai di depan. Aku mencari-cari di mana kunci motorku. Ternyata kunci motor ada di dalam noken. Aku keluarkan kunci motor dan membuka kontak. Ketika aku mengbunyikan motor, aku langsung keluar dari pagar kosan. Sampai di jalan raya.

Ada yang memanggil namaku sekilas, aku langsung memelankan motor dan ternyata ia adalah suami kakak ku, pria itu mendekat dan berkata,” ipar ada rokok ka.? aku langsung keluarkan sebungkus rokok dari dalam noken dan memberikan, kepadanya.

ipar ini tinggal satu batang,,? Tidak papa isap saja, balas ku. Ipar sa jalan dulu takut sebentar hujan besar lagi,…! ok siap ipar hati-hati di jalan. Aku langsung menancap gas. Di bawah hujan gerimis, jalan aspal yang sudah basa, genangan air yang terisi di setiap lekukan aspal yang tidak rata.

Kiri-kanan jalan yang di tumbuhi pepohonan ringdang, di bawahnya terdapat pemukiman warga. Tak lama aku melaju akhirnya aku sampai di perempatan jalan, Jalan jayanti dan sp, Yaro dan jalan menuju Papua barat.

Aku mengambil arah jalan menuju Distrik Uwapa. Ketika sampai di dekat hotel jepara dua, aku melihat ada dua orang teman yang lagi santai duduk tepat di depan kios. Aku langsung memelankan motorku dan bertanya,” baru kamu dua bikin apa, kita jalan sudah,,? Kita ada tunggu anak-anak yang dari belakang ini, balas sala satu teman.

Aku mematikan motorku dan duduk bersama kedua temanku itu. Kami duduk di depan kios sembari serius dengan henpone kami masing-masing.

Hujan gerimis pun mulai mengecil,” kita jalan sudah ka,? kataku, sambil menatap kedua temanku, ok kita jalan sudah dari pada tunggu-tunggu dong, tidak tau ini. Kapan dong mau datang, lanjutku.

Sebut saja nama kedua temanku, Yon Pe dan Akan M. Kedua temanku itu hanya berkedara satu motor. Motor milik kawanku Yon pe, Kawasaki ninja. Temanku Akan M perkata,” sa ikut ko saja, soalnya motor sebelah ini terlalu tinggi, susa untuk sa naik. Motor milikku Mio Sheref makanya temanku, memilih untuk ikut bersamaku.

Kami berdua yang melaju lebih dulu, di bawah hujan gerimis. Di kiri kanan jalan terdapat rawa, ada pula bangunan ruko yang berdiri di sampaing jalan, tepat di atas rawah.

Pada saat ruko-ruko itu di bangun banyak memakan bahan timbunan. Timbunan tersebut bisa sampai dengan puluhan ret, agar bisa dapat menahan bangunan dari arus air pada saat hujan. Irigasi yang tidak mampun menampung air, kini air-air selokan berhambur ke jalan dan menutupi badan jalan, sampai dengan enam pulu meter panjangnya. Untuk kedalamannya sekitar satu setenga meter.

Baca Juga        hari-ibu-kita-kartini

Dengan perlahan kami bertiga melewati arus air tersebut. Ketika memasuki complex Suku Moni, kami memelankan motor. Takut menabrak sesuatu di jalan.

Ketika sampai di jembatan Wadio yang ke tiga, kami berhenti untuk memasang rokok. Kami pun melanjutkan perjalanan, menaiki tanjakan Wadio. Hujan gerimis yang samakin deras mengenai tubuh kami, aspal yang basa, embung yang keluar dari aspal membuat kabut hingga jalan dan kolam tidak terlihat dengan jelas.

Firasatku tidak enak, seakan ada yang berkata, jalan pelan-pelan. Kami bertiga pun jalan dengan santai. Hujan gerimis pun belum usai. Tidak jauh dari situ terdapat rumah dan kebun pemilik rumah itu.

Di depan sana terdapat tikunggan yang agak tajam. Di tikungan itu juga ada sorang pendeta yang perna kecelakaan dan meninggal dunia.

Ketika kami sampai di tikungan itu, ban belakang motor yang kami dua kenakan hampir saja terpeleset. Di dalam benakku muncul pertanyaan, ban yang botak ka, atau jalan yang licin ini.

Ketika sampai di pemancar aku melihat ke belakang ternya teman kami Yon Pen belum juga terlihat cahanya lampu motornya. Kami berdua memelankan motor dan memasang rokor sambil menungguh teman kami berdua Yon.

Tak lama kami berdua menungguYon pet pun  tiba. ,” tadi sa punya ban motor terpleset. Ban depan menghadapat ke Nabire, sedangkan ban belakang menghadap ke Topo, ucap teman kami Yon pet,” mungkin ban motor yang botak ka, tadi kita dua juga hampir saja jatu, sambil berucap aku turun dari motor dan memastikan kondisi banku. Ternyata ban motor baik-baik saja.

