-->

Ditome M

Berita, Artikel, Cerpen, Cerita Rakyat, Horor, Budaya Papua, Religi, Book Bacaan, Biografi

Motivasi Menulis

JALAN YANG LICIN

Foto/Ditome M

Kejadian ini saya alami sendiri pada Tanggal 30 September 2024. Saat ingin pulang ke Uwapa, kampung Topo Kabupaten Nabire Provinsi Papua Tengah.

Di dalam rumah kost kami duduk ber-empat, aku yang tengah santai bermain game Slot online di hapeku. Kakak penyewa kosan yang lagi serius dengan hapenya, ia duduk tepat di sebelahku. Kedua orang adik yang lagi menonton video, sembari sandar di din-ding rumah kosan.

Aku masih saja serius dengan henponeku. Tak lama kemudian aku melihat keluar, ke halaman depan kosan itu, ternyata sudah gelap. Saldo di game slot sudah tinggal Sembilan belas ribuh. Tak lama kemudian runkat.

Aku mencabut carjer hape ku, dan menyisinya di dalam noken. Aku langsung berpamitan,” kema sa jalan dulu, ooo iyo kosa, balas ke tiga pria itu. Aku berjalan keluar dari kosan itu, ketika sampai di depan.

Aku mencari-cari di mana kunci motorku. Ternyata kunci motor ada di dalam noken. Aku keluarkan kunci motorku dan membuka kontak. Ketika aku mengbunyikan motor ku, aku langsung keluar dari pagar kosan. Sampai di jalan raya.

Ada yang memanggil namaku sekilas, aku langsung memelankan motor dan ternyata ia adalah suami kakak ku, pria itu mendekat dan berkata,” ipar ada rokok ka.? aku langsung keluarkan sebungkus rokok dari dalam noken dan memberikan, kepadanya.

ipar ini tinggal satu batang,,? Tidak papa isap saja, balas ku. Ipar sa jalan dulu takut sebentar hujan besar lagi,…! ok siap ipar hati-hati di jalan. Aku langsung menancap gas. Di bawah hujan gerimis, jalan aspal yang sudah basa. Genangan air yang terisi di setiap lekukan aspal yang tidak rata.

Kiri-kanan jalan yang di tumbuhi pepohonan rindang, di bawahnya terdapat pemukiman warga. Tak lama aku melaju akhirnya aku sampai di perempatan jalan, Jalan jayanti dan sp, Yaro dan jalan menuju Papua barat.

Aku mengambil arah jalan menuju Distrik Uwapa. Ketika sampai di dekat hotel jepara dua, aku melihat ada dua orang teman yang lagi santai duduk tepat di depan kios. Aku langsung memelankan motorku dan bertanya,” baru kamu dua bikin apa, kita jalan sudah,,? Kita ada tunggu anak-anak yang dari belakang ini, balas sala satu teman ku.

Aku mematikan motorku dan duduk bersama kedua temanku itu. Kami duduk di depan kios sembari serius dengan henpone, kami masing-masing.

Hujan gerimis pun mulai mengecil,” kita jalan sudah ka,? kataku, sambil menatap kedua temanku, ok kita jalan sudah dari pada tunggu-tunggu dong, tidak tau ini. Kapan dong mau datang, lanjutku.

Sebut saja nama kedua temanku, Yon Pe dan Akan M. Kedua temanku itu hanya berkedara satu motor. Motor milik kawanku Yon pe, Kawasaki ninja. Temanku Akan M berkata,” sa ikut ko saja, soalnya motor sebelah ini terlalu tinggi, susa untuk saya naik?, Motor milikku adalah Bead Streep makanya temanku, memilih ikut bersamaku.

Kami berdua yang melaju lebih dulu, di bawah hujan gerimis. Di kiri kanan jalan terdapat rawa, ada pula bangunan ruko yang berdiri di sampaing jalan, tepat di atas rawah.

Pada saat ruko-ruko itu di bangun banyak memakan bahan timbunan. Timbunan tersebut bisa sampai dengan puluhan ret, agar bisa dapat menahan bangunan dari arus air pada saat hujan. Irigasi yang tidak mampun menampung debit air , kini air-air selokan merembes keluar dan berhamburan ke jalan serta menutupi badan jalan, sampai dengan enam pulu meter panjangnya. Untuk kedalamannya sekitar satu setenga meter.

Dengan perlahan kami bertiga melewati arus air tersebut. Ketika memasuki complex Suku Moni, kami memelankan motor. Takut menabrak sesuatu di jalan.

Ketika sampai di jembatan Wadio yang ke tiga, kami berhenti untuk memasang rokok. Kami pun melanjutkan perjalanan, menaiki tanjakan Wadio. Hujan gerimis yang samakin deras mengenai tubuh kami, aspal yang basa, embung yang keluar dari aspal membuat kabut hingga jalan dan kolam tidak terlihat dengan jelas.

Firasatku tidak enak, seakan ada yang berkata, jalan pelan-pelan. Kami bertiga pun jalan dengan santai. Hujan gerimis pun belum usai. Tidak jauh dari situ terdapat rumah dan kebun pemilik rumah itu.

Di depan sana terdapat tikunggan yang agak tajam. Di tikungan itu juga ada sorang pendeta yang perna kecelakaan dan meninggal dunia.

Ketika kami sampai di tikungan itu, ban belakang motor yang kami dua kenakan hampir saja terpeleset. Di dalam benakku muncul pertanyaan, ban yang botak ka, atau jalan yang licin ini.

Ketika sampai di pemancar aku melihat ke belakang ternya teman kami Yon Pen belum juga terlihat cahanya lampu motornya. Kami berdua memelankan motor dan memasang rokor sambil menungguh teman kami berdua Yon.

