![]() |
| Ditome M |
Di suatu waktu di daerah pegunungan Bumberi, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, seorang nenek tinggal bersama anjing betina kesayangannya.
Setiap harinya, sang nenek pergi mencari makanan bersama anjingnya ke dalam hutan. Suatu hari, mereka menjelajah jauh ke dalam hutan untuk mencari makanan.
Hal ini terjadi karena di sekitar tempat tinggal
mereka tidak ada lagi makanan
yang bisa mereka bawa pulang. Setelah berjalan cukup jauh, mereka
tiba di sebuah tempat
yang dipenuhi dengan pohon merah yang berbuah
lebat, mirip dengan pohon pandan. Tanpa berpikir panjang, sang nenek segera memetik buah merah yang
matang dan memberikannya kepada
anjing yang tampak sangat
lapar.
Memang, mereka telah menempuh perjalanan jauh
dari rumah demi mencari
makanan. Anjing itu pun melahap buah itu untuk mengisi perutnya yang kosong.
Dengan tibatiba, beberapa saat setelah
memakan buah tersebut, anjing itu tampak gelisah, bergerak, dan berlarilari tanpa henti.
Sang nenek tertegun dan bingung melihat perilaku anjingnya. Ternyata, perut anjing itu semakin membesar,
dan ada sesuatu yang
bergerak di dalamnya.
Beberapa waktu kemudian, anjing itu melahirkan anak anjing
yang kecil dan lucu. Menyaksikan peristiwa itu, sang nenek juga ingin mencoba buah merah itu berharap bisa mendapatkan keturunan.
"Sungguh menakjubkan buah merah ini, mungkinkah buah ini akan memberiku keturunan seperti yang dialami oleh anjing itu?" pikir wanita
tua tersebut.
Wanita tua itu kemudian mengambil beberapa buah
merah dan mencicipinya, berharap peristiwa yang sama akan menimpanya juga.
Setelah dia menelan beberapa buah merah, tibatiba pengalaman itu terjadi juga padanya. Perutnya mulai membesar seiring waktu, dan dia merasakan sesuatu bergerak di dalamnya.
"Ohh, betapa
beruntungnya aku, sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu. Aku harus cepat pulang," kata wanita tua itu.
Seperti yang dia duga,
sesampainya di rumah, perutnya
yang semakin besar selama perjalanan mulai terasa nyeri. Tak lama kemudian, wanita tua itu melahirkan
seorang bayi lakilaki yang menggemaskan.
"Oooee. ooee," suara tangis bayi itu menggema. Bayi lakilaki tersebut dinamakan Kweiya.
Sepuluh tahun berlalu,
Kweiya telah tumbuh menjadi remaja yang
gagah.
Dia sangat rajin membantu ibunya dalam membuka
hutan menjadi ladang sayuran. Hal ini dimaksudkan agar ibunya tidak perlu lagi mencari makanan di
dalam hutan. Setiap hari, Kweiya
hanya bisa menebang satu pohon karena dia menggunakan kapak yang terbuat dari
batu.
Sedangkan ibunya, yang
sudah menua, hanya dapat membantunya dengan membakar daundaun dari pohon yang telah ditebang. Dari pembakaran tersebut, asap tebal membubung tinggi ke angkasa setiap harinya.
Tanpa diduga, asap tebal itu menarik perhatian seorang
pria tua yang sedang memancing di
sungai.
"Dari mana asal asap yang kental ini? Siapakah yang membakar hutan?" gumam pria
tua itu.
Karena rasa penasaran, pria tua itu
memberanikan diri masuk ke dalam hutan untuk
mencari tahu dari mana
asap itu berasal.
Baca Juga : manarmakeri
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, dia tiba di tempat asal asap tersebut. Dilihatnya seorang
pemuda tampan sedang menebang
pohon besar di bawah sinar matahari yang
terik.
Pria tua itu mendekati pemuda yang belum menyadari kehadirannya.
"Selamat pagi, anak muda," sapa pria tua itu. "Siapa namamu dan mengapa kamu menebang hutan di sini?" tanya pria tua
tersebut.
Pemuda itu terkejut mendengar suara tersebut. Dia kemudian menyadari keberadaan pria tua itu.
"Saya Kweiya, saya sedang membantu ibu
saya menyiapkan kebun
sayur," jawab Kweiya.
Melihat Kweiya yang menebang pohon dengan kapak
batu, pria tua itu memberikan
kapak besinya untuk digunakan oleh Kweiya.
"Ini kapak besi, agar kamu
bisa menebang pohon dengan lebih cepat," kata pria tua itu.
"Terima kasih, Pak," jawab Kweiya.
Dalam waktu singkat, Kweiya berhasil merobohkan beberapa pohon besar. Dia lalu pergi pulang, dan sesampainya di rumah, Kweiya menceritakan
hasil kerjanya kepada
ibunya. Ibunya sangat takjub.
"Apa alat yang kau pakai, nak,
sehingga bisa segera menebang pohonpohon itu?" Ibu Kweiya bertanya. Kweiya berhenti sejenak.
"Saya juga tidak tahu, Bu, tetapi tangan saya terasa sangat ringan saat memegang kapak. Jadi, saya bisa menebang pohon dengan
cepat," Kweiya menjawab, tidak ingin ibunya tahu tentang kapak logam yang diberikan oleh pria tua itu.
