![]() |
| Ditome M |
Dahulu kala, terdapat seorang pria lanjut usia yang bernama Manarmakeri. Dia berasal dari desa Sopen yang berada di wilayah Biak, Numfor. Tubuhnya dipenuhi dengan luka kudis.
Pada suatu hari, dia
mulai membuat kebun di sebuah bukit di belakang desa Sopen, khususnya di
Yamnaibori.
Kebun itu ditanami
dengan keladi, ubi jalar, labu, dan sejumlah jenis tanaman lainnya. Untuk
melindungi kebunnya dari serangan babi liar, Manarmakeri membangun pagar di
sekelilingnya. Di suatu pagi yang cerah, Manarmakeri berangkat menuju kebunnya.
Setibanya di kebun, dia sangat terkejut karena semua tanamannya telah dimakan
oleh babi hutan.
Ia memeriksa pagar, dan
dia tidak menemukan tandatanda bahwa binatang telah masuk. "Dari mana
binatang itu datang ya? Pagar ini masih utuh," ungkap Manarmakeri dengan
rasa heran. Dia pun memutuskan untuk menjaga kebunnya pada malam hari.
Ketika malam tiba,
Manarmakeri bersiap dengan makbak (tombak nibun) di tempat yang tersembunyi di
pinggir kebun. Tibatiba, seekor babi hutan muncul di tengah kebun. Dengan penuh
rasa marah dan heran, Manarmakeri melemparkan makbaknya ke arah babi hutan yang
sedang makan tanaman.
Dalam sekejap,
terdengar suara keributan disertai jeritan si babi hutan "Ae, ae. yamnai.
(aduh. saya berhenti. )" Kemudian, babi hutan itu menghilang dengan
tibatiba, membawa makbak yang telah tertancap di tubuhnya.
Keesokan harinya,
Manarmakeri mengikuti jejak babi hutan melalui darah yang menetes di sepanjang
jalan setapak. Akhirnya, dia sampai di sebuah goa di tengah hutan.
Manarmakeri masuk ke
dalam goa dan melihat makbaknya bersandar di dinding dalam keadaan utuh dan
bersih. Ketika dia menengok ke kiri dan ke kanan, terdengar suara yang
menegurnya, "Siapakah kamu dan mau ke mana? Apa yang kamu cari di sini?
Ambil makbakmu dan keluar membelakangi saya. " "Bagaimana saya harus
bergerak?" tanya Manarmakeri. "Ikuti perintahku, jika tidak kamu akan
terjatuh," jawab suara tersebut.
Sebelum melaksanakan
perintah, suara itu menambahkan, "Apakah kau mengenali mereka?"
Tibatiba, matanya terasa terbuka dan dia melihat sebuah kampung yang bersih,
indah, dengan banyak penduduk, dan terang. Ternyata di sana tidak ada
kemiskinan, kelaparan, penganiayaan, atau peperangan, dan penuh dengan
kebebasan.
"Waktumu belum
tiba untuk hidup di tempat ini, karena kamu masih ada di dunia sasar (semu).
Kampung yang kamu lihat ini adalah tempat 'koreri'. Bawalah makbak itu dan
kembalilah ke tempatmu," perintah suara itu. Dengan rasa penasaran yang
tinggi, Manarmakeri meninggalkan tempat itu dan kembali ke kampungnya.
Di tempat tinggalnya,
dia merenungkan tentang rahasia koreri. Koreri adalah periode di mana manusia
memasuki kehidupan yang baru, yang ditandai dengan kebebasan dan kebahagiaan.
Keesokan harinya,
Manarmakeri mendengar berita bahwa anak Mananwir, pemimpin desa, melihat seekor
Manswar, burung kasuari tua, bersama seorang gadis yang cantik di sebuah
tanjung.
Burung kasuari itu
berada di dalam air, membiarkan ikanikan kecil berdekatan dengan bulunya.
Setelah itu, burung tersebut kembali ke pantai dan menggoyangkan tubuhnya,
membuat ikanikan jatuh ke atas pasir.
Tibatiba, seorang gadis
muncul dari semaksemak, memungut ikanikan itu, dan memasukkannya ke dalam
inawen, semacam keranjang. Gadis kecil itu lalu naik di punggung Manswar, dan
mereka berdua menghilang.
Anak Mananwir terpesona
melihat sosok gadis yang luar biasa cantik itu. Dia bercerita kepada ayahnya
tentang kejadian tersebut dan menyatakan keinginannya untuk menikahi gadis
tersebut. Ayahnya pun mengajak seluruh penduduk kampung Sopen untuk bersamasama
mencari dan menangkap burung kasuari tua dan gadis cantik yang bersembunyi di
sekitar tanjung, tidak jauh dari Sopen.