Baca Juga    : 24-desember

Tak lama kami berdua menungguYon pet pun  tiba. ,” tadi saya punya ban motor terpleset. Ban depan menghadapat ke Nabire, sedangkan ban belakang menghadap ke Topo, ucap teman kami Yon pet,” mungkin ban motor yang botak ka, tadi kita dua juga hampir saja jatu, sambil berucap aku turun dari motor dan memastikan kondisi banku. Ternyata ban motor baik-baik saja.

Yon pet berkata,”  ini sa punya motor ban belakang yang kempes,,? Ooo iyo, mungkin pengaruh ban itu.

Hujan gerimis terus berguyur membasahi dedaunan pohon rindang yang tumbuh di kiri kanan jalan. Kami bertiga melewati lereng gunung yang mendapat banyak julukan, Ekobai, Pintu Gerban atau Perbatasan suku Mee di gunung dengan, Buna di pantei. Di dalam pembagian tuju suku wilaya di Papua, Nabire Pantei masuk di Saileri, sedangkan Nabire gunung termasuk dalam Meepago.

Kata Ekobai sendiri berasar dari bahasa Mee, yang artinya” potong dia” Tikam dia”. Saya akan menjelaskan sedikit tentang sejarah kelam. Dulu wilayah Distrik Uwapa. Ekobai sampai dengan kali Bumi ini menjadi tanah rampasan oleh, orang gunung dan pantai.

Sampai saat ini, orang pantai masi mengangap perbatasan pantai dengan gunung jatu tepat di Kali Bumi. Tetapi Suku Mee berangap, perbatasan jatu tepat di gunung Ekobai.

Sesuai kesepakatan yang terjadi pada saat itu tahun 1985. Yang di saksikan oleh orang tua kepala suku Mee di gunung dan kepala Suku besar di pantai, ada beberapa masyarakat serta pemerintah. Menyaksikan kalau, untuk perbatasan, jatuh tepat di gunung Ekobai, untuk penanda sendiri batu pilar, di tanam tepat di bawah pohon beringin, yang sampai saat ini kita bisa lihat disamping jalan. Kalau dari Topo pehon beringin berada di sebelah kiri jalan, apa bila dari Nabire pohon beringin berada di sebela kanan.

Dengan perlahan kami melewati di bawah kaki gunung Ekobai. Ketika menaiki tanjakan Ekobai, ada sebuah mobil Hailux yang melintang di tenga jalan, saya hanya berfikir ini pasti mobil yang ingin kembali ke Nabire. Ketika sampai di gunung Ekobai bau solar mulai tercium, dari dalam aspal. Ternyata ada orang yang sengaja menumpahkan solar di aspal. Kerena terlalu licin kami bertiga dengan berhati-hati, kami pun sampai di tempat rata dimana batu piral itu di tanam, di bawah pohon beringin.

Kami bertiga dengan perlahan terus melaju, ketika sampai di turunan kali papaya. Turunan kali papaya sendiri turunan-nya agak curam.

Tidak jauh dari situ aku melihat ada mobil haliux yang stop di tanjakan, ketika mendekat aku melihat ternyata ia adalah Tidei dan pemilik mobil.” Eee kawan bagaimana mobil rusak ka,,,? Tidak tau ini saya coba tancap gas mobil tapi tidak mau naik, balasnya.

Pria itu turun dari mobil dan melihat kedua ban mobilnya,” tidak tau mungkin ban yang tidak mau putar ka,,,? Kawan jalan juga licin jadi ada yang segaja kasih tumpah solar jadi, cobo kawan pasang dobol baru naik, sabil berjalan naik di atas mobil pria itu berkat,,? Kawan coba lihat ban mobil putar ka tidak.

Aku melihat temanku Yon P yang jatu dengan motor di bawah sana dan ada dua mobil yang naik dari bawah hampir saja pria itu terlindas oleh mobil. Akan M yang lari pergi membantu yon untuk mengankat motornya.

Mobil haliux tersebut akhirnya sampai di gunung papaya. Dengan bantuan kedua kakiku aku meluncur pelang-pelang, menuruni tanjakan curam. Ketika sampai di tikungan, aku memarkirkan motorku ke aspal lama di samping jalan.

Ada lampu mobil yang terlihat dari bawah. Adoo dong jangan balap boleh, terfikir dalam benakku.

Mobil tersebut setelah mendekat kami bertiga berteriak,” jalan pelan pelan pelan, jalan licin, ada yang seganja kasih tumpah olih, teriak kami bertiga di dalam kegelapan malam.

Mobil hailux satu pintu melintang pas tepat di tikungan, banyak sekali orang yang melompat dari mobil tersebut, karena takut mobil tersebut masuk di jurang. Kalau dari kota Nabire menuju Distrik Uwapa jurang tersebut berada tepat di sebelah kiri. Jurang tersebut cukup jauh kedalaman-nya.

Banyak sekali Suku Dani yang di angkut oleh mobil tersebut. Menginggat peristiwa yang sudah terjadi di kampung Topo, pecah peperanggan antara Suku Dani dan Suku Mee, kerena sengketa tanah, aku memanggil sahabatku, Yon dan Akan untuk jalan lebih dulu.

Dengan bantua dua kaki kami berdua menuruni jalan aspal yang curam ketika sampai di tempat rata, kami berdua melihat keatas yon belum juga datang. Sembari membakar rokok kami berdua melihat ada lampu motor yang menyalah, kami berdua sudah bisa menebak kalau yang datang itu yon.