Setelah mendengar jawaban Kweiya, ibunya pun percaya. Sementara itu, Kweiya meminta ibunya
untuk menyiapkan banyak makanan besok. Ternyata, Kweiya berencana untuk mengundang pria tua baik hati tersebut ke rumah agar bisa makan bersama dan memperkenalkannya pada ibunya.
"Bu, besok Kweiya ingin ibu masak banyak makanan, ya?"
pinta Kweiya.
"Iya, nak," jawab sang ibu.
Keesokan harinya, sesuai permintaan anaknya, ibu Kweiya memasak banyak makanan
di rumah. Saat perjalanan pulang, Kweiya
membungkus pria tua itu dengan batang tebu dan daunnya, berencana memberi kejutan untuk ibunya.
Kweiya meletakkan bungkusan tebu itu di depan pintu rumah. Kemudian, dia masuk ke dalam rumah dan meminta ibunya untuk
mengambilkan tebu di depan rumah karena dia sangat
haus.
"Ibu. aku sangat haus, tolong ambilkan
tebu di depan pintu itu," ujar Kweiya.
Ibu Kweiya pun segera memenuhi permintaan anaknya dan berjalan untuk mengambil tebu di depan pintu. Betapa
terkejutnya dia ketika melihat ada pria tua di antara batang tebu tersebut. Dalam sekejap, ibu Kweiya berlari
ketakutan ke dalam rumah.
"Siapa pria tua itu,
nak? Mengapa dia ada di dalam bungkusan
tebu?" tanya ibu Kweiya.
"Maafkan saya, Bu," kata Kweiya. "Saya tidak berniat menakutimu, pria tua ini membantu saya menebang
pohon di hutan. Saya mohon, terimalah dia sebagai teman hidup," Kweiya melanjutkan dengan senyuman.
Ibu Kweiya terdiam, lalu mengangguk sebagai tanda menerima permintaan
anaknya. Mulai saat itu, pria tua itu tinggal bersama
mereka.
Beberapa tahun kemudian, ibu Kweiya melahirkan
dua anak lakilaki dan
seorang anak perempuan. Kweiya
selalu menganggap mereka seperti adik kandung, tetapi tidak dengan kedua saudaranya. Mereka sangat iri karena ibu selalu memberikan perhatian lebih
kepadanya.
Suatu hari, ketika orang tua mereka sedang
berkebun, kedua saudara lakilaki Kweiya memukulinya hingga terluka. Kweiya tidak ingin membalas dendam pada mereka meskipun
sangat kesal.
Untuk menghilangkan amarahnya, Kweiya pergi ke sudut pondok untuk meminta benang dari kulit binatang. Nanti, benang itu ingin dibuat sayap.
Setelah pulang dari kebun,
ibu Kweiya tidak menemukan Kweiya di rumah. Dengan cemas, ia bertanya kepada kedua anaknya yang lain.
"Di mana Kweiya, anakanak
saya?", tanya sang ibu.
"Kami tidak tahu, Ibu," jawab mereka berdua bersamaan.
Mereka berdua merasa takut untuk mengungkapkan tentang pertengkaran yang terjadi antara
mereka dengan Kweiya yang menyebabkan Kweiya meninggalkan rumah.
Akan tetapi, adik bungsu mereka
yang menyaksikan kejadian itu menceritakan pertengkaran antara mereka dan Kweiya kepada ibu mereka. Sang ibu sangat sedih dan kecewa setelah mendengar cerita itu.
Ibu tersebut pun memanggil Kweiya untuk kembali ke rumah. Namun, bukan suara
Kweiya yang menjawab, melainkan suara burung yang terdengar.
"Ek. ek. ek. ek. ", bunyi burung itu.
Ternyata suara itu muncul dari gesekan benang
yang dijahitkan Kweiya di ketiak tangannya. Kemudian, Kweiya melompat ke atap rumah dan melompat ke cabang pohon besar.
Kwiya ternyata sudah berubah menjadi burung cantik dengan bulubulu yang menawan menghiasi tubuhnya. Melihat anaknya menjadi
seekor burung, sang ibu
menangis dengan penuh kesedihan. Dalam tangisnya, ibu bertanya kepada Kweiya.
"Anakku, tidakkah engkau meninggalkan sehelai benang pun untuk ibu?",
tanya ibu Kweiya.
"Untuk ibu, aku simpan benang di payung tikar," jawab Kweiya.
Sang ibu berlari ke payung
tikar dan mencari benang yang disimpan anaknya. Benang itu terletak di
sisi kanan payung
tikar, dan kemudian ibu mulai menjahitkan benang itu ke ketiak tangannya. Setelah itu, sang ibu pun berubah menjadi burung dan mengikuti anaknya
ke cabang pohon besar.
"Wong. wong. wong. ! Ko. ko. kok. ! Wong. wik!, kedua burung itu bersiul satu sama lain.
Dua adiknya yang
menyaksikan semua itu hanya bisa pasrah ditinggalkan oleh ibu dan kakaknya. Mereka berlari masuk ke dalam rumah berseteru dan saling menyalahkan.
Mereka saling melempar abu
tungku, dan seketika
wajah serta tubuh
mereka berubah menjadi merah, hitam, dan abuabu. Lalu, mereka berlari menuju hutan mengejar kakak dan ibu mereka.
Oleh :Ditome M
Terima kasih telah membaca. Awal Mula Burung Cendrawasi .Silakan bagikan...!

0 Komentar untuk "Awal Mula Burung Cendrawasi "