-->

Berita, Artikel, Cerpen, Cerita Rakyat, Horor, Budaya Papua, Religi, Book Bacaan, Biografi

Motivasi Menulis

JALAN YANG LICIN

Foto/Ditome M

Kejadian ini saya alami sendiri pada Tanggal 30 September 2024. Saat ingin pulang ke Uwapa, kampung Topo Kabupaten Nabire Provinsi Papua Tengah.

Di dalam rumah kost kami duduk ber-empat, aku yang tengah santai bermain game Slot online di hapeku. Kakak penyewa kosan yang lagi serius dengan hapenya, ia duduk tepat di sebelahku. Kedua orang adik yang lagi menonton video, sembari sandar di din-ding rumah kosan.

Aku masih saja serius dengan henponeku. Tak lama kemudian aku melihat keluar, ke halaman depan kosan itu, ternyata sudah gelap. Saldo di game slot sudah tinggal Sembilan belas ribuh. Tak lama kemudian runkat.

Aku mencabut carjer hape ku, dan menyisinya di dalam noken. Aku langsung berpamitan,” kema sa jalan dulu, ooo iyo kosa, balas ke tiga pria itu. Aku berjalan keluar dari kosan itu, ketika sampai di depan.

Aku mencari-cari di mana kunci motorku. Ternyata kunci motor ada di dalam noken. Aku keluarkan kunci motorku dan membuka kontak. Ketika aku mengbunyikan motor ku, aku langsung keluar dari pagar kosan. Sampai di jalan raya.

Ada yang memanggil namaku sekilas, aku langsung memelankan motor dan ternyata ia adalah suami kakak ku, pria itu mendekat dan berkata,” ipar ada rokok ka.? aku langsung keluarkan sebungkus rokok dari dalam noken dan memberikan, kepadanya.

ipar ini tinggal satu batang,,? Tidak papa isap saja, balas ku. Ipar sa jalan dulu takut sebentar hujan besar lagi,…! ok siap ipar hati-hati di jalan. Aku langsung menancap gas. Di bawah hujan gerimis, jalan aspal yang sudah basa. Genangan air yang terisi di setiap lekukan aspal yang tidak rata.

Kiri-kanan jalan yang di tumbuhi pepohonan rindang, di bawahnya terdapat pemukiman warga. Tak lama aku melaju akhirnya aku sampai di perempatan jalan, Jalan jayanti dan sp, Yaro dan jalan menuju Papua barat.

Aku mengambil arah jalan menuju Distrik Uwapa. Ketika sampai di dekat hotel jepara dua, aku melihat ada dua orang teman yang lagi santai duduk tepat di depan kios. Aku langsung memelankan motorku dan bertanya,” baru kamu dua bikin apa, kita jalan sudah,,? Kita ada tunggu anak-anak yang dari belakang ini, balas sala satu teman ku.

Aku mematikan motorku dan duduk bersama kedua temanku itu. Kami duduk di depan kios sembari serius dengan henpone, kami masing-masing.

Hujan gerimis pun mulai mengecil,” kita jalan sudah ka,? kataku, sambil menatap kedua temanku, ok kita jalan sudah dari pada tunggu-tunggu dong, tidak tau ini. Kapan dong mau datang, lanjutku.

Sebut saja nama kedua temanku, Yon Pe dan Akan M. Kedua temanku itu hanya berkedara satu motor. Motor milik kawanku Yon pe, Kawasaki ninja. Temanku Akan M berkata,” sa ikut ko saja, soalnya motor sebelah ini terlalu tinggi, susa untuk saya naik?, Motor milikku adalah Bead Streep makanya temanku, memilih ikut bersamaku.

Kami berdua yang melaju lebih dulu, di bawah hujan gerimis. Di kiri kanan jalan terdapat rawa, ada pula bangunan ruko yang berdiri di sampaing jalan, tepat di atas rawah.

Pada saat ruko-ruko itu di bangun banyak memakan bahan timbunan. Timbunan tersebut bisa sampai dengan puluhan ret, agar bisa dapat menahan bangunan dari arus air pada saat hujan. Irigasi yang tidak mampun menampung debit air , kini air-air selokan merembes keluar dan berhamburan ke jalan serta menutupi badan jalan, sampai dengan enam pulu meter panjangnya. Untuk kedalamannya sekitar satu setenga meter.