Teman ku Akan bergegas jalan kaki menaiki tanjakan untuk membantu Yon. Sampai di tengah tanjakan Akan menahan besih tempat duduk sedangkan Yon menurunkan kedua kakinya dan menuruni tanjakan tersebut dan sampai. Kita jalan, kataku sambil membunyikan motorku, teman ku Akan pun bergegas naik.

Dengan santai kami bertiga terus berkendara hingga sampai di bawah kaki gunung Topo Dini. Kami bertiga menaiki tanjakan tersebut, Yon sendiri sudah sampai di mata gunung sedangkan saya hampir saja mengapai puncak. Motorku sudah tidak mempuh untuk menancap, kerena jalan yang licin, apa bila aku paksakan, otomatis aku akan jatu.

Aku dan Akan mendorong motor hingga sampai di mata gunung Topo Dimi.

Sedikit pesan dari cerita ini.

Ini sedikit penyampain kepada pengendara motor maupun mobil yang sering turun naik. Apa bila hujan di jalan, jangan coba-coba untuk laju dengan kecepatan tinggi. Sebab ada orang yang ingin segaja mencelakakan kami, kuhsusnya OAP.

Saya mengajak kita OAP untuk saling membantu dan mengigatkan satu sama lain, itu yang utama. Kita sudah tinggal sendikit, mari tong baku jaga. Jangan sampai orang Papua tinggal cerita.

 

Oleh    : Ditome M

Pemeritah Kabupaten Nabire Sangat Berperan penting dalam Menjaga Hutan Mangrove

Foto : Tumbuhan Mangrove

Pohon mangrove adalah jenis tanaman tropis yang tumbuh baik di area pesisir, muara, atau rawa yang terendam air asin, terutama di wilayah pasang surut.

Di bibir Pantai Kab Nabire terdapat banyak Tumbuhan Mangrove. Tumbuhan mangrove terbentan dari Distrik Napan hingga Goni. Sebagai tugas dan tanggu jawab (DLH) sengat berperan penting dalam menjaga dan melestarikan tumbuhan Mangrove tersebut.

(Dinas Lingkungan Hidup) harus mempunyai, program tersendiri untuk membuat sosialisasi, kepada warga yang bermukin di, sepanjang bibir pantai Kab Nabire.

Pada tahun 2013 SD Adven 02 Air Mandidi Samabusa melaksanakan, kegian penanaman tumbuhan mangrove, pada saat jam pelajaran IPA. Paraktek seperti ini sangat berdampak positif dalam meningkatkan kulitas daya, ingat pada anak. Untuk menjaga kelestarian alam.

Bagi anak SD sangat membutuhkan, peraktek-peraktek positif yang membangun. Iya itu peduli terhadap alam sekitar, DLH dan Dinas Pendidikan harus ada kerja sama. Tidak mengubah kurikum yang sudah ada, tetapi harus adanya peraktek di luar sekolah, yang langsung di alam.

Mangrove menyesuaikan diri dengan lingkungan yang keras dengan akar yang kuat, berfungsi untuk melindungi pantai dari erosi, badai, tsunami, dan juga menyerap karbon.

Kita sebagai manusia, yang mempunyai akal dan pikiran wajib untuk melestarikan tumbuhan Mangrove tersebut. Untuk menjaga abrasi pantai.



Oleh            : Ditome M

Kohei Daba Tuhannya Suku Mee

 

Foto : Budaya Mee

Alkisah, di daerah pedalaman Nabire Provinsi Papua Tengah, tepatnya daerah Makewapa, atau Bomomani, hiduplah satu keluarga yang miskin.

 Mereka tidak memiliki makanan dan harta benda. Keluarga itu bernama Kibiuwo. Keluarga Kibiuwo terdiri atas lima orang, yaitu Ibu Kibiuwo, nama pertama Neneidaba, anak kedua Noku, dan anak ketiga Yegaku.

 Anak pertama dan kedua adalah laki-laki, sedangkan yang ketiga adalah anak perempuan. Nama ayahnya tidak pernah disebut sampai sekarang (masih dirahasiakan).

 Mereka tidak memiliki nuta (ubi jalar), nomo (talas), ugubo (sayur hitam), mege dan dedege (mata uang adat suku Mee), ekina (ternak babi), dan tidak ada harta benda lainnya. Saat itu, makanan yang ada hanyalah nuta (ubi jalar) jenis kadaka dan ugubo (sayur hitam). Saat itu, musim kelaparan dan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Tanaman nuta (ubi jalar), nomo (talas), boho (sayur gedi), eto (tebu) dan lainnya terbatas.

 Keluarga Kibiuwo duduk dalam rumah dan berbincang-bincang tentang bagaimana mengatasi kelaparan yang menimpa mereka. Tiba-tiba, Ibu Kibiuwo merasa ingin buang air kecil. Ia segera berlari ke belakang rumah dan secara tiba-tiba melepaskan air kemihnya. Dilihatnya, air kemih itu berwarna merah. Ternyata ia melepaskan air kemih dalam bentuk darah, tepat di atas rerumputan yang rendah.

 Dengan perasaan takut dan heran, Ibu Kibiuwo masuk ke rumah tanpa bersuara dan berkomentar. Ia terus bertanya-tanya dan merenungkan dalam hatinya, mengapa air kemihnya berdarah? Ia benar-benar bingung karena selama hidupnya belum pernah terjadi hal seperti itu. Baru pertama kali terjadi seperti itu.

 Mereka melanjutkan perbincangan untuk mencari cara dalam mengatasi kelaparan yang sedang dan akan menimpa keluarga mereka. Ibu Kibiuwo tidak menceritakan kejadian yang menimpa dirinya ketika buang air kecil di luar. Tiba-tiba perbincangan mereka terputus oleh suara tangisan bayi.

