![]() |
| Foto Sepeda D/M |
Kejadian ini saya alami sediri pada tahun 2003 di kampung Topo Distrik Uwapa Kab Nabire Provinsi Papua Tengah.
Hari ini aku sangat bahagia
sebab, sepeda kakakku yang rusak baru saja ku betulkan kemarin. Apa bila aku
bisa mengendarai sepeda sendiri, hari ini, aku akan berkendara, ke sekolah.
Pagi itu, aku melintasi
jalan, di bawah awan putih, tanpa terik mentari yang sebentar lagi akan
bersinar, menerangi jagat raya ini.
Aku melihat kiri dan kanan,
terdapat benyak sekali semak belukar dan pepohonan rindang yang menutupi kiri
kanan jalan ini. Jalan ini sangat sepih. Saat itu masih tahun 2003, belum
banyak motor mobil yang, lalu lalang seperti sekarang.
Jalan yang aku lalui saat
ini, banyak sekali lubang yang terisi dengan air dan sangat dalam. Untuk ke-sekolah,
aku yang selalu bangun terlebih dahulu, di banding kedua saudara ku. Kami tak
perna jalan bersama, pada hal kami sekolah di tempat yang sama.
Ketika sampai di sekolah,
aku mengikuti mata pelajaran seperti biasa. Dua mata pelajaran pun usai, kami
berjalan pulang melewati jalan pemerintah penghubung, empat kabupaten, Dogiyai,
Deiyai, Paniai dan Intan Jaya.
Terik mentari yang begitu
menyegat, sampai ke pori-pori kini ku rasa. Kerigat yang mengucur deras
membasahi seragam sekolah yang aku kenakan.
Ketika sampai di rumah aku
mengucapkan,” selamat siang bapa mama, ibu ku yang lagi duduk di ruang tamu
sambil merajut noken. Ibuku melirik ku dan membalas,” selamat siang juga.
Aku membuka sepatu di pintu masuk rumah,” nanti
ambil makana, di dalam tundung, mama
sudah timba buat koo, usai membuka pakian. Aku langsung menuju dapur untuk
mengambil makanan. Aku melahapnya, hingga habis.
Aku duduk di samping ibuku
yang lagi merajut noken,” mama sa pergi, latihan bawa sepeda dulu, kata ku,”
koo bisa bawa sepeda, ka tidak, balas ibuku dengan nada tidak yakin,” sa
belajar too mama, kataku percaya diri. Aku berjalan pergi,” koo belajar bawa
sepeda tapi hati-hati,” iya mama, sambil mengambil sepeda yang terparkir di
samping rumah.
Dari rumah aku mendorong
sepeda sampai ke jalan besar. Sambil melihat ke rumah apaka ibuku melihat
diriku. Sepeda ini sangat tinggi aku tak bisa duduk di tempat duduk, otomatis
kakiku tidak sampai di tanah. Ini baru pertama kali aku mengendarai sepeda
sendiri.
Aku duduk antara stir sepeda
dan tempat duduk. Kaki kananku di pedal dan kaki kiriku mendorong tubuhku agar
sepeda ini bisa maju. Aku belum tau arah jalan yang harus ku ambil, kanan atau kiri.
Tidak jauh berjalan, aku
melihat adik ibuku yang datang dari arah berlawanan. Yang juga mengendarai
sepeda.
Ketika sampai di bukit, aku
masih saja mendorong sepada serta tubuhku mengunakan kaki kiriku, semakin lama
ke lamaan, sepeda ini semakin kencang.
Baca Juga : tertusuk-besih bronjong
Adik ibuku, yang sudah pas,
mengambil arah jalan di sebelah kanan. Tetapi aku yang masih bingung mengambil arah
jalan, kanan atau kiri. Tangan ku yang mulai gementar, pikiran ku yang tidak
konsentrasi dan terpecah belah, kini aku pun masuk di jalan berlawanan.
Adik ibuku mengambil jalan, di
kiri, aku pun mengambil kanan, jarak kami berdua sudah sangat dekat, langsung
aku dan adik ibuku saling tabrakan.
Adik ibuku hampir saja
menamparku,” kalau koo tidak tau bawaaa, jangan ko bawa di jalan besar, nanti
koo bisa dapat tabrak dengan mobil atau motor, aku hanya terdiam tanpa berucap.
Aku hanya terdiam tanpa
suara dan berjalan pergi meninggalkan adik ibuku. Aku masih saja duduk di
tempat yang sama. Kaki kanan berada di pedal sepeda sedangkan, kaki kiri berada
di tanah untuk mendorong tubuhku agar sepeda ini terus maju.