Yon pet berkata,”  ini sa punya motor ban belakang yang kempes,,? Ooo iyo, mungkin pengaruh ban itu.

Hujan gerimis terus berguyur membasahi dedaunan pohon rindang yang tumbuh di kiri kanan jalan. Kami bertiga melewati lereng gunung yang mendapat banyak julukan, Ekobai, Pintu Gerban atau Perbatasan suku Mee di gunung dengan, Buna di pante. Di dalam pembagian tuju suku wilaya di Papua, Nabire Pante masuk di Saileri, sedangkan Nabire gunung termasuk dalam Meepago.

Kata Ekobai sendiri berasar dari bahasa Mee, yang artinya” potong dia” Tikam dia”. Saya akan menjelaskan sedikit tengtang sejarah kelam. Dulu wilayah Distrik Uwapa. Ekobai sampai dengan kali Bumi ini menjadi tanah rampasan oleh, orang gunung dan pantai.

Sampai saat ini, orang pantai masi mengangap perbatasan pantai dengan gunung jatu tepat di Kali Bumi. Tetapi Suku Mee berangap, perbatasan jatu tepat di gunung Ekobai.

Sesuai kesepakatan yang terjadi pada saat itu tahun 1985. Yang di saksikan oleh orang tua kepala suku Mee di gunung dan kepala Suku di pantai, ada beberapa masyarakat serta pemerintah. Untuk perbatasan, jatuh tepat di gunung Ekobai, untuk penanda sendiri batu pilar, di tanam tepat di bawah pohon beringin, yang sampai saat ini kita bisa lihat disamping jalan. Kalau dari Topo pehon beringgin berada di sebelah kiri, apa bila dari Nabire pohon beringgin berada di sebela kanan.

Dengan perlahan kami melewati di bawah kaki gunung Ekobai. Ketika menaiki tanjakan Ekobai, ada sebuah mobil Hailux yang melingtang di tenga jalan, saya hanya berfikir ini pasti mobil yang ingin kembali ke Nabire. Ketika sampai di gunung Ekobai bau solar mulai tercium, dari dalam aspal. Ternyata ada orang yang sengaja menumpahkan solar di aspal. Kerena terlalu licin kami bertiga turun dengan berhati-hati, kami pun sampai di tempat rata dimana batu piral itu di tanam di bawah pohon beringin.

Kami bertiga dengan perlahan terus melaju, ketika sampai di turunan kali papaya. Turunan kali papaya sendiri turunan-nya agak curam.

Tidak jauh dari situ aku melihat ada mobil haliux yang stop di tanjakan, ketika mendekat aku melihat ternyata ia adalah Tidei dan pemilik mobil.” Eee kawan bagaimana mobil rusak ka,,,? Tidak tau ini saya coba tancap gas mobil tidak mau naik balasnya.

Pria itu turun dari mobil dan melihat kedua ban mobilnya,” tidak tau mungkin ban yang tidak mau putar ka,,,? Kawan jalan juga licin jadi ada yang segaja kasih tumpah solar jadi, cobo kawan pasang dobol baru naik, sabil berjalan naik di atas mobil pria itu berkat,,? Kawan coba lihat ban mobil putar ka tidak.

Aku melihat temanku Yon P yang jatu dengan motor di bawah sana dan ada dua mobil yang naik dari bawah hampir saja pria itu terlindas oleh mobil. Akan M yang lari pergi membantu yon untuk mengankat motornya.

Mobil haliux tersebut akhirnya sampai di gunung papaya. Dengan bantuan kedua kakiku aku meluncur pelang-pelang, ketika sampai di tikungan, aku memarkirkan motorku ke aspal lama di samping jalan.

Ada lampu mobil yang terlihat dari bawah. Adoo dong jangan balap boleh, terfikir dalam benakku.

Mobil tersebut setelah mendekat kami bertiga berteriak,” jalan pelan pelan pelan, jalan licin, ada yang seganja kasih tumpah olih, teriak kami bertiga di dalam kegelapan malam.

Mobil hailux satu pintu melingtang pas tepat di tikungan, banyak sekali orang yang melompat dari mobil tersebut, karena takut mobil tersebut masuk di jurang. Kalau dari kota Nabire menuju Distrik Uwapa jurang tersebut berada tepat di sebelah kiri. Jurang tersebut cukup jauh kedalaman-nya.

Banyak sekali Suku Dani yang di angkut oleh mobil tersebut. Menginggat peristiwa yang sudah terjadi di kampung Topo, pecah peperanggan antara Suku Dani dan Mee, kerena sengketa tanah, aku memanggil sahabatku, Yon dan Akan untuk jalan lebih dulu.

Dengan bantua dua kaki kami berdua menuruni jalan aspal yang curam ketika sampai di tempat rata, kami berdua melihat keatas yon belum juga datang. Sembari membakar rokok kami berdua melihat ada lampu motor yang menyalah, kami berdua sudah bisa menebak kalau yang datang itu yon. 