 Suara tangisan itu semakin keras, seakan meminta bantuan orang. Mendengar tangisan bayi itu, mereka segera berdiri dan keluar dari rumah untuk mencari tahu dari arah mana bayi itu menangis. Mereka berdiri di halaman rumah dan memperhatikan sekelilingnya.

Suara tangisan semakin mendekat, tetapi mereka tidak menemukan ibu yang menggendongnya atau ibu yang sedang melahirkan di sekitar rumah mereka. Mereka terus memantau di sekitar rumah untuk mencari perempuan yang duduk menyusui atau berdiri menggendong dan membujuknya. Tidak ada ibu yang melewati sekitar rumah mereka. Mereka terus melakukan pencarian. Tangisan terus menerus terdengar.

Dengan rasa ingin tahu, mereka pergi lebih jauh ke belakang, dan tangisan anak semakin keras dan semakin dekat. Tangisan bayi mengarah ke tempat di mana Kibiuwo membuang air kemih berdarah. Akhirnya, mereka menemukan seorang bayi lemah terbaring tepat di tempat Kibiuwo membuang air kemih. Mereka melihat bahwa air kemih yang berdarah itu sudah tidak ada lagi.

Melihat bayi yang tak berdaya itu, keluarga Kibiuwo merasa kasihan. Ibu Kibouwo mengambil bayi itu dan membawanya masuk ke dalam rumah, karena ia teringat kejadian yang menimpanya tadi. Ia merawat anak itu dengan senang hati, meskipun dalam keadaan sangat lapar. Bayi itu lahir dari keluarga yang miskin dan kesulitan makanan. Ibu Kibiuwo bertanya-tanya apakah anak ini lahir dari air kemihnya atau tidak.

Untuk memastikan hal itu, ia meminta anak-anaknya untuk pergi bertanya kepada warga setempat di sekeliling mereka. Warga sekitar heran mendengar cerita itu. Mereka justru bertanya siapa yang meletakkan bayi itu di dekat rumah keluarga miskin tersebut. Terutama karena di daerah itu tidak ada ibu hamil.

Baca Juga         : Anak-Dari-Seekor-Biyawak

Warga sekitar malah berdatangan ke rumah Ibu Kibiuwo untuk melihat bayi itu. Dengan begitu, Ibu Kibiuwo merasa yakin bahwa bayi itu berasal dari air kemihnya. Ia merasa bayi itu pembawa berkah bagi keluarganya. Namun, suaminya yang tidak disebutkan namanya itu merasa bahwa bayi itu adalah ayayoka yang berarti anak bayangan atau anak roh. Alasannya adalah karena anak itu tidak memiliki ayah dan ibu yang jelas. Lagi pula, Ibu Kibiuwo merahasiakan air kemihnya yang berdarah tersebut.

Suaminya berencana untuk membunuh bayi itu, tetapi Ibu Kibiuwo melarang keras untuk membunuh. Suaminya tetap ngotot untuk membunuh bayi lemah itu. Dia mengatakan bahwa ayayoka dapat membawa malapetaka bagi keluarga. Melihat niat suaminya, Ibu Kibiuwo memeluk dan terus membelai bayi tersebut. Melihat kasih sayang istrinya yang ditunjukkan melalui pelukan dan belaian, ia membatalkan niatnya untuk membunuh bayi itu.

Suaminya menganggap anak itu sebagai anaknya. Ia menamai anak itu sesuai pikirannya, yaitu “Ayayoka”. Hingga usia bayi itu enam bulan dia masih belum makan dan minum. Setiap kali Ibu Kibiuwo memberi makanan dan minuman ke dalam mulut bayi itu selalu dimuntahkan. Namun bayi itu sehat dan baik. Tidak pernah menangis untuk meminta makanan dan minuman. Ketiga anaknya (Neneidaba, Noku, dan Yegaku) melihat bayi itu sebagai adik mereka. Mereka sangat menyayanginya.

 Hari berlalu tahun berganti, anak itu tetap sehat dan baik. Melihat tubuhnya yang agak kecil, baik, sehat, dan berenergi, ayahnya memberi nama baru baginya, yaitu Koheidaba. Kohei (daba) berarti anak berbadan agak kecil, baik, tetapi sehat dan berenergi. Kohei menjadi nama yang dibanggakan ayahnya termasuk keluarga yang sederhana itu.

 Memasuki usia tujuh bulan, anak itu mulai menghasilkan melalui anusnya. Ia mengeluarkan makanan, harta, serta ternak. Semua makanan dan ternak yang dikeluarkannya masih dalam keadaan mentah dan hidup. Ia mengeluarkan ubi mentah, talas mentah, apu (jenis ubi jalar yang batangnya terikat pada pohon di sekitarnya), sayur hitam mentah, sayur lilin mentah, sayur gedi mentah, berbagai jenis tebu, berbagai jenis pisang, buah-buahan termasuk buah merah mentah dan sebagainya. Tujuan Kohei agar semuanya dapat diperbanyak.

 Berupa harta misalnya: mege (kulit kerang yang digunakan sebagai mata uang suku Mee); dedege (sejenis kulit kerang kecil berwarna putih untuk perhiasan leher), manik-manik biru tua yang digunakan sebagai perhiasan leher dan lain-lain.

 Sementara berupa ternak seperti: ekina (babi) yang masih hidup sebanyak dua ekor. Dua ekor babi itu pun berkembang dengan cepat, karena banyak makanan. Keluarga Kibiuwo menjadi keluarga yang sejahtera di daerah itu. Keluarga Kibiuwo tidak mengalami kelaparan lagi, kelahiran Kohei menjadi rezeki bagi kehidupan mereka. Setelah keluarga Kibiuwo sejahtera, penyebaran berita itu ke seluruh daerah. Melihat keluarga Kibiuwo yang sejahtera berkat kehadiran Kohei, muncul berbagai pendapat dalam masyarakat di daerah itu.