Semua pria kuat di
kampung Sopen berkumpul di rumah Mananwir untuk mendapatkan tugas menangkap
kedua makhluk aneh itu.
Mananwir berjanji,
“Siapa saja yang berhasil membawa pulang gadis cantik itu, maka ia akan
menikahi putri bungsu saya. ” Setelah mendengar janji ini, para pemuda segera
membentuk pasukan sepakat. Dengan semangat membara, mereka meninggalkan kampung
Sopen untuk menuju tanjung tempat burung kasuari dan gadis tersebut
bersembunyi.
Mereka mengepung
tanjung dengan sorak sorai untuk mempersempit ruang gerak, tetapi rencana
mereka meleset. Kasuari tua itu berhasil melarikan diri bersama gadis yang
cantik. Upaya untuk menangkap pada hari pertama itu gagal.
Pasukan kembali ke
kampung dan berkumpul untuk merencanakan strategi baru guna mengepung dan
menangkap gadis itu. Keesokan harinya, pasukan kembali mengepung tanjung dengan
rencana yang berbeda, namun hasilnya sama seperti hari pertama.
Kini mereka berkumpul
di rumsram, rumah pertemuan pria, untuk menilai kegagalan mereka dan merancang
strategi penangkapan untuk hari berikutnya. Secara kebetulan, Mananarmekeri,
lelaki tua itu, lewat di depan para pemuda yang duduk di rumsram. “Hei,
pemudapemuda, apa yang kalian bicarakan?” Beberapa dari mereka menjelaskan
usaha yang sedang dilakukan. Mendengar ini, Manarmakeri menawarkan diri untuk
ikut berburu.
Namun, tawarannya
dijadikan bahan lelucon oleh para pemuda. “Kami yang masih muda dan kuat saja
tidak dapat menangkap kasuari dan gadis itu, apalagi kamu yang sudah tua dan
pengidap kudis ini…” ujar seorang pemuda.
Baca Juga : mengandung dari ikan lele
Ada pula yang
merendahkan Manarmakeri, "Cis, sementara kami yang muda dan kuat saja
tidak mampu, apalagi kau yang sudah tua dan penuh koreng. Lebih baik kau
gunakan waktumu untuk mengusir lalat serta menghilangkan koreng di tubuhmu itu.
" Mendengar kalimat menyakitkan tersebut, Manarmakeri memutuskan untuk
tidak ikut lagi pada hari ketiga.
Ia ingin menyaksikan
hasil dari upaya pengepungan pada hari itu. Hasil pengepungan di hari ketiga
ternyata masih belum berhasil.
Anak Mananwir
terusmenerus merindukan gadis tersebut. Ekspresinya semakin muram dan putus asa
melihat serangkaian kegagalan yang dialami pasukan itu. Menyaksikan anak kepala
kampung tersebut, para pemuda merasa malu. Kini, mereka tidak memiliki strategi
lagi untuk menangkap gadis itu.
Saat ini, satusatunya
cara yang bisa dilakukan pemuda adalah meminta bantuan kepada orang hobatan
untuk menemukan metode mistik yang mampu mengalahkan kekuatan kedua makhluk
tersebut. Namun, salah satu pemuda mengusulkan untuk mencoba sekali lagi. Kali
ini tanpa banyak kata dan tanpa tawarmenawar, Manarmakeri memutuskan untuk
berpartisipasi dalam usaha pengepungan pada hari keempat.
Seluruh pasukan sudah
disusun dalam beberapa lapisan dan membentuk lingkaran di sekitar tanjung. Kini
tidak ada celah yang tersisa untuk melarikan diri. Manarmakeri berada di area
bakau yang berlumpur.
Suara pengepungan
menyertai teriakan dan soraksorai dari pasukan. Kasuari dan gadis cantik
tersebut merasa benarbenar terjepit. Satusatunya jalan untuk melarikan diri
adalah melalui daerah bakau berlumpur yang tentunya tidak dijaga oleh para
pemuda. Dengan diamdiam, kasuari itu mulai melewati area berlumpur, namun
sayangnya.
Kakinya terjebak dalam
lumpur dan memperlambat laju larinya. Manarmakeri yang sudah bersembunyi di
tempat itu dengan mudah mengejar dan menangkap gadis itu dari belakang Manswar,
memeluknya sekuat mungkin sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk melarikan
diri.
Sementara itu, Manswar
berhasil melarikan diri ke hutan. Dengan semangat tinggi, Manarmakeri membawa
gadis cantik tersebut menuju Mananwir Sopen. Namun, sebagai gantinya, bukan
anak bungsu yang dijanjikan sebelumnya, tetapi seekor babi.
