![]() |
| Ditome M |
Alkisah,
di suatu perkampungan hiduplah dua orang bapak yang sangat akrab. Sebut saja
nama kedua bapak itu, Ideibai dan Wilei.
Pagi
itu Ideibai dan Wilei pergi ke kebun, ketika sampai di mata jalan turun kebun,
Ideibai berkata,” kalau kamu pulang lebih dulu, pata rangting kayu dan
menarunya disini, apa bila saya pulang lebih dulah saya akan menaru rangting
kayu disini. Kebiasan masyarakat Mee, apa bila ke hilangan jalan, sebagai
penanda iya lah, ranting kayu yang di patah dengan tangan, itu sebagai penanda
atau jalan pulang.
Ketika
sore tiba kedua bapak itu bertemu di mata jalan. Ke dua bapak itu berjalan
pulang ke rumah, ketika sampai di bukit,
ada seorang wanita yang berdiri di samping jalan mengunakan koba koba.
Wilei
melihat wanita itu sedangkan Ideibai tidak melihatnya, dalam pemikiran Wilei,
pasti Ideibai juga melihat wanita itu berdiri.
Ketika
sampai di ujung kampung Wilei bertanya kepada Ideibai,” Eee koo sudah lihat perempuan yang berdiri di
jalan tadi kaa, sa belum lihat, di sebelah mana ka, tadi perempuan itu berdiri,
balas Ideibai. Aaa sa cuma bercanda saja, balas Wilei.
Ketika
sampai di kampung kedua bapak itu pulang ke rumah masing-masing. Wilei menaru
semua barang bawannya di dalam Lebe Owaa (Rumah Adat Suku Mee) dan langsung
duduk di samping tungku api.
Wilei
malam itu mengigil, dalam pikiranya, aaa ini pasti sa masuk angin. Istrinya
memberikan makanan kepada Wilei,” sayang ini, ko makan dulu, tetapi Wilei hanya
menggelengkan kepalanya saja.
Setelah
pagi tiba istri Wilei ingin memberikan ubi bakar. Istrinya melihat ternyat
Wilei belum juga bangun dari tidurnya, tangan istri Wilei menggoncangan kan
tubuh Wilei tetapi Wilei tidak juga bergerak, ketika wanita itu menaru tangan
di hidung suamunya, ternyata Wilei sudah meninggal dunia.
Wanita
itu manangis histeris hingga warga kampung berdatangan untuk melihat, tangisan
wanita tua tersebut.
Baca
Juga : Jadi-Santapan-Ular
Banyak
orang yang berkumpul di rumah itu. Banyak orang yang menangisi, melihat keadaan
Wilei yang sudah tidak bernyawa,” ooo bapa Wilei dia meninggal dunia, banyak
orang bercerita.
Malam
itu banyak sekali orang di rumah dukah, Ideibai ia terus menangis kepergian
sahabatnya, kesedihan Ideibai belum juga terhenti, banyak orang yang
berdatangan untuk meminta Ideibai agar berhenti menangis
Malam
itu berlalu, ketika pagi tiba orang-orang di rumah duka itu bersiap untuk pergi
memakamkan bapak Wilei.
Orang-orang
itu membawa Wilei di atas para-para kayu buah dan sampai di bawah pohon
beringin besar. Mereka mengangkat mayat Wilei sampai di cabang pohon beringin
untuk di makamkan, disitu.
Semua
orang berkumpul di bawah kayu itu untuk berdoa, sebagai sahabat Ideibai masih
saja berdiri memegan anak panah di tangannya, di tenga orang-orang berdoa,
bunyi lompatan terdengar di telinga semua orang yang berkerumun itu.
Semua
orang membuka mata dan melihat ternyata Wilei berdiri di tenga-tengan mereka,
semua orang lari ketakutan, hanya Ideibai yang berdiri menarik busur mengarah
Wilei dan berkata,” koo sudah mati too, mati sudah, sambil ketakutan, Wilei
mengankat dua tangan Wilei berkata,” sa belum mati balas Wilei.
Dengan
perlahan Idebai mendekata Wilei, untuk memastika apaka Wilei berupa arwah atau
manusia, ketika menyetunya, ternyata Wilei masih hidup.
Hari
itu Idebai dan Wilei berjalan kaki, sampai di kampong,orang-orang di kampung
itu ketakutan melihat kedatangan Wilei.
Dua
hari kemudia Wilei meninggal kembali. Idebai dan orang di kampung itu kembali
menguburnya di atas pohon beringin, bekas kuburannya sendiri.
Oleh : Ditome M
Terima kasih telah membaca. Hidup Kembali Dari Liang Kubur.Silakan bagikan...!
.jpg)
0 Komentar untuk "Hidup Kembali Dari Liang Kubur"