Ada yang bilang, Kohei hadir sebagai penyelamat dari krisis ekonomi; ada yang berpendapat Kohei sebagai pengumpul makanan, harta, dan hewan; ada juga yang percaya Kohei adalah perampas, pengumpul dan pembawa pergi kekayaan suku Mee, dan ada juga yang bilang Kohei hanya memperkayakan keluarganya sendiri oleh sebab itu dia harus diusir.

 Masyarakat daerah itu berpikir bahwa keluarga termiskin di daerah itu semakin kaya. Kecemburuan semakin meningkat. Masyarakat diam-diam sepakat untuk membunuh Kohei. Di saat yang sama, Ayah dan Ibu Kibiuwo mati secara bersamaan. Kohei menghibur ketiga saudaranya untuk tidak bersedih atas kepergian orang tua mereka. Namun mereka terus meratapi orang tua mereka. “Akan tiba hari yang indah ketika tidak ada orang kaya dan orang miskin. Semua orang akan hidup damai tanpa kekurangan apapun. Semua orang akan ditolong. Jangan tangisi mereka. Mereka akan hidup. ” Begitulah kata-kata Kohei menghibur.

 Sejak kepergian ayah dan ibunya, Kohei mengurus semua hal keluarga. Dia juga mengajari mereka tentang kehidupan yang indah tanpa permusuhan, tentang keadilan, tentang hak atas tanah dan lain-lain sambil bekerja untuk menciptakan makanan dan harta bagi mereka. Ketiga anak itu berkecukupan dan setara dengan masyarakat sekitarnya. Kesetaraan yang tiba-tiba berkat Kohei tidak diterima oleh masyarakat setempat. Mereka (masyarakat sekitarnya) terus membenci kehadiran Kohei.

 Kelompok masyarakat tertentu yang cemburu pada usaha Kohei mulai menyebarkan isu yang tidak benar. Mereka bilang, “Kita akan jadi miskin, tiga saudara ini akan menguasai kita. Mereka yang dulunya miskin kini mulai kaya. Dia (Kohei) hanya peduli pada keluarganya. ” Mereka menyebarkan isu itu ke seluruh masyarakat Mee.

 Mengamati isu yang berkembang itu, Kohei merasa perlu mengambil sebuah buku yang berisi seluruh adat istiadat, kebaikan dan kesempurnaan. Suatu hari dia mengutus Noneidaba dan Noku untuk pergi mengambil “gamakai mana kapoleise/ gamakai mana kapoleise” (sebuah buku tentang kehidupan, kebaikan dan kesempurnaan) yang ditulis Kohei. Hanya dia yang tahu tempat penyimpanan buku tersebut. Tidak ada orang yang mengetahuinya. Masyarakat sekitar tahu bahwa Noneidaba dan Noku sedang bepergian keluar dari daerah itu. Mereka tidak tahu untuk apa kedua pemuda itu pergi. Kesempatan itu benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat daerah itu untuk menyerang Kohei. Namun, dia berhasil melarikan diri ke arah Gunung Odiyai. Pengejaran berlanjut dari gunung ke gunung, terus berlari melewati kampung satu ke kampung lainnya, sungai-sungai besar di se beragi, bukit-bukit ditaklukkan.

 Pada suatu saat jumlah orang yang mengejarnya semakin banyak, dia semakin lelah. Panah yang ekor babi itu baik-baik, karena kamu akan diadili sesuai dengan perbuatanmu. ”

tertancap di lambungnya semakin membuat dia tidak bisa melarikan diri. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Kohei berkata:

 “Sesungguhnya saya memberi kalian makanan dan kekayaan, namun kamu tidak mengerti bahkan membunuhku. Karena itu sekarang kamu berusaha sendiri dengan susah payah. Rawatlah dua

 Akhirnya Kohei menghembuskan nafas terakhirnya. Ketika, Noneidaba dan Noku pulang membawa “gamakai mana kapoleise/ gamakai mana kapoleise” dari kejauhan terdengar tangisan adik Yegaku. Mereka berdua berlari masuk ke dalam rumah dan mendekati adiknya, ada apa dia meratap. “Adik…, itu adik… telah dikejar dan dibunuh semua orang di daerah ini. Dia sudah meninggal”, katanya sambil menangis. Mereka berdua masih bertanya-tanya mengapa adik mereka dibunuh. Sementara “gamakai mana kapoleise/ gamakai mana” masih belum diserahkan kepada Kohei untuk menjelaskan isi buku.

 Yegaku masih menangis. Ketika, dia ingin menjelaskan lebih lanjut tentang proses penyerangan dan pembunuhan, rumah mereka justru dikelilingi. Masyarakat sekitar sudah siap dengan panah untuk menyerang mereka berdua. Melihat kepungan itu, Noneidaba melarikan diri ke arah barat lalu berhasil melarikan diri ke dalam sebuah gua batu dan menghilang di situ.

 Pada saat yang sama, Noku melarikan diri ke arah timur. Namun sial, dia tertembak panah dan tidak bisa melarikan diri. Noku masih hidup tetapi dia menyerahkan diri untuk dibunuh sambil memegang erat-erat “gamakai mana kapoleise/ gamakai mana” di depannya. Dia membelakangi masyarakat (saat itu “gamakai mana kapoleise/ gamakai mana” ada di depan dia) dan pasrah untuk ditembak di punggungnya. Saat panah tertancap di punggungnya, Noku sempat berteriak dan mengatakan, “bunita manaido maa, peumanaido maa kiha dakati”.

dokegau ikepa kouha” (saya tinggalkan semua kegelapan dan kejahatan padamu). Lalu Noku berteriak histeris masuk ke dalam sebuah goa dengan membawa “lahmakai mana kapoleihe /lahmakai mana” lalu tembus ke daerah lain (dunia Barat).

