-->

Berita, Artikel, Cerpen, Cerita Rakyat, Horor, Budaya Papua, Religi, Book Bacaan, Biografi

Motivasi Menulis

ARTI KEHADIRAN

Ditome M

Ada seorang pria bernama Boti Tibo, yang akrab disapa BT oleh keluarganya. Dia memiliki wajah tampan, sikap baik, dan rendah hati. Karena ketampanannya, banyak wanita yang terpesona padanya. Selama masa kuliah, dia dikenal sebagai orang yang maksmal dalam belajar dan memiliki kecerdasan tinggi. Sayangnya, Boti sedikit pemalu, yang terkadang membuatnya kurang percaya diri.

Di kota yang sama, terdapat seorang wanita cantik bernama Junitha. Dia dikenal sebagai sosok yang ramah, sabar, dan juga sederhana. Junitha aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap orang lain. Selain itu, dia sangat menyukai bunga, dan rumahnya dipenuhi dengan koleksi bunga yang mengesankan. Dari depan sampai belakang, halaman rumahnya dihiasi banyak bunga, termasuk di dalam rumahnya.

Junitha Betler adalah teman kuliah Boti. Mereka sudah berkenalan sejak masa kuliah, belajar di universitas yang sama dan mengambil jurusan yang serupa. Kini, setelah lulus tiga tahun lalu, mereka keduanya telah memasuki dunia kerja. Junitha bekerja di sebuah bank swasta, sedangkan Boti menjabat sebagai CEO di perusahaan makanan kaleng.

Saat kuliah, Junitha menjadi sosok yang ditaksir banyak pria, termasuk Boti. Dia selalu menjadi pusat perhatian para lelaki di kampus. Namun, Junitha pintar menjaga jarak dan menempatkan dirinya dengan baik. Baginya, persahabatan lebih penting. Dia merasa lebih mudah menemukan teman ketimbang musuh.

Suatu ketika, BT merasa malu untuk mengungkapkan perasaannya kepada Junitha, sehingga setiap pagi, dia mengirimkan sebatang mawar merah untuk Junitha melalui seorang penjual bunga. Saat itu, keduanya masih lajang.

Atas saran BT, penjual bunga secara rutin mengantarkan mawar merah dan meletakkannya di depan pintu Junitha setiap pagi. Setiap kali, pengirimnya tidak dicantumkan nama Boti, hanya alamat sang penjual. Boti sengaja melakukan ini agar Junitha merasa penasaran.

Selama seminggu, Junitha mendapatkan bunga mawar merah setiap pagi. Dia tidak mengetahui dari mana asal bunga-bunga tersebut. Setiap kali bunga itu diletakkan di depan pintunya, rasa ingin tahunya semakin meningkat, dan dia mulai bertanya-tanya dalam hati siapa yang selalu memberinya mawar merah.

Karena rasa kepenasaran yang besar, ia pun menemui penjual bunga tersebut.

“Hey, apakah Anda yang mengantarkan bunga mawar merah ini untukku?”

“Ya, Nona, saya hanya mengantarkan bunga itu untuk Anda. ”.

“Siapakah yang selalu memberiku bunga mawar merah?” dia bertanya dengan rasa ingin tahu yang mendalam.

Baca Juga : Jalan Yang Licin

“Pak Boti yang meminta saya untuk memberikan bunga mawar kepada Nona. Dia tinggal di sana,” katanya sambil menunjuk ke arah tempat tinggal Boti.

“Ooww, berarti dia yang setiap pagi memberiku bunga mawar,” pikirnya dalam hati.

“Ya, saya mengenal dia. Dia adalah sahabat lama saya waktu kuliah. Saya akan pergi menemuinya dan menanyakan hal ini,” ujar penjual bunga.

Dia segera pergi menemui Boti. Saat itu, Boti sedang mencuci mobil kesayangannya di depan rumah.

Melihat Junitha datang sambil memegang bunga mawar di tangan kanan, Boti tampak bingung dan sedikit gugup. Dia berusaha menyambutnya terlebih dahulu agar bisa tenang.

“Hey Junitha, selamat pagi! Baru kali ini saya lihat kamu lewat sini,” sapa Boti.

“Iya Bot, saya hanya lewat untuk menanyakan sesuatu. ”

Wah, hatinya semakin berdebar.

“Apakah kamu yang selalu mengirim bunga mawar untukku?” tanya Junitha.

“Ya, itu benar. Aku yang mengirim bunga mawar merah untukmu setiap pagi. Aku selalu menyuruh penjual bunga untuk mengantarkannya kepadamu,” jawab Boti dengan rasa malu.