Dengan perlahan kami bertiga melewati arus air tersebut. Ketika memasuki complex Suku Moni, kami memelankan motor. Takut menabrak sesuatu di jalan.

Ketika sampai di jembatan Wadio yang ke tiga, kami berhenti untuk memasang rokok. Kami pun melanjutkan perjalanan, menaiki tanjakan Wadio. Hujan gerimis yang samakin deras mengenai tubuh kami, aspal yang basa, embung yang keluar dari aspal membuat kabut hingga jalan dan kolam tidak terlihat dengan jelas.

Firasatku tidak enak, seakan ada yang berkata, jalan pelan-pelan. Kami bertiga pun jalan dengan santai. Hujan gerimis pun belum usai. Tidak jauh dari situ terdapat rumah dan kebun pemilik rumah itu.

Di depan sana terdapat tikunggan yang agak tajam. Di tikungan itu juga ada sorang pendeta yang perna kecelakaan dan meninggal dunia.

Ketika kami sampai di tikungan itu, ban belakang motor yang kami dua kenakan hampir saja terpeleset. Di dalam benakku muncul pertanyaan, ban yang botak ka, atau jalan yang licin ini.

Ketika sampai di pemancar aku melihat ke belakang ternya teman kami Yon Pen belum juga terlihat cahanya lampu motornya. Kami berdua memelankan motor dan memasang rokor sambil menungguh teman kami berdua Yon.

Baca Juga    : 24-desember

Tak lama kami berdua menungguYon pet pun  tiba. ,” tadi saya punya ban motor terpleset. Ban depan menghadapat ke Nabire, sedangkan ban belakang menghadap ke Topo, ucap teman kami Yon pet,” mungkin ban motor yang botak ka, tadi kita dua juga hampir saja jatu, sambil berucap aku turun dari motor dan memastikan kondisi banku. Ternyata ban motor baik-baik saja.

Yon pet berkata,”  ini sa punya motor ban belakang yang kempes,,? Ooo iyo, mungkin pengaruh ban itu.

Hujan gerimis terus berguyur membasahi dedaunan pohon rindang yang tumbuh di kiri kanan jalan. Kami bertiga melewati lereng gunung yang mendapat banyak julukan, Ekobai, Pintu Gerban atau Perbatasan suku Mee di gunung dengan, Buna di pantei. Di dalam pembagian tuju suku wilaya di Papua, Nabire Pantei masuk di Saileri, sedangkan Nabire gunung termasuk dalam Meepago.

Kata Ekobai sendiri berasar dari bahasa Mee, yang artinya” potong dia” Tikam dia”. Saya akan menjelaskan sedikit tentang sejarah kelam. Dulu wilayah Distrik Uwapa. Ekobai sampai dengan kali Bumi ini menjadi tanah rampasan oleh, orang gunung dan pantai.

Sampai saat ini, orang pantai masi mengangap perbatasan pantai dengan gunung jatu tepat di Kali Bumi. Tetapi Suku Mee berangap, perbatasan jatu tepat di gunung Ekobai.

Sesuai kesepakatan yang terjadi pada saat itu tahun 1985. Yang di saksikan oleh orang tua kepala suku Mee di gunung dan kepala Suku besar di pantai, ada beberapa masyarakat serta pemerintah. Menyaksikan kalau, untuk perbatasan, jatuh tepat di gunung Ekobai, untuk penanda sendiri batu pilar, di tanam tepat di bawah pohon beringin, yang sampai saat ini kita bisa lihat disamping jalan. Kalau dari Topo pehon beringin berada di sebelah kiri jalan, apa bila dari Nabire pohon beringin berada di sebela kanan.

Dengan perlahan kami melewati di bawah kaki gunung Ekobai. Ketika menaiki tanjakan Ekobai, ada sebuah mobil Hailux yang melintang di tenga jalan, saya hanya berfikir ini pasti mobil yang ingin kembali ke Nabire. Ketika sampai di gunung Ekobai bau solar mulai tercium, dari dalam aspal. Ternyata ada orang yang sengaja menumpahkan solar di aspal. Kerena terlalu licin kami bertiga dengan berhati-hati, kami pun sampai di tempat rata dimana batu piral itu di tanam, di bawah pohon beringin.

