-->

Berita, Artikel, Cerpen, Cerita Rakyat, Horor, Budaya Papua, Religi, Book Bacaan, Biografi

Motivasi Menulis

Tertusuk Besi Bronjong

 

Ude
Ude (polkadot) D/M

Ketika pulang sekolah, kami ada beberapa teman berjalan kaki, melintasi jalan raya, di bawah panas mentari yang begitu menyengat. Di dalam perjalanan kami di temani dengan tawa riya.

Ada seorang sahabat yang berkata,” sebentar kita mandi di bawah jembatan kali Topo ka, dari belakang, ada yang menambahkan,” iyo betul kemarin kita main jadi jadian, pokoknya rame sekali. Saat itu kami masih SD kelas dua, yang ada di pemikiran hanyalah main dan main. Dalam benakku terlintas? ah ah ah ah, ini pasti seru,kalau pergi mandi.

“Selamat siang, sapaan ku, tetapi tak ada yang membalas. Aku melempar pakaian noken ke dalam kamar dan menuju dapur, di atas meja ada tempat nasi dan loyang sayur. Dengan cekatan aku mengambil piring dan menimba makanan. Dengan cepat aku menghabiskan makananku, di dalam piring.

Lantai rumah ku berbunyi, tuk-tuk, maklum rumahku ini memang panggung. Mata ku mengawasi setiap kamar, apakah ada orang. Kesempatan tak ada orang di rumah, aku berlari pergi meninggalkan rumah, menuju kali Topo.

Ketika sampai di palang, dekat jalan raya, aku mendengar suara teriakan terdengar men gemah di bawah jambatan kali Topo. Di dalam benakku terlintas, ooo ini pasti orang rame ini. Aku memasuki rimbunan pohon pisang yang sangat banyak dan sampai di bibir kali Topo.

Di bawah jembatan, terdapat  bronjong enam meter, yang tiga di dalam air, sedangkan yang tiga di atas kulit air. Bronjong itu dibuat, untuk menahan kuda-kuda jembatan, agar tidak terkena erosi atau arus air, kali Topo.

Ada batang pohon besi yang menancap di dalam dasar kali itu, bagian ujungnya terlihat di atas kulit air. Batang pohon itu tidak jauh dari bronjong sebelah kanan. Banyak anak-anak yang bermain sambil melompat dari kayu tersebut.

Aku yang baru saja sampai. Meminta kepada mereka yang bermain kejar kejaran,” kamu, sa lagi tamba eee. Ooo iyo kalau begitu ko lari, Ip yang jadi, balas seorang sahabat. Aku masih saja duduk di atas bronjong memperhatikan Ip bagaimana ia mengejar teman-teman lain.

Ip sendiri ia seorang cewek sedangkan yang dikejar para, cowok. Ip ia suka bermain bersama pria di banding cewek. Mungkin karena cewek itu ia agak tomboy. Ip ia bersusah payah mengejar para cowok tetapi usahanya nihil.

Aku yang ke asik kan duduk di atas bronjong kaget Ip yang sudah timbul di bawah ku. Aku meloncat ke dalam air. Cewek itu pun masih terus mengejar ku.

Aku menyelam ke dalam dasar sungai untuk bersembunyi di samping bronjong. Mataku melihat ke atas, dari dalam air. Ip masih saja, putar-putar di atas ku.

Dengan diam aku merapat di bronjong di bawah dasar sungai dan naik perlahan ke permukaan, air sembari kedua tanganku memegang kawat yang melilit banyaknya batu, seakan aku tenga memanjat pagar kawat.

Sampai di deretan bronjong, yang kedua. Bagian testa sebelah kanan langsung tertusuk besi bronjong, dengan agak kuat aku mendorong tubuhku lepas dari bronjong tersebut, tetapi sangat sulit, kedua kalinya aku mencoba, tetapi belum juga lepas.

