-->

Berita, Artikel, Cerpen, Cerita Rakyat, Horor, Budaya Papua, Religi, Book Bacaan, Biografi

Motivasi Menulis

Rumah Tua Yang Kosong

Rumah Tua Yg Kosong : D/M

Ada dua orang lelaki, yang duduk di teras rumah sedang menikmati Kopi ABC mocca sambil bercerita kejadian-kejadian mistik, yang pernah dialami oleh kedua pria itu.

Di tengah pembicaraan mereka. Ada seorang lelaki muda yang datang. Lelaki itu berkata,” selamat malam, kakak dua,” selamat malam juga, dik. balas kedua pria itu.” Sa mau naik ke Topo tapi tidak ada mobil jadi sa datang ke sini...? ooo tidak papa nanti besok baru adik naik, malam ini bisa tidur disini dulu too, balas dari sala satu kedua pria itu.

Sebut saja nama ketiga pria itu, Diop, Dama dan Jek. Diop dan Dama melanjutkan pembicaraan mereka, Jek pun ikut terbawa dalam pembicaraan mereka. Lama sudah Jek mendengarkan pembicaraan mereka, Jek mulai, bercerita. Cerita ini, Jek alami sendiri, di Distrik Uwapa kampung Topo Rt 03, di belakang gereja Farusia.

Sore itu aku berniat untuk pergi ke rumahnya kakak And, untuk bermain-main dengannya. Dari rumahku menuju rumah kakak And tidak terlalu jauh.

Ketika aku sampai di samping gereja Farusia, aku melihat kakak And sudah berdiri tepat, di depan rumahnya. Ketika sampai di sana, aku menyapa.? selamat sore kakak, ia pun membalas dengan cepat,” selamat sore juga adik.

Aku mendengar dalam rumah itu banyak suara cewek dan cowok yang terdengar di telingaku. Aku bertanya kepada kakak And,” itu ada siapa-siapa di dalam rumah ka,? Coba nanti adik lihat sendiri, ada siapa-siapa di dalam. Kakak And pun berjalan pergi ke rumahnya kakak nus di sebelah jembatan kali Topo. Suara orang-orang tadi di dalam rumah itu, sudah tidak asing lagi bagiku. Mereka adalah teman-temanku.

Rumah itu  baru di banggun satu tahun yang lalu dan ditinggalkan oleh pemiliknya sehingga tidak terurus dengan baik. Jendela yang terdapat di setiap sisinya, picah, rumput ilalang, semak belukar, rimbunan pohon petai  yang begitu banyak. Angin meniup rerumputan dan pepohonan seakan turun hujan sebentar lagi.

Ketika aku sampai di dalam rumah itu, hawa dingin masuk melalui kaki hingga terasa sampai di pergelangan lututku. Aku menyapa mereka dengan secuil senyuman di wajahku. Kami yang duduk di dalam rumah itu ada sepuluh orang, yang delapan mereka berpasangan sedangkan saya dan adik Em pemilik rumah itu tidak memiliki pasangan.

Aku memperhatikan pelita yang menyala di tenga-tenga kami. Em berkata” kita masak kopi ka, ke delapan pasang itu hanya terdiam, menandakan, mereka malas untuk melakukannya.

Aku mengajak adik Em untuk masak kopi. Untuk memasak air harus di rumah lama. Soalnya rumah baru belum ada dapur. Dari rumah baru menuju rumah lama, ada lima puluh meter. Kami berdua masuk melalui pintu dapur. Sebagai penerang, aku dan adik Em hanya membawa pelita.

Aku melihat seng dapur yang bocor. Drum air berada di dalam dapur itu, apa bila turun hujan langsung terisi di dalam Drum tersebut. Rumah yang saat ini, saya dan adik Em bercerita, boleh dibilang sudah tua. Banggunan tersebut di bangung sebagai rumah bantuan, bagi masyarakat yang tidak mampu, pada tahun 1990.

Adik Em yang masih duduk memperhatikan air, yang sebentar lagi akan mendidih. Sedangkan aku yang masih duduk di atas bangku sembari bercerita. Mataku melihat masuk ruang tamu rumah itu. Banyak sekali barang-barang bekas yang tercecer hingga rumah ini terlihat kumuh.

Samar-samar ku lihat ada pergerakan disana. Tak lama kemudian bulu kudukmu berdiri. Adik air sudah mendidih ka,? kataku, adik Em pun membalas,” sudah ini kaka. Aku mengangkat panci berisi air itu. Kami berdua kembali ke rumah baru.

Adik Em mengambil kain lap, untuk panci ku taru di atasnya. Aku melihat kiri dan kanan, tetapi rumah ini sudah sunyi sepi, seakan hanya ada aku dan adik Em. Kataku,” kamu-kamu bangung, ini air sudah masak,wee bangun kamu mau minum kopi ka tidak,? dengan harapan ke empat pasangan itu bangung untuk menghabiskan kopi yang, adik Em putar.

Sambil menyodorkan semangkuk kopi,” kasih tinggal sudah, mungkin dong tidak mau minum kopi jadi, balas adik Em. Aku melihat Al dan pacarnya Jub bangun  dari tidur. Adik Em menimba kan kopi untuk kedua pasangan itu. Angin mulai meniup rerumputan serta pohon petai hingga daunya gugur berjatuhan di atas seng rumah ini.