Ia menerima hadiah itu
dengan tenang sebelum menyerahkannya kepada saudarasaudaranya untuk dibakar
(barapen). Manarmakeri mengizinkan mereka untuk mengambil kayu bakar, keladi,
daun pisang, serta sayuran dari kebun miliknya, Yamnaibori.
Mereka mengadakan
barapen di hutan dekat kebun Manarmakeri. Setelah masakan siap, babi dan sayur
dibagikan kepada seluruh sanak saudara di kampung Sopen.
Harapan Manarmakeri
untuk mendapatkan daging yang baik kini menjadi siasia. Ia hanya diberikan tulang
kepala yang sudah tidak ada dagingnya. "Mengapa saudarasaudaraku sendiri
memperlakukanku begini?".
Mereka tidak menganggap
saya sebagai manusia. Saya telah membantu kepala kampung dalam menangkap putri
kasuari. Hadiah yang saya terima bukanlah anak perempuan bungsunya. Sebagai
gantinya, saya diberikan seekor babi.
Itu bukan semua yang
terjadi. Babi tersebut telah diserahkan dengan baik kepada saudarasaudaraku
untuk dimasak, bahkan kayu bakar, keladi, dan sayuran yang dimasak juga diambil
dari kebun saya.
Pada akhirnya, saya
mendapatkan bagian yang tidak layak. ” Mananarmakeri merasa sangat tidak
dihargai sebagai anggota kampung Sopen. Sebagai hasilnya, Manarmakeri
memutuskan untuk meninggalkan kampung yang sangat dicintainya.
Keeseokan harinya,
sebelum warga kampung bangun, Manarmakeri mempersiapkan perahu kecilnya. Ia
tidak melupakan dayung, konarem, dan tongkatnya. Saat perjalanan, angin dari
Wambrau bertiup kencang dan menghasilkan ombak, sehingga ia mendarat di kampung
Maundori.
Namun, ia tidak bisa
mendarat karena terdapat banyak karang. Akhirnya, ia menggunakan tongkatnya
untuk menciptakan jalur di antara karang dan berhasil menemukan tempat untuk
mendarat. Setelah angin mereda, ia melanjutkan perjalanan di sepanjang pantai.
Saat mendekati kampung Sorido, ia menangkap ikan dan membawanya ke rumah
sepupunya, Padawankan, di kampung Mokmer.
Ketika ikan tersebut
dimasak, mereka membaginya tanpa memikirkan istrinya. Istrinya bertanya
mengenai bagiannya, tetapi ternyata semua sudah habis.
Istrinya marah, dan
kemarahannya terdengar oleh Manarmakeri. Ia pun meminta izin untuk pergi ke
Meokbundi. Manarmakeri tiba di Meokbundi dan berniat melakukan aktivitas yang
disukainya, yaitu menyadap nira dari kelapa.
Ia meminta kelapa dari penduduk
Sokani, tetapi tidak ada yang memberikannya. Manarmakeri kemudian mengambil
kelapa yang bertunas dan menanamnya. Tanaman kelapa yang ia buat tumbuh dengan
luar biasa. Kelapa tersebut tumbuh besar dan dapat dimanfaatkan. Manarmakeri
hidup dengan menyadap nira dari kelapa.
Suatu hari, ia melihat
bahwa nira di pohon tersebut habis diambil seseorang. Ia bertanya kepada
orangorang di sekitarnya, tetapi tidak ada yang mengaku.
Karena itu, ia
memutuskan untuk mengintai pencuri tersebut. Pada malam pertama, ia berjaga di
bawah pohon. Namun, keesokan harinya, ia melihat bahwa nira masih dicuri. Untuk
malam kedua, ia membuat porapora di tengah pohon kelapa, lalu ia menjaga.
Namun, pencuri itu tetap datang dan mengambil nira.
Ia merasa penasaran
dari mana pencuri itu mendapatkan nira. Pada malam ketiga, karena rasa
penasaran dan kemarahan, ia naik dan bersembunyi di antara cabangcabang dan
daun kelapa. Ia berjaga sepanjang malam dengan tekun. Menjelang fajar,.
Pencuri melayang turun
ke puncak pohon kelapa. Manarmakeri berhasil menangkap pencuri tersebut, dan
segera terjadilah pertarungan yang sangat sengit. Dalam perkelahian itu,
ternyata pencuri itu adalah Makmeser atau Sampari (bintang pagi).