“Mengapa kamu selalu memberiku bunga mawar merah?” tanya Junitha lagi.

“Karena aku suka padamu!” jawab Boti dengan spontan.

Lanjut Boti dengan serius, “Junitha, aku sudah menyukaimu sejak kita kuliah. Aku ingin mendekatimu, tetapi rasa maluku menghalangi. Aku merasa tidak percaya diri berbicara denganmu atau bahkan bertemu. Selalu tegang dan takut. Namun, di balik semua itu, perasaanku padamu sangat kuat!”

“Jika kamu menyukaiku, tidak adakah cara lain? Kenapa membuatku penasaran dengan bunga-bunga itu?”

“Bagiku, itu adalah cara terbaik untuk mendapatkan hatimu. Aku sengaja tidak menuliskan namaku di setiap bunga mawar itu, agar rasa ingin tahumu bisa menunjukkan bahwa aku yang mengirimnya. Inilah perasaanku padamu. Mau kah kamu menjadi pacarku?” Katanya dengan harapan yang menguatkan keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya.

Selama kuliah, Junitha pernah menyukainya karena ketampanan dan kepintaran Boti. Namun, baginya itu cuma hal biasa. Menyukai seseorang adalah hal normal bagi manusia. Tapi kali ini berbeda; Boti mengguncang kepercayaannya hingga Junitha jatuh hati padanya.

“Dari sekian banyak pria, baru kali ini aku menemukan seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta karena rasa ingin tahuku tentang semua bunga-bunga itu. Rasa ingin tahuku telah meluluhkan hatiku. Sekarang, cara kamu telah membuat aku benar-benar suka padamu. Aku ingin kamu hadir dalam hidupku, temani aku selalu. ”

Sejak saat itu, sampai mereka menjadi satu keluarga, Junitha selalu menerima setangkai mawar merah setiap hari. Setiap pagi, bunga tersebut diletakkan di depan pintu rumah. Ketika suaminya bertugas di luar kota, bunga tetap dikirim kepada Junitha. Saat suaminya sakit, bunga juga diantarkan. Setiap pagi, penjual bunga mengantarkan setangkai mawar merah untuk Junitha. Dia yakin bahwa bunga-bunga itu adalah pemberian Boti, suaminya.

Pada suatu waktu, suaminya meninggal dunia. Junitha merasa kehidupannya akan kehilangan keindahan karena suaminya telah tiada. Namun, tetap saja, sekuntum mawar merah tiba di rumahnya. Keesokan harinya pun demikian. Hari-hari berikutnya juga tidak berbeda. Hal ini membuat Junitha penasaran dan hatinya dipenuhi ketidaktenangan.

Suatu ketika, karena rasa ingin tahunya, ia kembali mengunjungi penjual bunga untuk menanyakan asal bunga mawar itu. Kemudian, ia menemui penjual tersebut.

“Hei, suami saya sudah meninggal satu minggu yang lalu, mengapa kau masih terus mengirimkan bunga untukku? Apa mungkin kau salah alamat?”

“Maaf Nyonya, menurut Tuan Boti, pengiriman bunga mawar akan berhenti jika Nyonya wafat. Ia berkata, ini adalah tanda kehadirannya dalam hidup Nyonya,” jawab penjual bunga.

Setelah mendengar perkataan itu, Junitha pun menangis. Dengan air mata yang mengalir, ia berbalik dan pulang. Dalam perjalanan, kenangan manis masa lalu kembali muncul, dan sendu setiap pagi ketika bunga tiba membuatnya semakin bersedih. Kenangan indah itu membuatnya tidak bisa menahan air mata yang membasahi pipinya.

Dia menyadari bahwa suaminya telah mengajarkan tentang arti kehadiran dalam hidup. Dia merasa menyesal, karena saat bersama suaminya, ia sering kali tidak hadir sepenuhnya. Junitha memahami bahwa kehadiran bunga membawa makna yang sangat penting dalam hidupnya.

Bagi Boti, bunga itu merupakan simbol kebahagiaan karena telah memiliki wanita yang dicintainya. Dia berkomitmen untuk mencintai Junitha hingga akhir hayatnya. Baginya, yang paling penting adalah kehadiran untuk Junitha, walaupun itu hanya melalui sebuah bunga, tetap memberikan makna mendalam dalam hidup bersama. Bunga adalah lambang dari kehadirannya.

 

Oleh                : Natalis Tebai

Label: Cerpen

Terima kasih telah membaca. ARTI KEHADIRAN.Silakan bagikan...!

0 Komentar untuk "ARTI KEHADIRAN"

Back To Top