Kami bertiga dengan perlahan terus melaju, ketika sampai di turunan kali papaya. Turunan kali papaya sendiri turunan-nya agak curam.

Tidak jauh dari situ aku melihat ada mobil haliux yang stop di tanjakan, ketika mendekat aku melihat ternyata ia adalah Tidei dan pemilik mobil.” Eee kawan bagaimana mobil rusak ka,,,? Tidak tau ini saya coba tancap gas mobil tapi tidak mau naik, balasnya.

Pria itu turun dari mobil dan melihat kedua ban mobilnya,” tidak tau mungkin ban yang tidak mau putar ka,,,? Kawan jalan juga licin jadi ada yang segaja kasih tumpah solar jadi, cobo kawan pasang dobol baru naik, sabil berjalan naik di atas mobil pria itu berkat,,? Kawan coba lihat ban mobil putar ka tidak.

Aku melihat temanku Yon P yang jatu dengan motor di bawah sana dan ada dua mobil yang naik dari bawah hampir saja pria itu terlindas oleh mobil. Akan M yang lari pergi membantu yon untuk mengankat motornya.

Mobil haliux tersebut akhirnya sampai di gunung papaya. Dengan bantuan kedua kakiku aku meluncur pelang-pelang, menuruni tanjakan curam. Ketika sampai di tikungan, aku memarkirkan motorku ke aspal lama di samping jalan.

Ada lampu mobil yang terlihat dari bawah. Adoo dong jangan balap boleh, terfikir dalam benakku.

Mobil tersebut setelah mendekat kami bertiga berteriak,” jalan pelan pelan pelan, jalan licin, ada yang seganja kasih tumpah olih, teriak kami bertiga di dalam kegelapan malam.

Mobil hailux satu pintu melintang pas tepat di tikungan, banyak sekali orang yang melompat dari mobil tersebut, karena takut mobil tersebut masuk di jurang. Kalau dari kota Nabire menuju Distrik Uwapa jurang tersebut berada tepat di sebelah kiri. Jurang tersebut cukup jauh kedalaman-nya.

Banyak sekali Suku Dani yang di angkut oleh mobil tersebut. Menginggat peristiwa yang sudah terjadi di kampung Topo, pecah peperanggan antara Suku Dani dan Suku Mee, kerena sengketa tanah, aku memanggil sahabatku, Yon dan Akan untuk jalan lebih dulu.

Dengan bantua dua kaki kami berdua menuruni jalan aspal yang curam ketika sampai di tempat rata, kami berdua melihat keatas yon belum juga datang. Sembari membakar rokok kami berdua melihat ada lampu motor yang menyalah, kami berdua sudah bisa menebak kalau yang datang itu yon.

Teman ku Akan bergegas jalan kaki menaiki tanjakan untuk membantu Yon. Sampai di tengah tanjakan Akan menahan besih tempat duduk sedangkan Yon menurunkan kedua kakinya dan menuruni tanjakan tersebut dan sampai. Kita jalan, kataku sambil membunyikan motorku, teman ku Akan pun bergegas naik.

Dengan santai kami bertiga terus berkendara hingga sampai di bawah kaki gunung Topo Dini. Kami bertiga menaiki tanjakan tersebut, Yon sendiri sudah sampai di mata gunung sedangkan saya hampir saja mengapai puncak. Motorku sudah tidak mempuh untuk menancap, kerena jalan yang licin, apa bila aku paksakan, otomatis aku akan jatu.

Aku dan Akan mendorong motor hingga sampai di mata gunung Topo Dimi.

Sedikit pesan dari cerita ini.

Ini sedikit penyampain kepada pengendara motor maupun mobil yang sering turun naik. Apa bila hujan di jalan, jangan coba-coba untuk laju dengan kecepatan tinggi. Sebab ada orang yang ingin segaja mencelakakan kami, kuhsusnya OAP.

Saya mengajak kita OAP untuk saling membantu dan mengigatkan satu sama lain, itu yang utama. Kita sudah tinggal sendikit, mari tong baku jaga. Jangan sampai orang Papua tinggal cerita.

 

Oleh    : Ditome M

Label: Cerpen

Terima kasih telah membaca. JALAN YANG LICIN.Silakan bagikan...!

0 Komentar untuk "JALAN YANG LICIN"

Back To Top