Aku sampai di rumah kakak
ibuku. Terdengar di telingga suara teriakan dari dalam rumah itu,” adik tunggu,
sa ikut. Aku pun stop di depan rumah itu. Tak lama kemudian ada seorang kakak
yang keluar dari dalam rumah itu. Sebut saja namanya Yafet. Kakak Yafet,
kakinya lumpuh sebela.
Lelaki itu ia bisa berjalan
dengan bantuan kayu buah, pengganti kakinya, yang lumpuh.” Adik sa ikut ka,,,?
Aaa jangan, sa baru belajar bawa sepeda ini, nanti kita jatu, kataku
menolaknya,” kita jatu juga, bukan orang lain too, jadi sa ikut. Kakak Yafet ia
memaksa untuk ikut.
Tanpa berfikir kecelakaan
yang akan menimpa kita berdua. Tidak enak juga aku menolak kakak Yafet. Aku
langsung mengiyakan.
Kakak Yafet ia naik di
belakan. Aku yang masi saja mendorong sepada ini dengan kaki, kiriku. Di depan
sana ada turunan gunung yang agak terjal. Jalan ini masih timbunan pasir,
campur batu.
Ketika sampai di turunan
gunung itu, aku berkata,” kakak tahan. Kakak Yafet pun membalas dengan cepat,”
tidak pa-pa, jalan saja.
Kami berdua menuruni
tanjakan itu, sangat kencang. Aku mencoba meramas rem sepeda, hampir saja kami
berdua jatuh kerena, ban sepeda yang cakar di batu krikil. Jembatan di depan
sana terbuat dari papan besih.
Papan besih yang di paku
hanya tiga lembar, di tengah papan yang di paku tersebut, ada celah berukuran
ban sepeda yang kami berdua pakai.
Sepeda yang kami berdua
kenakan terus melaju, tangan ku sudah sangat gemetar. Pikiran ku sudah
melayang,” ini pasti, kami dua jatu, aku berucap dalam gumanku.
Ketika sampai di jembatan
itu, ban sepeda langsung masuk ke dalam celah papan hingga, sepada langsung
rol, aku jatuh pas di atas jembatan. Perut dan muka ku sangat kesakitan, karena
terhempas papan besih, sedangkan kakak Yafet jatu, langsung tercebur dalam
kali.
Sakit bercampur hawatir aku
langsung bangung, melihat kakak Yafet. Di atas jembatan hanya ada sepada
sedangkan kakak Yafet, tidak ada. Ternyata kakak Yafet sudah tercebur masuk
kali.,” Kakak ko punya keadaan bagaimana,,,,? sa tidak papa, Cuma sa punya tongkat
yang patah, Yafet, memata kayu gamal, sebagai pengganti tongkat yang patah dan
naik ke jembatan.
Aku melihat kondisi sepeda
baik-baik saja. Tubuh kakak Yafet yang basa kuyuk, langsung naik di belakang,”
kak kita pulang ke rumah ganti pakian dulu ka,,,,? tidak papa, jalan saja,
nanti sa jemur pakian di kali Polisi,
menjawabku dengan nada santai.
Dengan bantuan kaki kiriku
aku terus memajukan sepeda yang kami berdua kenakan. Ada motor yang datang dari
arah berlawanan, sepeda yang kami berdua kenakan masih melaju. Di samping kanan
jalan terdapat rumah sakit.
Ketika sampai di perempatan
jalan, aku mengambil, arah berlawanan, ungtung saja motor tersebut, mengambil
arah berlawanan. Hatiku berdegup kencang. Hampir saja kami berdua terlindas
motor.
Ketika sampai di jalan
pemerintah, aku mengambil kiri. Aku terus maju dengan bantuan kaki, kiriku.
Tidak jauh dari situ, aku bisa melihat jalan turun kali Polisi.
Ketika sampai disana, kami
berdua jalan perlahan sambil mendorong sepeda hingga sampai di kali Polisi.
Kali ini biasanya di bilang kali, Topo, tetapi mungkin banyak Polisi yang
biasanya berdatangan untuk mandi, makanya orang-orang menyebutnya dengan
sebutan kali polisi.
Ketika sampai di kali Polisi,
ada dua orang temanku yang lagi mandi. Saya dan kakak Yafet pun, ikut
bergabung.
Aku belum bisa berenang,
hari itu kakak Yafet mengajariku berenang hingga aku bisa berenang. Kami berdua
langsung pulang, ketika sampai di jalan besar, aku sudah bisa bawa sepeda,
duduk di tempat duduk.
Hari ini aku sangat bahagia
sebab, aku bisa tau dua hal, dalam satu hari. Bawa sepada dan berenang di kali.
Sumber Lisan : Ditome M
Oleh : Ditome M
Terima kasih telah membaca. Sepeda Kakak Ku.Silakan bagikan...!

Kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca, tetapi yang bersifat membangun.
ReplyDelete