-->

Berita, Artikel, Cerpen, Cerita Rakyat, Horor, Budaya Papua, Religi, Book Bacaan, Biografi

Motivasi Menulis

MANARMAKERI

Ditome M

Dahulu kala, terdapat seorang pria lanjut usia yang bernama Manarmakeri. Dia berasal dari desa Sopen yang berada di wilayah Biak, Numfor. Tubuhnya dipenuhi dengan luka kudis.

Pada suatu hari, dia mulai membuat kebun di sebuah bukit di belakang desa Sopen, khususnya di Yamnaibori.

Kebun itu ditanami dengan keladi, ubi jalar, labu, dan sejumlah jenis tanaman lainnya. Untuk melindungi kebunnya dari serangan babi liar, Manarmakeri membangun pagar di sekelilingnya. Di suatu pagi yang cerah, Manarmakeri berangkat menuju kebunnya. Setibanya di kebun, dia sangat terkejut karena semua tanamannya telah dimakan oleh babi hutan.

Ia memeriksa pagar, dan dia tidak menemukan tandatanda bahwa binatang telah masuk. "Dari mana binatang itu datang ya? Pagar ini masih utuh," ungkap Manarmakeri dengan rasa heran. Dia pun memutuskan untuk menjaga kebunnya pada malam hari.

Ketika malam tiba, Manarmakeri bersiap dengan makbak (tombak nibun) di tempat yang tersembunyi di pinggir kebun. Tibatiba, seekor babi hutan muncul di tengah kebun. Dengan penuh rasa marah dan heran, Manarmakeri melemparkan makbaknya ke arah babi hutan yang sedang makan tanaman.

Dalam sekejap, terdengar suara keributan disertai jeritan si babi hutan "Ae, ae. yamnai. (aduh. saya berhenti. )" Kemudian, babi hutan itu menghilang dengan tibatiba, membawa makbak yang telah tertancap di tubuhnya.

Keesokan harinya, Manarmakeri mengikuti jejak babi hutan melalui darah yang menetes di sepanjang jalan setapak. Akhirnya, dia sampai di sebuah goa di tengah hutan.

Manarmakeri masuk ke dalam goa dan melihat makbaknya bersandar di dinding dalam keadaan utuh dan bersih. Ketika dia menengok ke kiri dan ke kanan, terdengar suara yang menegurnya, "Siapakah kamu dan mau ke mana? Apa yang kamu cari di sini? Ambil makbakmu dan keluar membelakangi saya. " "Bagaimana saya harus bergerak?" tanya Manarmakeri. "Ikuti perintahku, jika tidak kamu akan terjatuh," jawab suara tersebut.

Sebelum melaksanakan perintah, suara itu menambahkan, "Apakah kau mengenali mereka?" Tibatiba, matanya terasa terbuka dan dia melihat sebuah kampung yang bersih, indah, dengan banyak penduduk, dan terang. Ternyata di sana tidak ada kemiskinan, kelaparan, penganiayaan, atau peperangan, dan penuh dengan kebebasan.

"Waktumu belum tiba untuk hidup di tempat ini, karena kamu masih ada di dunia sasar (semu). Kampung yang kamu lihat ini adalah tempat 'koreri'. Bawalah makbak itu dan kembalilah ke tempatmu," perintah suara itu. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Manarmakeri meninggalkan tempat itu dan kembali ke kampungnya.

Di tempat tinggalnya, dia merenungkan tentang rahasia koreri. Koreri adalah periode di mana manusia memasuki kehidupan yang baru, yang ditandai dengan kebebasan dan kebahagiaan.

Keesokan harinya, Manarmakeri mendengar berita bahwa anak Mananwir, pemimpin desa, melihat seekor Manswar, burung kasuari tua, bersama seorang gadis yang cantik di sebuah tanjung.

Burung kasuari itu berada di dalam air, membiarkan ikanikan kecil berdekatan dengan bulunya. Setelah itu, burung tersebut kembali ke pantai dan menggoyangkan tubuhnya, membuat ikanikan jatuh ke atas pasir.

Tibatiba, seorang gadis muncul dari semaksemak, memungut ikanikan itu, dan memasukkannya ke dalam inawen, semacam keranjang. Gadis kecil itu lalu naik di punggung Manswar, dan mereka berdua menghilang.

Anak Mananwir terpesona melihat sosok gadis yang luar biasa cantik itu. Dia bercerita kepada ayahnya tentang kejadian tersebut dan menyatakan keinginannya untuk menikahi gadis tersebut. Ayahnya pun mengajak seluruh penduduk kampung Sopen untuk bersamasama mencari dan menangkap burung kasuari tua dan gadis cantik yang bersembunyi di sekitar tanjung, tidak jauh dari Sopen.