"Bebaskan saya, karena hari sudah hampir siang!" ujar Sampari. Namun,
Manarmakeri menolak untuk melepaskannya. "Saya tidak
akan membebaskanmu
sebelum engkau memberikan apa yang telah lama aku impikan," tegas
Manarmakeri.
Bintang itu menyebut
berbagai hal yang ada di dunia, tetapi masih ada yang belum dia sebutkan, sehingga
Manarmakeri tetap terdiam dan tidak melepaskan bintang tersebut.
"Sampaikanlah sekarang, apa yang kau inginkan," kata Sampari.
"Berikanlah kepada saya 'koreri syeben'," pinta Manarmakeri.
"Karena matahari terbit, permintaanmu akan aku kabulkan, dan kini koreri
telah kau miliki. "
Jika Insoraki, putri
panglima Rumbrak, pergi ke pantai dan mandi bersama temantemannya, dekati dia
dan petiklah buah bintanggur (buah pohon Mars) lalu lemparkan ke laut. Kamu
akan menyaksikan sesuatu yang akan terjadi pada Insoraki, itu adalah kejadian
koreri," kata Sampari. Setelah beberapa hari berlalu, ia melihat sejumlah
gadis pergi mandi di pantai. Dengan cepat, Manarmakeri pergi dan bersembunyi di
balik pohon Mars (bintanggur).
Ia mengamati satu per
satu gadis itu dan melihat seorang gadis yang paling cantik, yaitu Insoraki. Ia
memetik buah bintanggur dan melemparkannya ke laut. Buah itu hanyut dan
mengenai payudara Insoraki. Insoraki terkejut dan mengambil buah itu, kemudian
melemparkannya kembali ke darat. Peristiwa ini terjadi tiga kali berturutturut.
Setelah kejadian itu,
Insoraki merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Orang tuanya
terkejut ketika mengetahui bahwa putri mereka hamil. Mereka bertanya pada
penduduk Meokbundi, namun tidak seorang pun yang mengetahuinya. Insoraki
merenung tentang apa yang terjadi padanya, karena dia tidak pernah bergaul
dengan lakilaki.
Ketika tiba saatnya
untuk melahirkan, lahirlah seorang anak lakilaki. Karena anak itu lahir dan
diperkirakan akan membawa perubahan dan kedamaian, mereka menamainya Manarbeu
(pembawa damai). Anak itu tumbuh semakin besar dan sudah mulai bisa berbicara.
Setiap kali ia menangis, ia selalu menanyakan tentang ayahnya. Suatu hari,
mereka berkumpul dan bermufakat untuk mengadakan Wor (suatu pesta besar).
Dengan adanya pesta
itu, Manarbeu dapat menunjuk siapa ayahnya. Pada hari yang ditentukan, para
tamu sudah datang dan acara segera dimulai. Insoraki dan anaknya duduk di
barisan depan agar Manarbeu bisa menentukan siapa ayahnya.
Pada acara tersebut
para pemuda diwajibkan untuk melintas di depan Insoraki bersama anaknya. Namun,
Manerbeu tidak mengenali satu pun dari mereka. Perarakan terakhir Manarmakeri
ditujukan khusus untuk kelompok tua. Manarmakri berada di antrean bagian akhir.
Manarmakeri tampak penuh dengan kudis, membawa tongkat serta sebatang daun
untuk mengusir lalat.
Ketika ia melewati ibu
dan anak itu, Manerbeu langsung menunjuk ke arah Manarmakeri dan berkata,
"Ibu itu ayahku!" Saat anak tersebut ingin memeluk ayahnya, Insoraki
menghalanginya karena merasa jijik dengan tubuh Manarmakeri yang tertutup
kudis.
Manarbeu berhasil
melepaskan diri dari pegangan ibunya dan mendekati ayahnya. Karena Manarmakeri
dihina dan diusir oleh penduduk, mereka pun meninggalkan desa tersebut. Lalu,
Insoraki memutuskan untuk ikut dan pergi bersama Manarmakeri menuju barat.
Ketika dalam perjalanan
ke arah itu, Manarbeu tibatiba ingin bermain pasir di sebuah pulau dengan pasir
putih yang muncul secara mendadak.
Setelah puas bermain,
mereka melanjutkan pelayaran meninggalkan pulau Yapen dan berlayar menyusuri
pulau Supiori yang semakin menjauh ke arah barat. Saat perjalanan berlangsung,
tibatiba muncul sebuah pulau kecil di permukaan laut yang semakin besar.
Ternyata, pulau ini lebih besar daripada pulau yang baru saja mereka tinggalkan
dan tidak memiliki gunung.
