Temuan Ukiran Suku Aborigin Di Papua
![]() |
| Foto : Batu Ukiran Suku Aborigin Di Papua |
Teluk Berau, yang terletak di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, memiliki lokasi-lokasi dengan lukisan tebing prasejarah yang dilindungi oleh Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 mengenai Cagar Budaya.
Di sini, kita bisa menemukan beragam motif dari
lukisan kuno, salah satunya adalah motif bumerang, yang merupakan senjata khas
dari Suku Aborigin, masyarakat asli Australia.
Sekitar 65. 000 sampai 37. 000 tahun silam, tingkat
ketinggian permukaan laut yang memisahkan Papua dan Australia jauh lebih rendah
dibandingkan saat ini. Keadaan perairan yang dangkal ini memungkinkan manusia
dari benua Australia untuk berpindah ke Papua atau sebaliknya.
Kekhawatiran muncul terkait pembangunan Proyek
Strategis Nasional berupa kawasan industri pupuk di Fakfak, yang bisa mengancam
keberadaan situs-situs arkeologi warisan prasejarah.
Bumerang dikenal sebagai alat tradisional bagi Suku
Aborigin, penduduk asli Benua Australia. Namun, lukisan kuno yang menampilkan
bumerang dapat ditemukan di Papua, khususnya di tebing karst di lokasi-lokasi
arkeologis di Teluk Berau, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat. Fakta
menariknya, suku-suku di Papua tidak dikenal menggunakan bumerang sebagai
senjata.
Selama ini, flora dan fauna antara Papua dan
Australia memiliki banyak kesamaan. Hal ini juga terlihat dalam budaya nenek
moyang orang Papua dan nenek moyang penduduk asli Australia. Para peneliti
banyak mengemukakan bahwa hubungan tersebut mungkin terjalin di masa lalu
karena adanya daratan yang disebut Paparan Sahul, yang menghubungkan bagian
utara Australia dengan Pulau Papua dan Kepulauan Aru.
Baca Juga : Peme Kab Nabire Sangat Berperan penting dalam Menjaga Hutan Mangrove
Selain lukisan dengan motif bumerang, beragam motif lukisan prasejarah lainnya juga dapat ditemukan pada tebing atau dinding karst yang mengelilingi Teluk Berau, Fakfak. Motif lukisan kuno tersebut meliputi bulatan merah, telapak tangan, lengan, bumerang, bentuk geometris, matutuo, garis-garis, tameng, kadal, ikan, lengkungan, lingkaran, sisir, dan bulan sabit, serta berbagai gambar lain yang masih belum dapat di identifikasi.
Belum lama ini, pada tanggal 24 November 2023,
Presiden Joko Widodo mengadakan acara peletakan batu pertama untuk Proyek
Strategis Nasional [PSN] di Distrik Arguni, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua
Barat. Proyek ini dinamakan Kawasan Industri Pupuk Fakfak, yang menjadi yang
pertama di kawasan timur Indonesia.
Kawasan Industri Pupuk Fakfak dibangun di atas lahan
seluas 2. 000 hektar dengan proyeksi investasi sekitar 30 triliun Rupiah, dan
ditargetkan rampung pada tahun 2028. Kapasitas produksi di rencanakan untuk
ammonia mencapai 2. 500 metrik ton per hari [MTPD] dan urea sebesar 3. 500
MTPD. Pabrik pupuk di Kabupaten Fakfak ini akan mendukung pengembangan food
estate yang sebelumnya sudah dilaksanakan di Papua Selatan.
“Kita juga memiliki rencana besar untuk
mengembangkan food estate, lumbung pangan di Provinsi Papua yang diharapkan
dapat dimulai pada awal tahun depan. Jika proses tersebut tidak di dukung oleh
industri pupuk, maka akan menjadi tantangan. Ini adalah rencana besar yang saling
mendukung, dan Tanah Papua akan semakin sejahtera,” ujar Presiden Jokowi.