Semua pria kuat di kampung Sopen berkumpul di rumah Mananwir untuk mendapatkan tugas menangkap kedua makhluk aneh itu.

Mananwir berjanji, “Siapa saja yang berhasil membawa pulang gadis cantik itu, maka ia akan menikahi putri bungsu saya. ” Setelah mendengar janji ini, para pemuda segera membentuk pasukan sepakat. Dengan semangat membara, mereka meninggalkan kampung Sopen untuk menuju tanjung tempat burung kasuari dan gadis tersebut bersembunyi.

Mereka mengepung tanjung dengan sorak sorai untuk mempersempit ruang gerak, tetapi rencana mereka meleset. Kasuari tua itu berhasil melarikan diri bersama gadis yang cantik. Upaya untuk menangkap pada hari pertama itu gagal.

Pasukan kembali ke kampung dan berkumpul untuk merencanakan strategi baru guna mengepung dan menangkap gadis itu. Keesokan harinya, pasukan kembali mengepung tanjung dengan rencana yang berbeda, namun hasilnya sama seperti hari pertama.

Kini mereka berkumpul di rumsram, rumah pertemuan pria, untuk menilai kegagalan mereka dan merancang strategi penangkapan untuk hari berikutnya. Secara kebetulan, Mananarmekeri, lelaki tua itu, lewat di depan para pemuda yang duduk di rumsram. “Hei, pemudapemuda, apa yang kalian bicarakan?” Beberapa dari mereka menjelaskan usaha yang sedang dilakukan. Mendengar ini, Manarmakeri menawarkan diri untuk ikut berburu.

Namun, tawarannya dijadikan bahan lelucon oleh para pemuda. “Kami yang masih muda dan kuat saja tidak dapat menangkap kasuari dan gadis itu, apalagi kamu yang sudah tua dan pengidap kudis ini…” ujar seorang pemuda.

Baca Juga : mengandung dari ikan lele

Ada pula yang merendahkan Manarmakeri, "Cis, sementara kami yang muda dan kuat saja tidak mampu, apalagi kau yang sudah tua dan penuh koreng. Lebih baik kau gunakan waktumu untuk mengusir lalat serta menghilangkan koreng di tubuhmu itu. " Mendengar kalimat menyakitkan tersebut, Manarmakeri memutuskan untuk tidak ikut lagi pada hari ketiga.

Ia ingin menyaksikan hasil dari upaya pengepungan pada hari itu. Hasil pengepungan di hari ketiga ternyata masih belum berhasil.

Anak Mananwir terusmenerus merindukan gadis tersebut. Ekspresinya semakin muram dan putus asa melihat serangkaian kegagalan yang dialami pasukan itu. Menyaksikan anak kepala kampung tersebut, para pemuda merasa malu. Kini, mereka tidak memiliki strategi lagi untuk menangkap gadis itu.

Saat ini, satusatunya cara yang bisa dilakukan pemuda adalah meminta bantuan kepada orang hobatan untuk menemukan metode mistik yang mampu mengalahkan kekuatan kedua makhluk tersebut. Namun, salah satu pemuda mengusulkan untuk mencoba sekali lagi. Kali ini tanpa banyak kata dan tanpa tawarmenawar, Manarmakeri memutuskan untuk berpartisipasi dalam usaha pengepungan pada hari keempat.

Seluruh pasukan sudah disusun dalam beberapa lapisan dan membentuk lingkaran di sekitar tanjung. Kini tidak ada celah yang tersisa untuk melarikan diri. Manarmakeri berada di area bakau yang berlumpur.

Suara pengepungan menyertai teriakan dan soraksorai dari pasukan. Kasuari dan gadis cantik tersebut merasa benarbenar terjepit. Satusatunya jalan untuk melarikan diri adalah melalui daerah bakau berlumpur yang tentunya tidak dijaga oleh para pemuda. Dengan diamdiam, kasuari itu mulai melewati area berlumpur, namun sayangnya.

Kakinya terjebak dalam lumpur dan memperlambat laju larinya. Manarmakeri yang sudah bersembunyi di tempat itu dengan mudah mengejar dan menangkap gadis itu dari belakang Manswar, memeluknya sekuat mungkin sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk melarikan diri.