Nafas ku tinggal tunggu detik,  habis. Aku menundukkan kepalaku.  Akhirnya lepas dan langsung timbul di permukaan air. Aku memegangi testa ku, apakah bagian depan sudah robek atau belum, ternyata, tusukan itu, tidak terlalu besar.

Aku berpamitan untuk pulang ke rumah. Di dalam perjalanan pulang testa ku mulai membengkak, ketika sampai di depan rumah, aku melihat adik ibuku yang menegur,”Hei om kenapa itu, ko punya testa,” sa tadi mandi di kali Topo baru tertusuk besi bronjong om, balasku. Mari om, ko ikut saya ke rumah dulu, nanti sa kasih obat, aku pun mengikutinya.

Dalam perjalan menuju rumah adik ibu ku, aku hanya berpikir ini pastinya obat biasa yang di beli dari apotik atau di ambil dari puskesmas.

Aku duduk tepat di bawah pohon cemara menunggu adik ibu ku. Aku yang tengah  duduk asik terus memperhatikan pintu keluar rumah. Apa yang adik ibu ku bawa.

Pria itu pun datang duduk, tepat di sebelahku dan mengeluarkan sebuah dompet, dari dalam nokennya, di dalam dompet, banyak sekali daun kering.

Adik ibu ku berkata,” daun ini untuk, kasih sembuh, ko punya luka di testa itu. Daun ini dee punya nama Ude (polkadot). Daun ini yang dulu tetek-nenek moyang dong pake, untuk kasih sembuh dong punya luka, pana.  Aku hanya nurut-nurut saja. Memang cerita dan kepercayaan hanya orang tua yang tau.

Testa ku tertusuk bronjong sekitar empat mili kedalaman-nya. Pria itu mengambil selembar daun sembari merobek nya agar dapat di masukan di dalam lubang luka bronjong di testa ku.

Rasanya perih, saat di masukan. Bagian ujung Ude itu kentara, pria itu berkata,”ko punya luka, nanti sembuh dari bawah. Daun Ude akan keluar sendiri. Aku hanya menganggukkan kepalaku, tanda mengiyakan.” Om saya pulang dulu ke rumah,” tapi ingat jangan dulu mandi, nanti tunggu sampai luka betul-betul kering baru mandi,” ok siap om.

Tidak sampai satu minggu luka di testa ku sudah kering, bahkan Ude itu pun keluar dari lubang luka dengan sendirinya.

*****

Dari cerita ini, saya ingin mengulas sedikit. Ketika kita sakit, atau luka pada bagian tubuh, terkadang kita terbiasa dengan meminum obat, yang terlalu banyak mengandung bahan kimia.

Kita tidak menyadari bahwa kita mempunyai banyak sekali obat tradisional, yang kita bisa peroleh dari alam, untuk menyembuhkan banyak penyakit, salah satu contoh Ude, dapat menyembuhkan luka.

Dengan berjalannya waktu, paham-paham religius  berkata, apa bila kita menyembuhkan luka atau sakit menggunakan daun, kayu, sudah menduakan Tuhan.

Daun kayu juga, ciptaan Tuhan, mengapa kita harus takut untuk memakainya. Bahkan obat sendiri awal mulanya, dari kayu dan daun. Obat sendiri bahan mentah nya di ambil dari alam, lalu di produksi sehingga menjadi sebuah obat.

Tidak ada salahnya, apabila daun dan kayu digunakan untuk media penyembuh asalkan, daun dan kayu, tidak digunakan untuk mencelakakan orang lain. Apabila ada yang memakai daun dan kayu untuk, berbuat jahat, itu yang salah.


Oleh                            : Ditome M

 

Label: Cerpen

Terima kasih telah membaca. Tertusuk Besi Bronjong.Silakan bagikan...!

1 komentar on Tertusuk Besi Bronjong

  1. Kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca, tetapi yang bersifat membangun.

    ReplyDelete

Back To Top