Namun, keberadaan Proyek Strategis Nasional dianggap
dapat mengancam eksistensi situs-situs arkeologi yang berasal dari masa
prasejarah. Hari Suroto, seorang peneliti di Pusat Riset Arkeologi Lingkungan
BRIN, menjelaskan bahwa AMDAL yang dilakukan sebelum proyek dimulai tidak hanya
mencakup sumber daya alam, tetapi juga melibatkan aspek sosial, budaya,
ekonomi, serta teknik di wilayah Teluk Berau, Kabupaten Fakfak.
“Proyek pembangunan pabrik pupuk di Distrik Arguni
perlu mempertimbangkan situs-situs arkeologi di sekitar Teluk Berau, sebab
situs-situs lukisan tebing yang berasal dari prasejarah ini di lindungi oleh
Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 mengenai Cagar Budaya,” ungkap Hari Suroto
kepada Mongabay Indonesia, awal Desember 2023.
Menurutnya, Teluk Berau telah lama dikenal sebagai
lokasi yang memiliki lukisan tebing dari zaman prasejarah. Dari Distrik Kokas
hingga Kampung Goras, dengan jarak sekitar 30 kilometer, terdapat banyak
lukisan tebing prasejarah yang menghiasi dinding-dinding karst di sepanjang
pantai dan pulau-pulau kecil. Dua situs lukisan tebing prasejarah terletak
dekat dengan Kokas dan Kampung Sekar.
Di sisi lain, dari Pulau Ugar sampai Arguni, gambar
cadas atau lukisan dinding dapat ditemukan di berbagai sudut wilayah pesisir.
bukan hanya di dua pulau yang berukuran menengah tersebut, tetapi juga di
pulau-pulau kecil lain yang terdapat lukisan tebing prasejarah.
“Diperlukan pemetaan serta zonasi untuk kawasan situs
prasejarah yang harus dilindungi, di mana tidak boleh ada aktivitas selain
untuk tujuan penelitian dan konservasi di area tersebut,” ujar Hari.
Lukisan kuno yang berbentuk bumerang terletak di Kampung Andamata, dalam Distrik Arguni, tepatnya di Situs Tapuraramo. Menurut Hari, gambar berdesain bumerang ini mencerminkan migrasi maritim antara Pulau Nugini dan Australia serta menunjukkan adanya perjalanan dari Papua menuju Australia atau sebaliknya. Pada masa itu, manusia prasejarah sering berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya dalam jarak yang dekat.
Sekitar 65. 000 sampai 37. 000 tahun yang lalu,
level permukaan laut antara Papua dan Australia jauh lebih rendah dibandingkan
saat ini. Keadaan perairan yang cetek tersebut memungkinkan manusia dari Australia
untuk berpindah ke Papua atau sebaliknya.
"Namun, usia pasti lukisan bumerang dan cap
tangan di dinding tebing masih belum dapat dipastikan, karena penelitian
menggunakan metode carbon dating belum dilakukan. Di Australia, gambar bumerang
tertua yang ditemukan berusia 25. 000 tahun dan berasal dari situs arkeologi
Arnhem Land, Northern Territory," tambahnya.
Dijelaskan lebih lanjut, secara keseluruhan, semua
artefak arkeologi yang ditemukan di Kabupaten Fakfak memiliki nilai budaya yang
sangat tinggi. Selama periode prasejarah, masyarakat yang tinggal di Fakfak
telah mengembangkan bentuk seni yang sangat menakjubkan.
Hal ini dapat dibuktikan oleh banyaknya gambar atau
lukisan yang ada di setiap dinding batu karang pada pulau-pulau kecil yang
terletak di Teluk Berau. Sementara itu, untuk masyarakat Eropa, wilayah Teluk
Berau sebelumnya dikenal dengan sebutan Teluk Mac Cluer, yang diakui sebagai
situs prasejarah pada tahun 1940, saat J. Roder, seorang peneliti dari
Universitas Frankfurt, Jerman, mempublikasikan hasil penelitiannya berjudul
“Ergebnisse einer Probegrabung in der Hohle Dudumunir aug Arguni, Mac Cluer
Gulf”.
“Roder menyatakan bahwa lukisan berwarna merah
diciptakan oleh manusia pada era mesolitik, yaitu periode saat berburu hewan
dan mencari makanan serta berpindah tempat tinggal,” tegas Hari.
Oleh :
Ditome M