Sementara itu, Manswar berhasil melarikan diri ke hutan. Dengan semangat tinggi, Manarmakeri membawa gadis cantik tersebut menuju Mananwir Sopen. Namun, sebagai gantinya, bukan anak bungsu yang dijanjikan sebelumnya, tetapi seekor babi.

Ia menerima hadiah itu dengan tenang sebelum menyerahkannya kepada saudarasaudaranya untuk dibakar (barapen). Manarmakeri mengizinkan mereka untuk mengambil kayu bakar, keladi, daun pisang, serta sayuran dari kebun miliknya, Yamnaibori.

Mereka mengadakan barapen di hutan dekat kebun Manarmakeri. Setelah masakan siap, babi dan sayur dibagikan kepada seluruh sanak saudara di kampung Sopen.

Harapan Manarmakeri untuk mendapatkan daging yang baik kini menjadi siasia. Ia hanya diberikan tulang kepala yang sudah tidak ada dagingnya. "Mengapa saudarasaudaraku sendiri memperlakukanku begini?".

Mereka tidak menganggap saya sebagai manusia. Saya telah membantu kepala kampung dalam menangkap putri kasuari. Hadiah yang saya terima bukanlah anak perempuan bungsunya. Sebagai gantinya, saya diberikan seekor babi.

Itu bukan semua yang terjadi. Babi tersebut telah diserahkan dengan baik kepada saudarasaudaraku untuk dimasak, bahkan kayu bakar, keladi, dan sayuran yang dimasak juga diambil dari kebun saya.

Pada akhirnya, saya mendapatkan bagian yang tidak layak. ” Mananarmakeri merasa sangat tidak dihargai sebagai anggota kampung Sopen. Sebagai hasilnya, Manarmakeri memutuskan untuk meninggalkan kampung yang sangat dicintainya.

Keeseokan harinya, sebelum warga kampung bangun, Manarmakeri mempersiapkan perahu kecilnya. Ia tidak melupakan dayung, konarem, dan tongkatnya. Saat perjalanan, angin dari Wambrau bertiup kencang dan menghasilkan ombak, sehingga ia mendarat di kampung Maundori.

Namun, ia tidak bisa mendarat karena terdapat banyak karang. Akhirnya, ia menggunakan tongkatnya untuk menciptakan jalur di antara karang dan berhasil menemukan tempat untuk mendarat. Setelah angin mereda, ia melanjutkan perjalanan di sepanjang pantai. Saat mendekati kampung Sorido, ia menangkap ikan dan membawanya ke rumah sepupunya, Padawankan, di kampung Mokmer.

Ketika ikan tersebut dimasak, mereka membaginya tanpa memikirkan istrinya. Istrinya bertanya mengenai bagiannya, tetapi ternyata semua sudah habis.

Istrinya marah, dan kemarahannya terdengar oleh Manarmakeri. Ia pun meminta izin untuk pergi ke Meokbundi. Manarmakeri tiba di Meokbundi dan berniat melakukan aktivitas yang disukainya, yaitu menyadap nira dari kelapa.

Ia meminta kelapa dari penduduk Sokani, tetapi tidak ada yang memberikannya. Manarmakeri kemudian mengambil kelapa yang bertunas dan menanamnya. Tanaman kelapa yang ia buat tumbuh dengan luar biasa. Kelapa tersebut tumbuh besar dan dapat dimanfaatkan. Manarmakeri hidup dengan menyadap nira dari kelapa.

Suatu hari, ia melihat bahwa nira di pohon tersebut habis diambil seseorang. Ia bertanya kepada orangorang di sekitarnya, tetapi tidak ada yang mengaku.

Karena itu, ia memutuskan untuk mengintai pencuri tersebut. Pada malam pertama, ia berjaga di bawah pohon. Namun, keesokan harinya, ia melihat bahwa nira masih dicuri. Untuk malam kedua, ia membuat porapora di tengah pohon kelapa, lalu ia menjaga. Namun, pencuri itu tetap datang dan mengambil nira.

Ia merasa penasaran dari mana pencuri itu mendapatkan nira. Pada malam ketiga, karena rasa penasaran dan kemarahan, ia naik dan bersembunyi di antara cabangcabang dan daun kelapa. Ia berjaga sepanjang malam dengan tekun. Menjelang fajar,.

Pencuri melayang turun ke puncak pohon kelapa. Manarmakeri berhasil menangkap pencuri tersebut, dan segera terjadilah pertarungan yang sangat sengit. Dalam perkelahian itu, ternyata pencuri itu adalah Makmeser atau Sampari (bintang pagi). "Bebaskan saya, karena hari sudah hampir siang!" ujar Sampari. Namun, Manarmakeri menolak untuk melepaskannya. "Saya tidak

akan membebaskanmu sebelum engkau memberikan apa yang telah lama aku impikan," tegas Manarmakeri.