 Semua orang yang mengejar dan membunuh Kohei dan Noku kembali ke rumah Kohei dan Noku. Di situ mereka memotong babi satu ekor dari dua ekor babi yang keluar dari anus-nya Kohei. Sementara, satu ekor babi berubah menjadi sebuah gunung dan kini dikenal dengan, “Gunung Duwanita”.

 Selanjutnya, mereka memotong kepala Kohei dan kulit perut babi, lalu menutup lubang gua bagian timur. Kemudian kepala babi dan perut Kohei menutup bagian barat. Sementara dagingnya mereka pesta bersama. Setelah semuanya berakhir, mereka pulang ke rumah masing-masing dengan teriakan kegembiraan (huuwaita), bergembira sambil berteriak-teriak.

 Segala rahasia Kohei tersirat dan tertulis dalam buku “lamakai mana kapoleise/lamakai mana”. Saat ini sedang dicari oleh sekelompok suku Mee yang menamakan dirinya, tota mana (kebiasaan turun temurun).


Oleh            : Ditome M

Manfaat Buah Rambutan

Buah Rambutan

Buah Rambutan sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Setiap daerah yang berada di Indonesia terdapat banyak tumbuhan pohon Rambutan yang rasanya banyak variasi. Nama Rambutan sendiri, familiar di kenal oleh orang awam.

Tauka kita bahwa, buah Rambutan yang kita konsumsi selama ini ternyata banyak mengandung manfaat untuk kesehatan tubuh kita.

Rambutan memiliki banyak nutrisi yang berperan penting untuk kesehatan tubuh dan membantu mengatasi berbagai penyakit, seperti yang dijelaskan di bawah ini :

Rambutan tidak hanya memiliki banyak vitamin C, tetapi juga mengandung berbagai nutrisi penting lainnya untuk kesehatan tubuh, yang meliputi:

Kalori: 82 kcal Protein: 0,65 g Lemak: 0,21 g Vitamin C: 4,9 mg Karbohidrat Bersih: 20 g

Magnesium: 7 mg Kalsium: 22 mg Kalium: 42 mg Zat Besi: 0,35 mg Serat: 0,9 g Tembaga: 0,07 mg Zinc: 0,08 mg Fosfor: 9 mg Natrium: 11 mg Mangan: 0,34 mg Vitamin B3: 1,4 mg.

Rambutan memiliki zat gizi yang sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh dan juga dapat membantu mengatasi berbagai jenis penyakit, seperti yang akan dijelaskan berikut ini :

1. Sumber Antioksidan

Vitamin C dan senyawa bioaktif seperti flavonoid terdapat dalam rambutan, yang berperan dalam melawan radikal bebas di dalam tubuh.

Kandungan antioksidan ini mampu mencegah kerusakan pada sel-sel dan menurunkan kemungkinan terjadinya penyakit kronis, seperti kanker serta penyakit jantung.

2. Meningkatkan Sistem Imun

Buah rambutan kaya akan vitamin C, yang bisa membantu memperkuat sistem imun dengan meningkatkan jumlah sel darah putih.

Dengan lebih banyak sel darah putih, tubuh kita menjadi lebih mampu melawan infeksi dari bakteri dan virus.

3. Menurunkan Kadar Kolesterol

Rambutan memiliki kemampuan untuk menurunkan kolesterol, yang berarti itu berperan dalam mengurangi kolesterol jahat (LDL) dalam darah.

Kandungan ini juga baik untuk menjaga kesehatan jantung dan menghindari penyakit pada sistem kardiovaskular.

4. Memelihara Kesehatan Sistem Pencernaan

Rambutan kaya akan serat yang sangat diperlukan untuk sistem pencernaan. Serat ini berfungsi untuk memperlancar proses makanan di usus, sehingga menghindarkan dari masalah sembelit.

Selain itu, serat juga berkontribusi pada pertumbuhan bakteri baik dalam sistem pencernaan, yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan mikroorganisme dan kesehatan usus.

5. Meningkatkan Kesehatan Kulit

Vitamin C dan antioksidan yang ditemukan dalam rambutan berperan penting dalam meningkatkan produksi kolagen, sebuah protein yang diperlukan untuk mempertahankan kekuatan dan elastisitas kulit.

Kolagen berfungsi untuk menjaga agar kulit tetap elastis, halus, dan tampak muda, serta membantu mencegah tanda-tanda penuaan dini seperti keriput.

6. Membantu Mengurangi Berat Badan

Rambutan kaya akan serat, yang dapat memberikan rasa kenyang lebih lama, sehingga mengurangi rasa lapar.

Di samping itu, buah ini memiliki kalori yang rendah, menjadikannya pilihan camilan sehat yang tidak menambah kalori berlebihan dalam diet, sehingga mendukung program penurunan berat badan tanpa membuat Anda merasa lapar.

7. Memiliki Sifat Antimikroba dan Antiinflamasi

Rambutan mengandung senyawa bioaktif, seperti tanin dan flavonoid, yang kuat dalam melawan bakteri dan virus penyebab infeksi.

Selain itu, senyawa ini juga membantu menurunkan peradangan dalam tubuh, sehingga dapat mengurangi gejala dari penyakit inflamasi.

8. Memberikan Nutrisi yang Diperlukan oleh Tubuh

Rambutan mengandung mineral penting seperti zat besi, tembaga, magnesium, dan kalium. Mineral-mineral ini penting untuk menjaga otot tetap sehat, menguatkan tulang, dan membantu sirkulasi darah yang baik.

