![]() |
| Ditome M |
Dahulu, terdapat sepasang suami istri yang tinggal di Wawiyai, Raja Ampat. Setiap pagi, mereka memiliki kebiasaan untuk pergi berburu makanan.
Ketika
sedang mencari makanan di tengah hutan, mereka menemukan enam buah telur besar
yang memiliki bentuk tidak biasa. Istrinya berkata, "Lihat apa yang
kutemukan," suaminya menjawab, "Hmm. apa ini?" "Sepertinya
telur," kata istrinya. "Ya, mungkin ini telur Naga," ucap
suaminya. "Bisakah kita membawa telur ini pulang?" tanya istrinya.
"Tentu saja bisa. Kita akan memakannya nanti di rumah," balas
suaminya. Mereka berdua lantas memasukkan telurtelur itu ke dalam tas.
Telurtelur itu mereka bawa pulang untuk dimasak.
Setibanya
di rumah, wanita itu segera mulai menyiapkan bumbu masak telur, dengan bantuan
suaminya.
Saat
mereka sedang menyiapkan bumbu, tibatiba mereka mendengar suara dari ruang
depan. "Istriku, apakah kau mendengar suara di meja itu?" tanya sang
suami. "Oh. iya, aku mendengarnya," jawab istrinya. "Coba
periksa dulu," kata suaminya.
Ketika
suaminya mencari tahu sumber suara tersebut, ia sangat terkejut melihat bahwa
lima telur telah menetas, menampakkan empat bayi lakilaki dan satu bayi
perempuan, sementara satu telur lainnya sudah mengeras seperti batu.
Baca Juga : awal-mula-burung-cendrawasi
“Hah,
telur ini menetas menjadi manusia! Istriku, lihat sini,” seru suaminya. “Ya,
tunggu sebentar,” balas sang istri sambil mendekat. “Ada apa, suamiku? Kenapa
kamu teriak?” “Lihatlah, istriku,” kata sang pria sambil tertawa.
Sang
istri kemudian menghampiri dan menggendong setiap bayi satu per satu.
Bayibayi
tersebut keluar dari telur dengan pakaian berwarna putih yang lembut seperti
sutra.
Hal
ini menunjukkan bahwa mereka adalah keturunan para raja surga. “Wah, bayibayi
lucu! Kalian adalah keturunan rajaraja surga. Aku akan merawat kalian dengan
baik. ”
Akhirnya,
pasangan suami istri itu membesarkan kelima anak mereka hingga dewasa. Setelah
tumbuh besar, keempat putra mereka menjadi raja di Pulau Waigeo, Pulau Misool,
Pulau Salawati, dan Pulau Batanta, sementara putri mereka, karena satu alasan,
diasingkan di Pulau Numfor dan memiliki keturunan di sana.
Sementara
itu, telur yang mengeras menjadi batu kini dikenal sebagai Kapatnai. Telur tersebut
dihormati seperti raja oleh masyarakat sekitar.
Batu
yang dihasilkan dari telur tersebut bahkan disediakan tempat pemujaan,
dilengkapi dengan dua batu yang berfungsi sebagai penjaga di sisi pintu masuk.
Setiap
tahun, batu tersebut dicuci dan sisa air dari telur itu juga ditaburkan sebagai
ritual bagi suku kawe.
Batu
itu tidak dapat terlihat setiap saat, hanya setahun sekali saat perayaan
pemandian. Karena masyarakat menghormati keberadaan telur batu tersebut, mereka
mendirikan rumah di tepi sungai Waikeo dan tempat itu hingga sekarang masih
menjadi objek pemujaan bagi penduduk setempat.
Oleh : Ditome M
Terima kasih telah membaca. EMPAT RAJA.Silakan bagikan...!

0 Komentar untuk "EMPAT RAJA"