Al bercerita,” katanya Emnus sakit ka,? aaa iyo ka, balas Jek? betul Emnus sakit para, lanjut Al, sa juga nanti besok baru turun lihat dia dulu, balas Jek. Angin mulai meniup kencang, hingga nyala pelita, miring sana miring sini, di sebabkan oleh angin yang masuk melalui lubang jendela tanpa kaca ini.

Ketika dalam kobaran angin, terlihat pepohonan petai oleh percikan kilat yang menyambar sekali. Aku mengamati dengan seksama. Aku melihat kiri dan kanan semua orang sudah tertidur pulas, seakan hanya ada aku.

Terlintas dalam benakku, ini akan terjadi sesuatu kepada kami. Malam itu aku memutuskan untuk tahan mata sampai pagi. Untuk menjaga mereka yang tidur. Angin mulai menjadi-jadi, petir terus menyambar. Mataku masih saja mengawasi setiap jendela tanpa kaca itu.

Di cela jendela sana aku melihat sesosok sedang memperhatikan kami dari luar rumah, aku yang ter sontak kaget, jantung ku yang berdegup kencang, pikiran yang menjadi bercabang, apakah aku harus pulang ke rumah,” aaa, tidak mereka sendiri. Apa bila aku keluar dari rumah ini sosok itu masih berdiri tepat di samping jendela pintu keluar, rumah ini. Aku akan celaka. Aku mengurungkan nik ku tetap disana.

Tak lama petir menyambar aku melihat sosok itu, wajahnya dengan jelas, ternyata itu Yokbe pacarnya Emnus. Yang baru saja diceritakan oleh Al. Kalau Emnus sakit. Tak lama kemudian angin dan petir berhenti. Aku mendengar suara orang yang banyak melintas di depan rumah kami berada. Suara setan, atau manusia jadi-jadian dengan bahasa Mee sering disebut dengan panggilan (Kolata). Kolata sendiri di tandai dengan suara siulan, ia berwujud burung, kukunya panjang seperti burung garuda. Bersiul-siul mengilingin rumah yang kami berada.

Bunyi setan pohon atau yang sering disebut dengan bahasa (Simiso) pun terdengar. Wujud setan pohon sendiri, seorang pria, badannya sangat tinggi dan kurus, kakinya yang sangat panjang. Apabila ia mendapat mangsa, pastinya kaki dan tangannya, diikat dengan tali rotan, untuk di bawa.

Ketika angin kilat. Suara bunyi-bunyian berhenti. Aku mendengar hentakan keras terdengar dari rumah lama yang di bangu pada tahun 1990 itu. Rumah itu memang rumah papan lantainya. Banyak sekali suara orang di dalam rumah itu. Seakan ada pemotongan bahan korban yang di bagi ke setiap orang-orang yang datang kesana. Suara papan itu terus terdengar tuk-tuk.

Semua orang yang di dalam ruangan itu masih tertidur pulas. Aku masih saja mendengar suara tuk-tuk yang terus menerus berlangsung. Hingga kini aku lihat keluar rumah, fajar sedikit lagi akan menjingsing menerangi jagat raya. Aku merasa mata ini ingin terpejam. Dalam benakku, terbersit,” coba ada yang bangun ka, sa lagi mau tutup mata ini sebentar saja. Tak lama kemudian bunyi-bunyi itu terhenti.Kini langit terang.

Aku melihat ke arah adik Em, ia sudah tertidur pulas. Aku memutuskan untuk pulang. Aku melangkah keluar dari rumah itu. Mataku masih melihat rumah lama itu. Aku berjalan melewati Gereja Farusia, ketika sampai di depan rumahku . Pintu rumahku belum juga terbuka.

Aku melanjutkan langkah kakiku, untuk mengjengguk adik Emmnus. Aku melihat banyak orang yang seliweran di depan rumahnya Emmnus. Dalan benakku terbersit.” Ini pasti adik Emmnus sudah meninggal. Terdengar tangisan membelah pagi yang dingin itu.

Banyak sekali orang mengililingi jazad Emmnus. Aku melihat ibunya yang duduk, tepat di dekat kepalanya. Tangan ibunya mengelus kepala Emmnus sambil menahan isak tangis atas kepergian anak, satu-satunya.

Aku mendengar kesaksian ibunya.” Kemaring sore, Emmnus sakit kepala, sa bangun tahan mata jaga dia ini, sampai malam jam 01. Karena saya sudah mengantuk, langsung saya tidur. Sekitar jam 03 subuh. Saya bangun tidur,  lihat Emmnus sudah tidak ada di tempat.

Saya putar dari dapur sampai depan sekitar tiga kali, tidak ada. Saya keluar dari rumah pergi cari Emmnus di luar rumah. Putar-putar cari sampai jam 05 subuh. Secara sadar atau tidak sadar ada sesuatu yang membawaku hingga sampai di rumah lama. Di belakang Gereja Farusia. Saya membuka pintu rumah itu ternya Emmnus sudah terbaring tak bernyawa disitu.

Aku menggendongnya pulang sampai di rumah. Malam itu, bukan sekedar mendengar tetapi ikut menyaksikan. Bagaimana para hantu membawa Emmnus dan menarunya di rumah lama hingga pemotongan serta pembagian daging Emminus untuk di santap.

Sumber (Lisan)            : Jekson Tauwai

Oleh                            : Ditome M

Back To Top