Nutrisi ini mendukung tubuh agar dapat bekerja dengan baik secara keseluruhan.

Saat ini banyak sekali pohon Rambutan yang berbuah, di kota Nabire maupun Distrik Uwapa. Perkiraan buah rambutan akan di panen pada bulan April Tahun 2026. Bagi siapa yang berminat bisa langsung mengunjungi pasar Karang maupun pasar Oyehe.

Apa bila terasa kurang di pasaran, di Distrik Uwapa banyak sekali pohon rambutan. Bisa langsung beli di tempat. Bisa beli perkilo atau perpohon. Persatu kilonya di harga Rp 1000.0 ribu, apa bila perpohon di harga Rp 1.000.000 sampai dengan 2.000.000, akan di sesuaikan dengan kesaratan buahnya.

 

Oleh                : Ditome M


Anak Dari Seekor Biyawak

Foto Ditome M

Alkisah, di suatu daerah hiduplah seorang janda miskin, sebut saja namanya Mesina. Wanita itu tidak memilki siapa-siapa ia hidup hanya sebatang kara.

Di sekitar situ banyak sekali penduduk yang berdagang, jualan kayu, ikan, ubi jalar dan lainya. Pada suatu hari janda miskin itu pergi mencari kayu bakar di hutan untuk di jual ke pasar.

Ketika wanita itu tiba di hutan, langit mulai gelap gulita, sedikit lagi akan turun hujan. Wanita itu berlindung di bawah bandar kayu besar, butiran hujan pun turun, membasahi pepohonan di sekitar situ.

 

Di tengah hujan yang begitu besar, datang se-ekor biyawak berlindung di bawah bandar kayu itu juga, biyawak dan Mesina tidak terlalu jauh.

Wanita tua itu sangat ketakutan melihat biyawak yang semakin lama semakin mendekat padanya, wanita tua itu pisang tak menyadarkan diri.

 

Mesina tersadar ia sudah berada di dalam rumahnya, dalam hati, wanita tua itu bertanya-tanya,” bagaimana, saya bisa ada di rumah, pada hal saya tadi berada di tengah hutan, aa-aaa mungkin setelah saya pingsan pasti biyawak itu yang mengantar saya pulang, terlintas dalam pikirannya.

Satu bulan sudah setelah kejadian itu. Wanita tua itu telat datang bulan, dalam hati wanita tua itu bertanya-tanya apa kaa, saya ini hamil, tetapi tidak mungkin, soalnya saya belum berhubungan badan dengan siapa siapa.

 

Mesina pada bulan kedua belum juga datang bulan. Wanita itu berfikir, oooo ini pasti saya hamil. Delapan bulan sudah Mesina hamil besar.

Ketika memasuki bulan ke sembilan, mesina pun melahirkan, saat melahirkan tak ada satupun orang yang membantunya.

 Baca Juga        : telah-ingkari-janji

Ketika Mesina melihat apa yang telah ia lahirkan, ooo ternyata anak biyawak. Mesina membungkus anak biyawak itu dengan kain dan menaruhnya di atas tempat tidur. Mesina banyak berfikir, apa kaa biyawak ini saya harus buang atau tidak. Akhirnya Mesina memutuskan untuk memelihara anak biyawak itu, sampai besar.

 

Mesina banyak berfikir bagaimana saya bisa mendapatkan anak biyawak, Mesina teringat dengan kejadian di hutan pada saat mencari kayu bakar.

 

Biyawak itu ia merawatnya hingga telah memasuki umur tuju tahun. Biyawak itu berkata,” mama saya mau masuk sekolah, tidak bisa anak pasti kamu tidak akan di terima, soalnya kamu itu adalah biyawak, bukan manusia, balas ibunya.

Tidak mama saya pasti di terima, tolong mama antarkan saa ke sekolah, karena ke inginan biyawak untuk masuk sekolah, ibunya pun meng iya kan.

 

Hari itu Mesina dan biyawak tersebut pergi ke pasar untuk belanja pakian seragam SD. Dalam perjalanan ke pasar banyak sekali orang yang mengertawahkan anak biyawak tersebut,” sayang hiraukan perkataan mereka, kita jalan saja, kata ibunya.

Ketika sampai di pasar, Mesina membeli pakian SD buku pensil dan lainya. Ketika sampai di rumah Mesina banyak berfikir bagaimana keadaan anak saya ini, setelah saya mendaftarkan-nya di sekolah nanti. Jangan pikirkan saya mama, soalnya saya akan baik-baik saja, balas biyawak itu.

 

Pagi itu Mesina pergi ke sekolah untuk mendaftarkan nya. Ketika sampai di depan sekolah banyak sekali siswa siswi yang menatap ibu dan biyawak itu. Banyak sekali yang perhatikan kita mama kata biyawak itu,” hiraukan saja, balas ibunya.

Ketika sampai di dalam ruang kantor guru-guru itu bertanya,” mau daftarkan siapa,” saya mau daftarkan anak saya, biyawak ini, guru-guru di kantor itu tertawa, apa biyawak ini mau sekolah disini. Ibu itu membalas, anak saya ini bisa membaca dan menulis.

Biyawak itu di tes oleh guru-guru disitu. Panitian penerimaan siswa baru berkata,” anak ibu kami terima, besok sudah bisa sekolah. Mesina dan biyawak itu kembali kerumah, dengan gembira.

 

Keesokan paginya biyawak itu pergi ke sekolah. Ia tidak melewati jalan besar. Biyawak itu lewat selokan.