Teman ku Akan bergegas jalan kaki menaiki tanjakan untuk membantu Yon. Sampai di tenga tanjakan Akan menahan besih tempat duduk sedangkan Yon menurunkan kedua kakinya dan menuruni tanjakan tersebut dan sampai.” Kami bertiga, memasang rokok sembari memasang rokor,” kita jalan, kataku sambil mengbunyikan motorku, Akan pun bergegas naik.

Dengan santai kami bertiga terus berkendara hingga sampai di bawah kaki gunung Topo Dini. Kami bertiga menaiki tanjakan tersebut, Yon sendiri sudah sampai di mata gunung sedangkan saya hampir saja mengapai puncak. Motorku sudah tidak mempuh untuk menancap, kerena jalan yang licin, apa bila aku paksakan, otomatis aku akan jatu.

Aku dan Akan mendorong motor hingga sampai di mata gunung Topo Dimi.

Sedikit pesan dari ceri cerita ini.

Ini sedikit penyampain kepada pengendara motor maupun mobil yang sering turun naik. Apa bila hujan di jalan, jangan coba-coba untuk laju dengan kecepatan tinggi. Sebab ada orang yang ingin segaja mencelakakan kami, kuhsusnya OAP.

Saya mengajak kita OAP untuk saling membantu dan mengigatkan satu sama lain, itu yang utama. Kita sudah tinggal sendikit, mari tong baku jaga. Jangan sampai orang Papua tinggal cerita.

 

Oleh    : Ditome M

Hari Ibu Kita Kartini

 

Ditome M

Baru sekarang, saat aku terbangun dari tidurku, sekitar beberapa jam yang lalu. Seperti biasa aku mengambilnya dan mengecek isi ponselku, ternyata nama dan fotomu terpampang di dinding media sosialku.

di foto tersebut, selain nama dan wajahmu, juga tertulis "Habis gelap terbitlah terang, Selamat Hari Kartini.

Aku ingat ketika aku masih sekolah, aku mendengar nama ini dari guruku, yang mengatakan bahwa kamu adalah pahlawan wanita Indonesia dan untuk menghormatimu kami selalu merayakan ulang tahunmu. Dengan mengenakan pakaian adat dan riasan sederhana, kami bergegas menuju lokasi upacara.

Ternyata banyak sekali para pelajar dan ibu ibu yang bersiap merayakan harimu dengan upacara sederhana namun penuh kegembiraan, terbukti dengan senyuman di wajah mereka yang menghiasi setiap wajah yang hadir di sana.

Bertahun-tahun telah berlalu, kini saya mengerti mengapa Anda begitu dipuja oleh para wanita Indonesia, terutama atas usaha Anda dalam mencari pencerahan bagi bangsa Anda.

yang kumaksud hari ini, tepatnya hari ulang tahunmu. Wanita ujung timur Indonesia yang pernah tersenyum bahagia padamu kini tak lebih baik lagi. Perayaan saat kegelapan terungkap kini menjadi hitam dan tak lagi terlihat. Aku, anak buahku, dan anak buahku, berseragam merah putih dan kebaya jawa, berjalan pelan dalam kegelapan. Kami mencari Cahaya ini, Cahaya yang telah diambil oleh rakyatmu dengan paksa. !

Baca Juga : Sepeda Kakak Ku

Umatkulah yang paling menderita sehingga aku bisa terus memperingati harimu setiap tahun.

Di todongan pistol kita terus menerus dipaksa untuk tersenyum dan mengatakan bahwa kita baik-baik saja, contohnya adalah gambar dengan kebaya putih yang kalian lihat, kita dipaksa untuk tersenyum walaupun hati kita menangis. Bahkan media yang Anda lihat saat ini tidak sesuai dengan kenyataan yang Anda temui di Nduga, Intan Jaya, Pegunungan Bintang, Maybrat dan tempat lainnya. Tidak ada pesta untukmu hari ini. bahkan namamu terasa asing untuk diucapkan.

Seperti diketahui, gedung sekolah dibakar dan dijadikan markas militer Indonesia, rumah dan kampung dijadikan arena perang. Guru, siswa dan keluarganya terpaksa mengungsi ke alam, kawan. Gelap dan sunyi, hanya suara peluru yang tak henti-hentinya dan entah kapan akan berakhir.

Terkadang tarian memukau anak-anak, ibu dan ayah mereka. Anda belum pernah mendengar erangan itu, bukan? ..

Rakyat Indonesia kalianlah yang menjadi penyebab luka-luka rakyat Papua saya.

Hari ini, meski penuh kepedihan dan diliputi kesedihan, aku ingin mengucapkan selamat berlibur kepada Kartini atas perjuanganmu.

Perjuangan Anda untuk menemukan titik terang melawan kolonialisme dan sistem yang menindas perempuan patut ditiru. Pertarunganmu sudah berakhir. Sekarang kamu berada dalam terang. di sini kami berjuang untuk keluar dari kegelapan tetapi tidak untuk hidup bersama Bangsa Anda.

Tidak bisakah terang dan gelap bersatu? .

 

Oleh    : Ditome M

Back To Top