-->

Berita, Artikel, Cerpen, Cerita Rakyat, Horor, Budaya Papua, Religi, Book Bacaan, Biografi

Motivasi Menulis

Anak Dari Seekor Biyawak

Foto Ditome M

Alkisah, di suatu daerah hiduplah seorang janda miskin, sebut saja namanya Mesina. Wanita itu tidak memilki siapa-siapa ia hidup hanya sebatang kara.

Di sekitar situ banyak sekali penduduk yang berdagang, jualan kayu, ikan, ubi jalar dan lainya. Pada suatu hari janda miskin itu pergi mencari kayu bakar di hutan untuk di jual ke pasar.

Ketika wanita itu tiba di hutan, langit mulai gelap gulita, sedikit lagi akan turun hujan. Wanita itu berlindung di bawah bandar kayu besar, butiran hujan pun turun, membasahi pepohonan di sekitar situ.

 

Di tengah hujan yang begitu besar, datang se-ekor biyawak berlindung di bawah bandar kayu itu juga, biyawak dan Mesina tidak terlalu jauh.

Wanita tua itu sangat ketakutan melihat biyawak yang semakin lama semakin mendekat padanya, wanita tua itu pisang tak menyadarkan diri.

 

Mesina tersadar ia sudah berada di dalam rumahnya, dalam hati, wanita tua itu bertanya-tanya,” bagaimana, saya bisa ada di rumah, pada hal saya tadi berada di tengah hutan, aa-aaa mungkin setelah saya pingsan pasti biyawak itu yang mengantar saya pulang, terlintas dalam pikirannya.

Satu bulan sudah setelah kejadian itu. Wanita tua itu telat datang bulan, dalam hati wanita tua itu bertanya-tanya apa kaa, saya ini hamil, tetapi tidak mungkin, soalnya saya belum berhubungan badan dengan siapa siapa.

 

Mesina pada bulan kedua belum juga datang bulan. Wanita itu berfikir, oooo ini pasti saya hamil. Delapan bulan sudah Mesina hamil besar.

Ketika memasuki bulan ke sembilan, mesina pun melahirkan, saat melahirkan tak ada satupun orang yang membantunya.

 Baca Juga        : telah-ingkari-janji

Ketika Mesina melihat apa yang telah ia lahirkan, ooo ternyata anak biyawak. Mesina membungkus anak biyawak itu dengan kain dan menaruhnya di atas tempat tidur. Mesina banyak berfikir, apa kaa biyawak ini saya harus buang atau tidak. Akhirnya Mesina memutuskan untuk memelihara anak biyawak itu, sampai besar.

 

Mesina banyak berfikir bagaimana saya bisa mendapatkan anak biyawak, Mesina teringat dengan kejadian di hutan pada saat mencari kayu bakar.

 

Biyawak itu ia merawatnya hingga telah memasuki umur tuju tahun. Biyawak itu berkata,” mama saya mau masuk sekolah, tidak bisa anak pasti kamu tidak akan di terima, soalnya kamu itu adalah biyawak, bukan manusia, balas ibunya.

Tidak mama saya pasti di terima, tolong mama antarkan saa ke sekolah, karena ke inginan biyawak untuk masuk sekolah, ibunya pun meng iya kan.

 

Hari itu Mesina dan biyawak tersebut pergi ke pasar untuk belanja pakian seragam SD. Dalam perjalanan ke pasar banyak sekali orang yang mengertawahkan anak biyawak tersebut,” sayang hiraukan perkataan mereka, kita jalan saja, kata ibunya.

Ketika sampai di pasar, Mesina membeli pakian SD buku pensil dan lainya. Ketika sampai di rumah Mesina banyak berfikir bagaimana keadaan anak saya ini, setelah saya mendaftarkan-nya di sekolah nanti. Jangan pikirkan saya mama, soalnya saya akan baik-baik saja, balas biyawak itu.

 

Pagi itu Mesina pergi ke sekolah untuk mendaftarkan nya. Ketika sampai di depan sekolah banyak sekali siswa siswi yang menatap ibu dan biyawak itu. Banyak sekali yang perhatikan kita mama kata biyawak itu,” hiraukan saja, balas ibunya.

Ketika sampai di dalam ruang kantor guru-guru itu bertanya,” mau daftarkan siapa,” saya mau daftarkan anak saya, biyawak ini, guru-guru di kantor itu tertawa, apa biyawak ini mau sekolah disini. Ibu itu membalas, anak saya ini bisa membaca dan menulis.

Biyawak itu di tes oleh guru-guru disitu. Panitian penerimaan siswa baru berkata,” anak ibu kami terima, besok sudah bisa sekolah. Mesina dan biyawak itu kembali kerumah, dengan gembira.

 

Keesokan paginya biyawak itu pergi ke sekolah. Ia tidak melewati jalan besar. Biyawak itu lewat selokan.

Naik kelas dua biyawak itu mendapat rengking satu, naik kelas tiga dapat rengking satu, sampai pada kelas enam biyawak itu mendapat lulusan terbaik.

 

SMP pun sama biyawak itu mendapat lulusan terbaik peringkat pertama. Kelas tiga biyawak itu mendapat lulusan terbaik.

 

SMA pun sama naik kelas sampai ujian akhir biyawak itu mendapat yang terbaik. Ketika mendaftar kuliah biyawak itu sudah besar.

Setelah empat tahun berlalu biyawak itu telah selesai dari jurusan HI dengan nilai yang sangat memuaskan.

 

Sore itu datang seorang petugas kerajaan menganterkan surat undang untuk ulan tahun raja. Pagi itu Mesina dan biyawak itu bersiap siap.

Acara di kerajaan itu sangat ramai dengan ribuan orang yang memenuhi ruangan itu. Mesina dan biyawak itu di panggil oleh raja untuk perkenalkan kepada keluarga kerajaan.

 

Mesina bercerita kepada raja,” bapak saya ingin meminta anak bapak untuk menjadikannya menantu ku, ooo boleh-boleh saja. Anak-anak saya ada dua belas orang semuanya cewek, saya akan menyuruh mereka untuk siapa yang bersedia menjadi menantu ibu, balas raja itu.

Anak raja, pertama masuk ke dalam ruangan, ayahnya bertanya apa kaa, kamu ingin menikah dengan biyawak ini, saya menolak lamaran ibu ini balas anak raja itu, ketiga pun menolak, seterusnya, sampai pada anak terakhir dari raja itu.

 

Raja bertanya apa kaa kamu akan menikah dengan biyawak ini, iya ayah saya terima lamaran-nya balas cewek itu.

Kamu sudah sah menjadi istri biyawak ini, sekarang juga kamu kemas barang-barang dan pergi mengikuti Mesina dan biyawak ini kerumah mereka.

Mereka bertiga pulang sampai di rumah. Ke esokan paginya biyawak itu pergi mandi di belakang rumah.

 

Mesina dan Wanita itu kaget oleh kedatangan seorang pria mudah dan gagah perkasa berdiri di depan pintu rumah.

Mesina bertanya ini dengan siapa. Saya biyawak itu balas pria tersebut. Mesina sangat bangga dengan perubahan wujud si peria itu. Biyawak dan wanita tersebut akhirnya di karuniai tiga orang anak.



    Oleh                : Ditome M

Label: Cerita Rakyat

Terima kasih telah membaca. Anak Dari Seekor Biyawak.Silakan bagikan...!

1 komentar on Anak Dari Seekor Biyawak

  1. Kami sangat mengharapkan like Comen tetapi yang bersifat membangun.

    ReplyDelete

Back To Top