Bintang itu menyebut berbagai hal yang ada di dunia, tetapi masih ada yang belum dia sebutkan, sehingga Manarmakeri tetap terdiam dan tidak melepaskan bintang tersebut. "Sampaikanlah sekarang, apa yang kau inginkan," kata Sampari. "Berikanlah kepada saya 'koreri syeben'," pinta Manarmakeri. "Karena matahari terbit, permintaanmu akan aku kabulkan, dan kini koreri telah kau miliki. "

Jika Insoraki, putri panglima Rumbrak, pergi ke pantai dan mandi bersama temantemannya, dekati dia dan petiklah buah bintanggur (buah pohon Mars) lalu lemparkan ke laut. Kamu akan menyaksikan sesuatu yang akan terjadi pada Insoraki, itu adalah kejadian koreri," kata Sampari. Setelah beberapa hari berlalu, ia melihat sejumlah gadis pergi mandi di pantai. Dengan cepat, Manarmakeri pergi dan bersembunyi di balik pohon Mars (bintanggur).

Ia mengamati satu per satu gadis itu dan melihat seorang gadis yang paling cantik, yaitu Insoraki. Ia memetik buah bintanggur dan melemparkannya ke laut. Buah itu hanyut dan mengenai payudara Insoraki. Insoraki terkejut dan mengambil buah itu, kemudian melemparkannya kembali ke darat. Peristiwa ini terjadi tiga kali berturutturut.

Setelah kejadian itu, Insoraki merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Orang tuanya terkejut ketika mengetahui bahwa putri mereka hamil. Mereka bertanya pada penduduk Meokbundi, namun tidak seorang pun yang mengetahuinya. Insoraki merenung tentang apa yang terjadi padanya, karena dia tidak pernah bergaul dengan lakilaki.

Ketika tiba saatnya untuk melahirkan, lahirlah seorang anak lakilaki. Karena anak itu lahir dan diperkirakan akan membawa perubahan dan kedamaian, mereka menamainya Manarbeu (pembawa damai). Anak itu tumbuh semakin besar dan sudah mulai bisa berbicara. Setiap kali ia menangis, ia selalu menanyakan tentang ayahnya. Suatu hari, mereka berkumpul dan bermufakat untuk mengadakan Wor (suatu pesta besar).

Dengan adanya pesta itu, Manarbeu dapat menunjuk siapa ayahnya. Pada hari yang ditentukan, para tamu sudah datang dan acara segera dimulai. Insoraki dan anaknya duduk di barisan depan agar Manarbeu bisa menentukan siapa ayahnya.

Pada acara tersebut para pemuda diwajibkan untuk melintas di depan Insoraki bersama anaknya. Namun, Manerbeu tidak mengenali satu pun dari mereka. Perarakan terakhir Manarmakeri ditujukan khusus untuk kelompok tua. Manarmakri berada di antrean bagian akhir. Manarmakeri tampak penuh dengan kudis, membawa tongkat serta sebatang daun untuk mengusir lalat.

Ketika ia melewati ibu dan anak itu, Manerbeu langsung menunjuk ke arah Manarmakeri dan berkata, "Ibu itu ayahku!" Saat anak tersebut ingin memeluk ayahnya, Insoraki menghalanginya karena merasa jijik dengan tubuh Manarmakeri yang tertutup kudis.

Manarbeu berhasil melepaskan diri dari pegangan ibunya dan mendekati ayahnya. Karena Manarmakeri dihina dan diusir oleh penduduk, mereka pun meninggalkan desa tersebut. Lalu, Insoraki memutuskan untuk ikut dan pergi bersama Manarmakeri menuju barat.

Ketika dalam perjalanan ke arah itu, Manarbeu tibatiba ingin bermain pasir di sebuah pulau dengan pasir putih yang muncul secara mendadak.

Setelah puas bermain, mereka melanjutkan pelayaran meninggalkan pulau Yapen dan berlayar menyusuri pulau Supiori yang semakin menjauh ke arah barat. Saat perjalanan berlangsung, tibatiba muncul sebuah pulau kecil di permukaan laut yang semakin besar. Ternyata, pulau ini lebih besar daripada pulau yang baru saja mereka tinggalkan dan tidak memiliki gunung.