Perahu karures milik
Manarmakeri berlayar mengikuti garis pantai pulau tersebut hingga mencapai
sebuah pulau kecil, di mana Manarbeu kembali ingin bermain pasir. Karena terus
meminta untuk bermain, perahu pun terpaksa berlabuh agar Manarbeu bisa bermain di
atas pasir.
Perjalanan dilanjutkan.
Setibanya di pulau besar, ternyata pulau itu belum dihuni oleh manusia.
Manarmakeri mengambil empat jerami yang ditancapkan di atas pasir dan mengucapkan
mantra. Setelah melafalkan mantra tersebut, keempat jerami itu berubah menjadi
empat suku asli pulau tersebut yang kemudian dikenal sebagai Pulau Numfor.
Manarmakeri memberikan
peringatan kepada mereka agar jika salah satu dari mereka meninggal, tidak
boleh ada yang menangisi, karena mereka akan dihidupkan lagi.
Jika mereka mengikuti
permintaan ini, maka mereka akan hidup dalam kedamaian dan kelimpahan. Namun,
kenyataannya mereka tidak mengindahkan apa yang dikatakan oleh Manarmakeri.
Ketika ada di antara mereka yang meninggal, mereka pun meratapi kehilangan
tersebut. Hal ini sangat mengecewakan Manarmakeri. Selain itu, ketika mereka
mengalami kekurangan makanan, mereka berlayar kembali ke pulau Yapen dan
menukarkan ikan untuk mendapatkan sagu, yang jelasjelas bertentangan dengan
perintah Manarmakeri.
Kejadian tersebut
membuatnya merasa sakit hati dan merasakan bahwa keberadaannya di wilayah itu
tidak dihargai. Dia teringat kembali tentang pengalamannya di Sopen, kemudian
di Meobundi, setelah itu di Krawi, dan akhirnya di Numfor. Manarmakeri merasa
tidak nyaman tinggal di tempat tersebut.
Ia pun memutuskan untuk
meninggalkan orangorang dan tanah kelahirannya untuk menemukan tempat yang
lebih aman dan damai. Dia berangkat menuju suatu daerah yang tenang dan
menenteramkan.
Dia memiliki rahasia
tentang kehidupan abadi yang ingin dia bagikan kepada orang lain, namun tidak
ingin dipahami, sehingga ia memilih untuk pergi. Dia berharap untuk suatu saat
kembali dengan membawa kehidupan baru yang melimpah dan penuh dengan kedamaian
abadi, seperti janji yang ditandai oleh kibaran sampari (bintang kejora).
Sebelum pergi, dia
sempat meninggalkan pesan bagi warganya agar tidak suka membunuh, tidak mencuri
milik orang lain, dan mempersiapkan rumah besar untuk menampung kekayaan yang
akan datang dari arah barat.
Setelah menyampaikan
semua pesan ini, Manarmakeri bersama istrinya, Insoraki, naik perahu untuk
meninggalkan tempat itu. Namun, anaknya, Manarbeu, terlihat sangat senang
bermain dengan pasir putih yang indah. Ketika Manarmakeri memintanya untuk naik
ke perahu, Manarbeu menolak.
Dia sangat fokus
bermain seolah pasir tersebut adalah teman sehidupnya, hingga dia enggan
meninggalkannya. Untuk mengalihkan perhatian anaknya, Manarmakeri melemparkan
sepotong kayu yang kemudian berubah menjadi ular berbisa.
Melihat ular itu,
Manarbeu menjadi takut dan segera naik ke perahu. Sejak saat itu, ular berbisa
tersebut berkembang biak di pulau Numfor dan sampai sekarang pulau itu terkenal
dengan banyaknya ular berbisa.
Sekali lagi,
Manarmakeri harus meninggalkan rakyatnya. Perahu pun segera berlayar
meninggalkan Numfor menuju ke sebelah Barat. Dia menyebrangi lautan dan selat,
menyusuri pantai di pulaupulau.
Manarmakeri sempat
berhenti di sekelompok pulau yang sekarang dikenal sebagai Raja Ampat. Setelah
tinggal beberapa lama dan menyebarkan ajarannya, ia melanjutkan perjalanannya
ke barat. Sejak keberangkatannya, hingga kini ia belum kembali.
Menurut pesan yang
ditinggalkannya, ia akan kembali di suatu waktu dengan membawa kedamaian,
kekayaan, serta makanan yang melimpah. "Saat saya kembali, sampari akan
berkibar dari ujung pulau hingga ujung lainnya di tanah ini. ".
Oleh : Ditome M
Terima kasih telah membaca. MANARMAKERI.Silakan bagikan...!

0 Komentar untuk "MANARMAKERI"