Naik kelas dua biyawak itu mendapat rengking satu, naik kelas tiga dapat rengking satu, sampai pada kelas enam biyawak itu mendapat lulusan terbaik.

 

SMP pun sama biyawak itu mendapat lulusan terbaik peringkat pertama. Kelas tiga biyawak itu mendapat lulusan terbaik.

 

SMA pun sama naik kelas sampai ujian akhir biyawak itu mendapat yang terbaik. Ketika mendaftar kuliah biyawak itu sudah besar.

Setelah empat tahun berlalu biyawak itu telah selesai dari jurusan HI dengan nilai yang sangat memuaskan.

 

Sore itu datang seorang petugas kerajaan menganterkan surat undang untuk ulan tahun raja. Pagi itu Mesina dan biyawak itu bersiap siap.

Acara di kerajaan itu sangat ramai dengan ribuan orang yang memenuhi ruangan itu. Mesina dan biyawak itu di panggil oleh raja untuk perkenalkan kepada keluarga kerajaan.

 

Mesina bercerita kepada raja,” bapak saya ingin meminta anak bapak untuk menjadikannya menantu ku, ooo boleh-boleh saja. Anak-anak saya ada dua belas orang semuanya cewek, saya akan menyuruh mereka untuk siapa yang bersedia menjadi menantu ibu, balas raja itu.

Anak raja, pertama masuk ke dalam ruangan, ayahnya bertanya apa kaa, kamu ingin menikah dengan biyawak ini, saya menolak lamaran ibu ini balas anak raja itu, ketiga pun menolak, seterusnya, sampai pada anak terakhir dari raja itu.

 

Raja bertanya apa kaa kamu akan menikah dengan biyawak ini, iya ayah saya terima lamaran-nya balas cewek itu.

Kamu sudah sah menjadi istri biyawak ini, sekarang juga kamu kemas barang-barang dan pergi mengikuti Mesina dan biyawak ini kerumah mereka.

Mereka bertiga pulang sampai di rumah. Ke esokan paginya biyawak itu pergi mandi di belakang rumah.

 

Mesina dan Wanita itu kaget oleh kedatangan seorang pria mudah dan gagah perkasa berdiri di depan pintu rumah.

Mesina bertanya ini dengan siapa. Saya biyawak itu balas pria tersebut. Mesina sangat bangga dengan perubahan wujud si peria itu. Biyawak dan wanita tersebut akhirnya di karuniai tiga orang anak.



    Oleh                : Ditome M

Koba-Koba Papua

Koba-Koba Papua

Koba-koba merupakan payung tradisional yang berasal dari beberapa suku yang ada di Papua, terutama dari suku Mee, Moi dan Maybrat. Payung ini dibuat dengan menggunakan bahan alami yang diperoleh dari hutan. Memiliki rangka dari daun, payung ini tidak hanya tahan air, tetapi juga sering dipakai untuk melindungi diri dari cuaca panas atau hujan. Koba-koba memperlihatkan kearifina lokal dalam memanfaatkan sumber daya hutan yang bukan berasal dari kayu.

Asal dan Fungsi

Koba-koba adalah payung alami yang dimanfaatkan oleh suku Mee, Moi dan masyarakat Maybrat di Papua.

Bahan

Payung ini terbuat dari tanaman yang tumbuh di hutan dan di jahit, biasanya daun tersebut dengan tulang dan sisi daun, banyak sekali duri. Pada saat mengambilnya dari pohon harus berhati-hati, agar duri tersebut tidak terkena pada tubu kita. Tumbuhan tersebut hampir sama dengan daun buah merah.

Pohon Buah Merah

Baca Juga    : apa-itu-koteka

Kegunaan

Selain berfungsi sebagai payung, koba-koba juga dapat digunakan sebagai tikar.

Keistimewaan: Koba-koba adalah bentuk pelestarian pengetahuan dan budaya lokal yang ramah lingkungan.


Oleh                : Ditome M

ASAL MU ASAL NAMA DITOME

Ditome/M

Kata Ditome merupakan singkatan dari Dipa, Topo, dan Menou yang terletak di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua.

Nama Ditome berasal dari acara keagamaan Kristen Protestan yang berkaitan dengan pelantikan kelasis, serta upaya untuk menyatukan tiga wilayah Dipa, Topo, dan Menou di Kecamatan Uwapa Topo (Uwapa sebagai kecamatan induk). Istilah Ditome diambil dari dua huruf awal dari Dipa, Topo, dan Menou, yang menjadi Ditome.

Kondisi kehidupan masyarakat di Ditome mencakup pemakaian pakaian adat budaya Papua. Populasi di sini sekitar 20. 000 orang. Penduduk yang tinggal di Ditome meliputi warga asli yang berasal dari daerah pegunungan dan pesisir, serta warga non-pribumi yang merupakan hasil dari transmigrasi.

Pedagang jalanan. Sebagian besar penduduk mencari nafkah dengan berkebun dan bertani. Rata-rata, lokasi berkebunan mereka tidak tetap dan sering berpindah-pindah.

Hasil pertanian yang paling menonjol adalah coklat. Dipa terletak cukup jauh dari kota, sehingga kehidupan masyarakatnya masih sangat sederhana.

Kesederhanaan ini bukan disebabkan oleh kondisi geografis atau faktor lainnya, melainkan karena kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap Dipa, Topo dan Menou bernasib sama  baik dari pemerintah provinsi maupun kabupaten.

Meskipun saat ini Topo berfungsi sebagai kecamatan utama dan sudah ada pemekaran kecamatan Dipa dan Menou, kehidupan masyarakatnya masih tetap terikat pada cara hidup yang lama, dengan cara bertani.

 

Oleh                : Kel Magai

Back To Top