Perahu karures milik Manarmakeri berlayar mengikuti garis pantai pulau tersebut hingga mencapai sebuah pulau kecil, di mana Manarbeu kembali ingin bermain pasir. Karena terus meminta untuk bermain, perahu pun terpaksa berlabuh agar Manarbeu bisa bermain di atas pasir.

Perjalanan dilanjutkan. Setibanya di pulau besar, ternyata pulau itu belum dihuni oleh manusia. Manarmakeri mengambil empat jerami yang ditancapkan di atas pasir dan mengucapkan mantra. Setelah melafalkan mantra tersebut, keempat jerami itu berubah menjadi empat suku asli pulau tersebut yang kemudian dikenal sebagai Pulau Numfor.

Manarmakeri memberikan peringatan kepada mereka agar jika salah satu dari mereka meninggal, tidak boleh ada yang menangisi, karena mereka akan dihidupkan lagi.

Jika mereka mengikuti permintaan ini, maka mereka akan hidup dalam kedamaian dan kelimpahan. Namun, kenyataannya mereka tidak mengindahkan apa yang dikatakan oleh Manarmakeri. Ketika ada di antara mereka yang meninggal, mereka pun meratapi kehilangan tersebut. Hal ini sangat mengecewakan Manarmakeri. Selain itu, ketika mereka mengalami kekurangan makanan, mereka berlayar kembali ke pulau Yapen dan menukarkan ikan untuk mendapatkan sagu, yang jelasjelas bertentangan dengan perintah Manarmakeri.

Kejadian tersebut membuatnya merasa sakit hati dan merasakan bahwa keberadaannya di wilayah itu tidak dihargai. Dia teringat kembali tentang pengalamannya di Sopen, kemudian di Meobundi, setelah itu di Krawi, dan akhirnya di Numfor. Manarmakeri merasa tidak nyaman tinggal di tempat tersebut.

Ia pun memutuskan untuk meninggalkan orangorang dan tanah kelahirannya untuk menemukan tempat yang lebih aman dan damai. Dia berangkat menuju suatu daerah yang tenang dan menenteramkan.

Dia memiliki rahasia tentang kehidupan abadi yang ingin dia bagikan kepada orang lain, namun tidak ingin dipahami, sehingga ia memilih untuk pergi. Dia berharap untuk suatu saat kembali dengan membawa kehidupan baru yang melimpah dan penuh dengan kedamaian abadi, seperti janji yang ditandai oleh kibaran sampari (bintang kejora).

Sebelum pergi, dia sempat meninggalkan pesan bagi warganya agar tidak suka membunuh, tidak mencuri milik orang lain, dan mempersiapkan rumah besar untuk menampung kekayaan yang akan datang dari arah barat.

Setelah menyampaikan semua pesan ini, Manarmakeri bersama istrinya, Insoraki, naik perahu untuk meninggalkan tempat itu. Namun, anaknya, Manarbeu, terlihat sangat senang bermain dengan pasir putih yang indah. Ketika Manarmakeri memintanya untuk naik ke perahu, Manarbeu menolak.

Dia sangat fokus bermain seolah pasir tersebut adalah teman sehidupnya, hingga dia enggan meninggalkannya. Untuk mengalihkan perhatian anaknya, Manarmakeri melemparkan sepotong kayu yang kemudian berubah menjadi ular berbisa.

Melihat ular itu, Manarbeu menjadi takut dan segera naik ke perahu. Sejak saat itu, ular berbisa tersebut berkembang biak di pulau Numfor dan sampai sekarang pulau itu terkenal dengan banyaknya ular berbisa.

Sekali lagi, Manarmakeri harus meninggalkan rakyatnya. Perahu pun segera berlayar meninggalkan Numfor menuju ke sebelah Barat. Dia menyebrangi lautan dan selat, menyusuri pantai di pulaupulau.

Manarmakeri sempat berhenti di sekelompok pulau yang sekarang dikenal sebagai Raja Ampat. Setelah tinggal beberapa lama dan menyebarkan ajarannya, ia melanjutkan perjalanannya ke barat. Sejak keberangkatannya, hingga kini ia belum kembali.

Menurut pesan yang ditinggalkannya, ia akan kembali di suatu waktu dengan membawa kedamaian, kekayaan, serta makanan yang melimpah. "Saat saya kembali, sampari akan berkibar dari ujung pulau hingga ujung lainnya di tanah ini. ".

 

Oleh                : Ditome M

Label: Cerita Rakyat

Terima kasih telah membaca. MANARMAKERI.Silakan bagikan...!

0 Komentar untuk "MANARMAKERI"

Back To Top